Cherreads

Chapter 378 - Ujian di Bawah Langit Terjauh

Ruang penelitian astronomi X.A.R.A berada di lantai tertinggi kubah observatorium.

Langit sore perlahan berubah jingga di balik kaca lengkung raksasa. Hologram gugusan galaksi berputar pelan di tengah ruangan, memancarkan cahaya kebiruan yang tenang.

Violys Delstin berdiri di depan proyeksi inti pelipatan ruang Nexus.

Tatapannya tajam. Penuh keputusan.

"Aryes," katanya tanpa basa-basi,

"Kita tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja terjadi."

Aryes menyilangkan tangan.

"Aku tidak berniat mengabaikannya."

Violys menyentuh panel, memutar ulang data resonansi yang terekam.

Grafik frekuensi menunjukkan lonjakan halus—selaras sempurna dengan parameter teoritis yang selama ini hanya ada dalam simulasi.

"Rem bukan sekadar anomali energi," lanjut Violys.

"Tubuhnya beresonansi dengan inti pelipatan ruang. Itu bukan kebetulan. Itu kompatibilitas."

Aryes terdiam beberapa detik.

Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Violys berbalik menghadapnya langsung.

"Aku mengajukan dua nama."

"Hmm?"

"Arabels Everyn Krysren sebagai kandidat Navigator X.A.R.A."

Aryes tidak terkejut.

Arabels memang cerdas. Intuisinya terhadap lintasan dan koordinat kosmik luar biasa.

"Dan yang kedua?" tanya Aryes.

Violys menjawab mantap.

"Storm Realms sebagai bagian dari X.A.R.A."

Keheningan turun.

Di luar, matahari hampir tenggelam.

"Apa kau sadar siapa dia?" Aryes bertanya pelan.

"Aku sadar," jawab Violys tanpa ragu.

"Dan justru karena itu. Kita sedang membangun kapal yang mampu menembus antar bintang. Tapi kita tidak punya seseorang yang benar-benar memahami tekanan ruang secara naluriah."

Ia menatap grafik sekali lagi.

"Dia bukan ancaman bagi kita. Ia adalah kunci yang bahkan belum kita pahami sepenuhnya."

Aryes berjalan menuju jendela, memandangi langit yang mulai gelap.

"Menjadikannya bagian resmi X.A.R.A berarti melibatkan kita lebih dalam pada konflik APH."

Violys tersenyum tipis.

"Konflik itu akan datang cepat atau lambat. Lebih baik kita berdiri di sisi yang bisa membawa kita ke bintang."

Aryes terdiam lama.

Akhirnya ia menghela napas pelan.

"Baiklah, Aku setuju."

Violys mengangkat alis sedikit, tak menyangka keputusan secepat itu.

"Tapi ada syaratnya," lanjut Aryes.

Tak lama kemudian—

Storm dan Arabels dipanggil ke ruang observatorium terbuka.

Langit malam telah turun sepenuhnya.

Kubah kaca perlahan terbuka, memperlihatkan hamparan bintang yang bersinar di atas H2700.

Arabels menatap ke atas dengan mata berbinar.

"Indah sekali…"

Violys berdiri di samping Aryes.

Aryes melangkah maju.

"Arabels. Tuan Rem."

Keduanya menoleh.

"Aku menerima pengajuan Dr. Violys. Namun X.A.R.A tidak memilih anggota berdasarkan potensi saja."

Storm menyipitkan mata sedikit.

"Jadi apa maumu?"

Aryes menunjuk ke langit malam.

"Temukan bintang terjauh yang bisa kalian identifikasi malam ini."

Arabels terdiam sesaat.

"Terjauh…?"

"Bukan yang paling terang," lanjut Aryes.

"Bukan yang paling mudah dikenali. Tapi yang benar-benar berada di batas pengamatan. Gunakan mata kalian. Gunakan intuisi kalian."

Violys menambahkan,

"Navigator bukan sekadar membaca data. Ia harus mampu merasakan arah semesta."

Arabels mengepalkan tangan kecilnya.

"Aku akan melakukannya!"

Wajahnya penuh semangat.

Storm menatap langit gelap itu.

Ia bisa merasakan fluktuasi kosmik yang jauh lebih luas dari sekadar cahaya bintang.

Namun ia tidak suka diuji seperti ini.

"Aku bukan astronom," katanya datar.

"Itu benar," jawab Aryes tenang.

"Kau sesuatu yang lain. Dan itu yang ingin kami lihat."

Storm menoleh pada Arabels.

Gadis itu tersenyum padanya.

"Ini seperti latihan sebelum aku benar-benar jadi Navigator," katanya pelan.

"Ayo lakukan bersama-sama."

Storm terdiam.

Ia sebenarnya ingin menolak.

Semakin dalam ia terlibat dengan X.A.R.A, semakin besar kemungkinan keberadaannya tersorot APH.

Namun melihat cahaya di mata Arabels—

Ia tak sanggup berkata tidak.

"…Baiklah," jawabnya akhirnya.

Violys tersenyum puas.

Aryes mengaktifkan mode minimal cahaya di observatorium. Lampu meredup, memberi ruang bagi bintang-bintang untuk bersinar lebih jelas.

Arabels mulai menunjuk beberapa gugusan, menyebutkan nama dan jaraknya dengan cepat.

"Itu Altair. Itu Deneb. Yang itu Vega…"

Storm berdiri diam di sampingnya.

Ia tidak menyebut nama.

Ia merasakan.

Di balik cahaya yang tampak—

Ada denyut ruang yang lebih dalam.

Jauh di sana.

Sangat jauh.

Satu titik kecil redup yang hampir tak terlihat.

Bukan paling terang.

Bukan paling indah.

Namun paling sunyi.

Storm mengangkat tangan perlahan, menunjuk satu titik di sisi barat laut langit.

"Yang itu."

Arabels mengikuti arah jarinya.

"Itu? Tapi… itu hampir tidak terlihat."

Violys segera memanggil data pemindaian.

Beberapa detik kemudian, layar menampilkan informasi.

Aryes membaca pelan.

"Bintang kelas biru redup… jarak estimasi… salah satu objek terjauh yang masih bisa terdeteksi dari H2700."

Arabels menatap Storm dengan takjub.

"Kamu tahu sayang?"

Storm menggeleng kecil.

"Aku hanya… merasakannya."

Aryes tersenyum tipis.

"Navigator memilih arah dengan pikiran. Penjelajah memilih arah dengan insting."

Ia menatap keduanya.

"Ujian belum selesai. Besok malam, kalian akan melakukan hal yang sama tanpa bantuan sistem pemindaian."

Arabels mengangguk penuh semangat.

Storm hanya menghela napas pelan.

More Chapters