Dua hari kemudian, tanggal 14 Mei 2017.
Statistik komik "Eromanga-sensei" kini mencatatkan 50.000 klik kunjungan, 102.000 suara rekomendasi, serta 33.000 koleksi favorit.
Ini merupakan tren pertumbuhan yang sangat positif. Sagiri hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus ke dalam mode kerjanya, menggoreskan setiap tarikan garis digital di atas layar dengan sepenuh hati.
Sebelum memiliki perangkat sendiri, Sagiri hanya sanggup menyelesaikan tiga halaman berwarna dalam sehari. Namun setelah menggunakan komputer baru berspesifikasi tinggi miliknya sendiri, kecepatan menggambarnya meningkat menjadi empat halaman berwarna per hari.
Dengan kata lain, tanpa adanya batasan waktu peminjaman laptop dari Gabriel, ia kini secara teori sanggup memproduksi 28 halaman berwarna dalam waktu seminggu!
Meskipun begitu, Sagiri tidak berniat memaksakan diri menggambar empat halaman penuh setiap hari. Kejar target empat halaman per hari berarti dia harus menggambar selama 24 jam nonstop tanpa memiliki waktu luang sedikit pun.
Itu jelas bukan pilihan yang bijak. Bekerja sekeras itu terlalu menguras energi. Jika dia memposisikan dirinya seperti mesin yang beroperasi penuh sepanjang hari, komponen presisi di dalam tubuhnya lambat laun pasti akan mengalami kerusakan. Terlebih lagi, kondisi fisik tubuh loli barunya ini tergolong sangat lemah dan tidak akan kuat menahan beban kerja ekstrem dalam jangka panjang.
Sembari meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, Sagiri mendadak tersentak teringat satu hal: hari ini adalah hari Minggu, yang berarti besok Senin dia sudah harus kembali masuk sekolah!
"Gawat... aku harus pergi sekolah. Lalu bagaimana dengan kelanjutan komik ini?" keluh Sagiri dengan raut wajah penuh dilema.
"Bagaimana kalau... aku bolos saja untuk beberapa hari ke depan?" gumam Sagiri pada dirinya sendiri dengan nada yang kurang yakin.
Setelah menimbang-nimbang, dia tetap gagal menemukan jalan keluar yang elegan. Pada akhirnya, satu-satunya opsi yang tersisa adalah bersikap tebal muka untuk mengajukan izin cuti sakit kembali.
Mengajukan izin libur lagi di platform komik jelas merupakan hal mustahil. Jika dia berani mengambil cuti lagi, jangankan para pembaca yang akan mengirimkan paket berisi pisau silet, divisi editorial platform Dengeki King dipastikan akan menjadi pihak pertama yang mendesaknya habis-habisan.
Dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, Sagiri menekan nomor telepon guru wali kelasnya. Nada sambung terdengar mengalun merdu dari ponselnya. Durasi waktu tunggu selama lima detik saat itu terasa berjalan sangat lambat, seolah-olah dia sedang melewati waktu satu abad penuh.
Tepat pada detik keenam, suara sang guru wali kelas akhirnya terdengar dari seberang panggilan.
"Halo, apakah ini Sagiri? Bagaimana kondisi kesehatanmu belakangan ini, apakah sudah membaik?"
Guru wali kelasnya bernama Tomizawa Kyoko, seorang wanita lansia berusia 61 tahun. Meskipun rambutnya belum memutih sepenuhnya, gurat kerutan yang mendalam terlihat jelas di dahinya. Dia merupakan sosok guru yang paling menaruh perhatian pada kondisi Sagiri.
Mengapa dia begitu perhatian? Faktanya, ini bukan karena efek dari bakat keimutan Sagiri, melainkan karena Sagiri asli dulu memang memiliki riwayat fisik yang lemah dan terlampau sering mengajukan izin sakit, sehingga sang guru selalu dirundung rasa cemas terhadap kondisi muridnya tersebut.
Sagiri merasakan letupan kehangatan di dadanya, lalu menyahut, "Terima kasih atas perhatiannya, Kyoko-sensei. Kondisiku saat ini sudah jauh lebih baik."
Namun begitu kalimat itu lolos dari mulutnya, Sagiri langsung menyesal. Niat awal dia menelepon adalah untuk meminta perpanjangan libur, bukan menyatakan siap masuk sekolah. Karena dia telanjur mengaku sehat, tingkat kesulitan untuk meminta izin cuti mendadak meroket ke tingkat neraka.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi beberapa hari yang lalu, kakak perempuanmu sempat memberi tahu pihak sekolah kalau kamu mendadak pingsan di kamar mandi, kurasa kamu memang masih perlu beristirahat total selama beberapa hari lagi," ujar sang guru.
"Eh, benarkah begitu?"
Di dalam kamarnya, Sagiri diam-diam mengacungkan jempol ke arah kamar Raphael.
Umpan lambung yang sangat jenius dari Kak Raphael!
Tingkat kesulitan neraka barusan seketika berubah drastis menjadi tingkat surga. Selama dia bisa memanfaatkan topik pembicaraan ini dengan taktis, proses pengajuan izin liburnya dipastikan akan berjalan mulus.
"Sagiri-chan, kamu harus lebih sering berolahraga. Kesehatan tubuh itu terletak pada aktivitas fisik. Bagaimana bisa kamu sampai jatuh pingsan hanya karena mandi di kamar mandi?"
"Itu... sebenarnya..."
Sagiri ingin menyanggah, tetapi menahannya kembali. Dia ingin menegaskan bahwa insiden pingsan itu bukan karena dia lemah, melainkan karena efek kehabisan napas akibat 'stimulasi visual' dari Raphael. Namun karena sadar bahwa semakin banyak memberi penjelasan justru akan semakin menyudutkan posisinya, dia memilih untuk bungkam.
Di seberang telepon, Tomizawa-sensei tampak mengernyitkan dahi sambil berpikir keras.
Secara objektif, kondisi fisik Izumi Sagiri memang terlampau ringkih dan sangat mudah jatuh sakit. Padahal saat ini durasi waktu menjelang ujian masuk perguruan tinggi (college entrance examination) hanya tersisa dua bulan lagi. Sebelumnya Sagiri sudah menghabiskan waktu sebulan penuh untuk mengambil cuti. Jika penundaan akademis ini terus dibiarkan, sang guru khawatir Sagiri bahkan tidak akan mampu menembus standar kelulusan untuk universitas tingkat paling bawah sekalipun.
Perlu dipahami bahwa di Wilayah Otonomi Jepang ini, model regulasi ujian masuk perguruan tinggi diselaraskan sepenuhnya dengan sistem ujian nasional bulan Juni di bawah hukum Huaxia. Para kandidat pelajar dari Wilayah Otonomi Jepang bebas mendaftarkan diri masuk ke universitas di provinsi Tiongkok mana pun melalui jalur ujian ini, begitu pula sebaliknya.
Selama satu menit penuh, suasana di seberang panggilan mendadak sunyi senyap, seolah-olah seluruh dunia baru saja ditekan tombol sunyinya—sebuah keheningan mencekam sebelum badai besar datang.
Sagiri menahan napasnya perlahan, menikmati siksaan keheningan tersebut sembari menebak-nebak apa yang sedang direncanakan oleh guru wali kelasnya.
"Sagiri-chan, jadwal ujian sudah sangat dekat, dan kamu sudah tertinggal banyak materi pelajaran. Berdasarkan regulasi standar, pihak sekolah sebenarnya dilarang memberikan izin libur yang terus-menerus. Namun mengingat situasimu tergolong khusus, baiklah, aku berikan dispensasi izin istirahat tambahan selama tiga hari lagi. Setelah kondisimu pulih total nanti, segeralah datang ke sekolah, aku pribadi yang akan memberikan sesi bimbingan belajar intensif untukmu," ujar Tomizawa-sensei dengan nada bicara yang sangat bersungguh-sungguh.
"Baik, terima kasih banyak, Guru," sahut Sagiri.
Namun, sesi telepon tidak berakhir begitu saja. Tomizawa-sensei menghabiskan waktu setengah jam berikutnya untuk menginterogasi sejauh mana pemahaman Sagiri terhadap tugas-tugas sekolahnya. Sadar bahwa pulsa telepon muridnya bisa membengkak, sang guru menyarankan untuk melanjutkan sesi bimbingan tersebut menggunakan fitur panggilan suara aplikasi QQ.
Alhasil, malam itu berubah menjadi momen penyiksaan akademis bagi Sagiri. Dia diinterogasi dan dijejali berbagai materi pelajaran oleh Tomizawa-sensei selama dua setengah jam penuh, dan baru diizinkan menutup telepon tepat pada pukul sepuluh malam.
"Beristirahatlah yang cukup, Sagiri-chan. Besok malam Guru akan kembali menghubungimu lewat telepon untuk melanjutkan sesi bimbingan belajar kita," pamit Tomizawa-sensei dengan nada keibuan yang penuh perhatian sebelum menutup panggilan.
Mendengar kalimat penutup itu, tubuh Sagiri seketika membeku kaku.
Setelah panggilan suara QQ resmi diputus, Sagiri hanya bisa duduk termenung sendirian di atas kasur dengan tatapan kosong. Melalui insiden ini, dia baru menyadari betapa gigih dan merepotkannya watak dari Tomizawa-sensei jika sudah menyangkut urusan nilai akademis muridnya.
"Sistem, kamu di sana?" tanya Sagiri lesu.
Iya, Host! Saya di sini! Suara sistem langsung menyahut dengan penuh semangat. Karena merasa sudah diabaikan selama beberapa hari terakhir, panggilan mendadak dari Sagiri ini membuatnya bersemangat layaknya seekor anjing Husky yang kegirangan.
"Bisakah kamu mengumpulkan seluruh rangkuman materi pengetahuan yang dibutuhkan untuk ujian nasional di dunia ini, lalu langsung memasukkannya ke dalam ingatanku?" tanya Sagiri penuh harap.
Ehem, melakukan kecurangan akademis merupakan tindakan yang kurang terpuji... sahut sistem sok bijak.
"Hah?" Sagiri mengernyitkan alisnya yang indah, memperlihatkan gestur wajah imut yang sedang menahan jengkel.
Melihat reaksi tersebut, pemimpin sistem langsung berkeringat dingin dan buru-buru meralat kalimatnya, Maaf, Host! Kapasitas database sistem ini murni didedikasikan untuk subkultur animasi dan komik saja. Berkas rangkuman materi ujian nasional tidak termasuk di dalam ruang lingkup data kami.
Namun jika menyangkut materi novel, musik, atau pengetahuan sejenis yang memiliki korelasi dengan industri komik, sistem masih bisa memprosesnya. Mengingat industri budaya Wilayah Otonomi Jepang ini berkembang pesat, sebuah karya komik populer biasanya akan ikut menggerakkan roda ekonomi untuk sektor adaptasi animasi, novel ringan (*light novel*), hingga industri musik pengiringnya, tambah sistem buru-buru memberikan penjelasan.
Sebuah mahakarya manga memang biasanya akan melahirkan berbagai karya turunan seperti novel fiksi penggemar (fanfiction), adaptasi serial anime, hingga lagu tema resmi (soundtrack). Dari sudut pandang logika ini, penjelasan sistem tidak bisa disalahkan.
Meskipun begitu, fungsi pemimpin sistem tetap bisa dimanfaatkan. Selama Host bersedia membaca buku pelajaran tersebut secara manual, sistem sanggup merekam setiap baris datanya ke dalam ingatan fotografis Anda agar tidak akan pernah terlupakan selamanya, tambah sistem memberikan solusi alternatif.
Mendengar hal itu, raut wajah Sagiri mulai sedikit melunak.
Selama ada cara untuk memotong kompas proses belajar, dia setidaknya tidak perlu menderita melewati siksaan metode belajar konvensional yang menguras otak.
Setelah mengamankan solusi untuk urusan ujian sekolah, fokus Sagiri kembali beralih sepenuhnya ke dalam pengerjaan kelanjutan komiknya.
Sagiri kini memiliki sisa waktu libur selama tiga hari untuk menggambar. Karena waktu malam harinya akan tersita penuh oleh sesi bimbingan belajar lewat panggilan telepon, dia memperkirakan hanya sanggup memproduksi maksimal sembilan halaman berwarna saja. Ditambah dengan tabungan delapan halaman berwarna yang berhasil dia selesaikan dalam dua hari terakhir, total draf yang dia pegang baru menyentuh angka tujuh belas halaman.
Padahal, target panjang draf untuk Bab Kedua komiknya adalah 25 halaman penuh. Berdasarkan ritme pengerjaan halaman berwarna yang padat, durasi waktu tiga hari jelas tidak akan mengejar target tenggat waktu perilisan. Alhasil, sebuah ide malas mendadak terlintas di dalam kepala Sagiri: Bagaimana jika sisa halamannya digambar menggunakan format komik hitam-putih tradisional saja?
Pemimpin sistem yang bisa membaca isi pikiran tersebut hanya bisa berdoa dalam hati demi keselamatan mental para pembaca setianya di luar sana.
------------------------------
Tiga hari kemudian, tanggal 17 Mei 2017.
Pada platform aplikasi resmi situs web Dengeki King, komik "Eromanga-sensei" mendadak merilis pembaruan untuk Bab Kedua!
"Wah, akun Ocean-sensei akhirnya merilis bab baru!"
"Buka peti matanya sekarang! Sagiri-chan, aku datang memburumu!"
"Kualitas visual goresannya sama sekali tidak menurun! Karakteristik estetikanya terasa jauh lebih halus dibandingkan komik kompetitor sebelah, faksi pembaca setia resmi mengamankan posisi!"
Seluruh barisan pembaca otaku seketika bersorak kegirangan. Begitu selesai membaca lembar halaman pertama, mereka langsung membanjiri kolom komentar "Eromanga-sensei" untuk melayangkan berbagai pujian atas pembaruan kilat tersebut.
Namun, kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah membalik lembaran halaman lebih jauh ke belakang, mereka mendadak menyadari bahwa mereka tampaknya telah merayakan pembaruan ini terlalu dini.
Bagaimana tidak? Komik tersebut menyajikan format halaman berwarna (color manga) penuh hanya pada delapan halaman pertama saja, sedangkan sisa tujuh belas halaman berikutnya disajikan menggunakan format komik hitam-putih tradisional (black and white manga)! Kejutan macam apa ini?!
