Malam menyelimuti distrik elite H2700.
Mansion keluarga Everyn berdiri megah di atas bukit rendah, dikelilingi taman luas dan pagar energi transparan. Cahaya lampu kristal memantul di dinding marmer putih, memberi kesan hangat yang kontras dengan dinginnya udara malam.
Storm berdiri di depan gerbang.
"Sampai jumpa, kak Rem" ucap Arabels pelan.
Storm mengangguk.
"Hubungi aku kalau ada apa pun."
Arabels menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah ingin mengatakan sesuatu—namun akhirnya hanya tersenyum.
"Satu bulan," katanya lembut.
Storm membalas dengan senyum tipis.
"Satu bulan."
Gerbang energi terbuka. Arabels berjalan masuk ke halaman mansion, lalu menghilang di balik pintu utama.
Storm menunggu sampai pintu itu benar-benar tertutup.
Barulah ia berbalik.
Dan udara berubah.
Suhu turun drastis.
Embun membeku di permukaan jalan batu. Nafas Storm terlihat jelas di udara malam.
Velora berbisik dalam benaknya.
"Ia sudah memutuskan untuk muncul."
Storm mendongak.
Langit yang semula bersih kini dipenuhi cahaya biru pucat.
Satu per satu, lingkaran es terbentuk di udara—seperti portal kecil yang memuntahkan benda-benda mekanis.
Ratusan robot-robot es melayang diam di atas kawasan mansion. Tubuh mereka terbentuk dari kristal beku transparan dengan inti energi biru di tengah dada. Sayap mekanis tipis dari partikel es bergetar, menjaga mereka tetap melayang.
Mereka membentuk lingkaran raksasa.
Storm berdiri di tengah jalan, sendirian.
Di atas sana, udara berputar.
Dari pusaran kristal yang lebih besar, satu sosok turun perlahan.
Armor es biru transparan menyelimuti tubuhnya sepenuhnya, memantulkan cahaya bulan. Jubah kristal tipis menjuntai di belakangnya, membentuk kabut beku setiap kali ia bergerak.
Lgris, Matanya setenang dan sedingin danau beku.
"Jadi kau memang ada di sini," ucapnya, suaranya bergema ringan di udara dingin.
Storm tidak langsung menjawab.
Ia memastikan satu hal terlebih dahulu—
Robot-robot es itu membentuk perimeter luas, namun tidak mendekati mansion. Jarak mereka terhitung presisi.
Lgris tidak ingin menyerang rumah itu.
Ia ingin Storm keluar dari sana.
"Ini bukan tempat untuk duel," kata Storm tenang.
Lgris menatap ke arah mansion sekilas.
"Aku tahu."
Ia mengangkat tangan sedikit.
Robot-robot es bergerak naik lebih tinggi, menjauh dari bangunan dan membentuk arena di atas jalan kosong menuju bukit.
"Jangan paksa aku menyeretmu ke langit," lanjut Lgris.
"Aku tidak datang untuk menghancurkan kota."
Storm memasukkan tangannya ke saku jaket.
"Lalu untuk apa?"
Lgris menatapnya lurus.
"Aku diperintah untuk membunuhmu."
Hening sejenak.
Butiran es kecil mulai turun seperti hujan ringan.
Storm menghela napas pelan.
"Kau sepertinya salah orang."
Lgris tidak marah. Tidak terpancing.
Sebaliknya, kristal es di sekelilingnya bergetar halus.
"Jika aku salah," katanya tenang, "kau bisa membuktikannya."
Seketika—
Seratus robot es menukik turun bersamaan.
Storm melompat ke belakang, tanah di bawahnya membeku dan retak saat proyektil es menghantam.
Ledakan kristal memecah malam.
Storm mendarat di atap bangunan kosong di sisi jalan.
Robot-robot itu mengitari, membentuk formasi spiral.
Velora berbicara pelan.
"Dia mengujimu. Kekuatannya belum serius."
Storm mengangkat tangan.
Gravitasi di sekitarnya sedikit berubah. Robot-robot yang mendekat tiba-tiba terseret ke pusat tekanan tak terlihat, saling bertabrakan sebelum membeku kembali di udara.
Lgris menyipitkan mata.
"Manipulasi gravitasi…"
Armor es di tubuhnya menebal.
"Energi itu tidak cocok dengan fisiologi manusia biasa."
Storm berdiri tegak di atap, angin dingin menerpa rambutnya.
"Armor es yang bisa menciptakan pasukan terbang?" balasnya tenang.
"Itu juga tidak biasa."
Lgris tidak tersenyum.
Langit di atas mereka berubah.
Ratusan robot es menyatu, membentuk struktur kristal raksasa—seperti tombak beku yang mengarah langsung pada Storm.
"Jika ada entitas asing di dalam dirimu," ucap Lgris,
"Aku akan membekukannya bersama tubuh inangnya."
Tekanan suhu turun drastis.
Jalanan mulai tertutup lapisan es tipis.
Storm mengepalkan tangan perlahan.
Ia tidak ingin pertarungan ini terjadi dekat mansion Arabels.
Ia tidak ingin gelombang energi menarik perhatian APH sepenuhnya.
Namun Lgris sudah menyerang.
"Kalau begitu," gumam Storm pelan.
Gravitasi di sekelilingnya bergetar lebih kuat.
Mata Lgris memantulkan cahaya aneh saat ia menyadari satu hal—
Energi di dalam tubuh Storm bukan sekadar sisa retakan dimensi.
Tombak es raksasa meluncur turun dari langit.
Storm tidak menghindar.
Di belakangnya, ruang realitas sedikit melengkung.
