Cherreads

Chapter 367 - Ice Emperor

Dimensi es tak berujung itu membentang tanpa batas.

Angin membeku menari di antara gunung kristal, membawa suhu yang cukup untuk membekukan baja dalam hitungan detik.

Di tengah dunia milik Lgris—

Storm berdiri diam.

Scarlet Skycrimson masih menyala redup di tubuhnya, memancarkan aura merah yang kontras dengan putihnya dunia es.

Lgris mengangkat tangannya sedikit.

"Tahanlah selama yang kau bisa," ucapnya dingin.

"Di sini, es adalah mutlak."

Ribuan tombak kristal kembali muncul dari tanah, menyelimuti langit seperti hujan terbalik.

Namun—

Storm justru menghembuskan napas panjang.

Lalu…

Cahaya merah di tubuhnya padam.

Armor Scarlet Skycrimson terurai menjadi partikel cahaya, menghilang perlahan dari tubuhnya.

Lgris mengernyit.

"Apa kau kehabisan energi?"

Storm berdiri tanpa armor.

Tanpa aura kehancuran.

Tanpa tekanan ruang.

Hanya dirinya.

"Kalau ini dunia es…" ucap Storm pelan,

"Maka aku tidak perlu membawa api."

Suhu di sekitarnya mendadak berubah.

Bukan menghangat.

Namun menjadi… seimbang.

Angin membeku berhenti sejenak.

Storm menutup mata.

Di dalam dirinya, jauh di bawah resonansi Grivver dan bisikan Velora—

Ada kekuatan lain.

Tenang.

Agung.

Dingin.

Matanya terbuka.

Irisnya berubah menjadi biru pucat bercahaya.

Permukaan es di bawah kakinya retak—bukan karena hancur.

Namun karena tunduk.

Aura putih kebiruan menyelimuti tubuh Storm.

Tidak liar.

Tidak meledak-ledak.

Melainkan seperti keheningan musim dingin sebelum badai.

Lgris membeku dalam diam.

"Ti… tidak mungkin... ?"

Storm membuka mata kanannya perlahan.

Kristal-kristal es di udara berhenti bergerak.

Tombak-tombak Lgris yang hendak menusuknya membeku di tempat—seolah waktu mereka dihentikan.

"Jika ini Domain of Endless Frost…" Storm melangkah maju pelan,

"Maka aku akan berdiri sebagai penguasanya juga."

Energi biru meledak lembut dari tubuhnya.

Mode Ice Emperor.

Bukan sekadar manipulasi suhu.

Bukan sekadar teknik pembeku.

Melainkan otoritas.

Hak untuk memerintah es itu sendiri.

Gunung-gunung kristal di kejauhan bergetar tipis.

Lgris menurunkan tangannya perlahan.

"Mustahil… Ini wilayahku."

Storm menggerakkan jari.

Es yang sebelumnya dikendalikan Lgris kini bergetar, tak lagi sepenuhnya patuh.

Dari udara di samping Storm—

Partikel es berkumpul.

Memadat.

Memanjang.

Membentuk bilah panjang transparan dengan pola retakan biru bercahaya di sepanjang sisinya.

Sebuah pedang es agung tercipta.

Glyzier Slasher.

Ujungnya tajam seperti pecahan bintang beku.

Storm menggenggamnya dengan tenang.

Langit putih retak halus oleh resonansi dua otoritas es yang bertabrakan.

Lgris mengeraskan rahangnya.

"Berani-beraninya kau merebut hukum di dalam Domainku."

Ribuan pilar es raksasa bangkit dari tanah, jauh lebih besar dari sebelumnya—masing-masing dipenuhi energi kristal murni.

Storm mengayunkan Glyzier Slasher sekali.

Tidak cepat.

Tidak berlebihan.

Satu tebasan sederhana.

Gelombang biru meluncur lurus.

Pilar-pilar es itu terbelah rapi, membeku ulang dalam bentuk yang lebih kecil—tidak lagi tunduk sepenuhnya pada Lgris.

Angin berhenti, Seolah merasakan resistensi nyata terhadap Domain-nya sendiri.

More Chapters