Risveyland kini adalah kerajaan sunyi berlapis kristal.
Tiang-tiang es menjulang seperti reruntuhan istana kuno. Tanah membeku hingga ke cakrawala, memantulkan cahaya bulan dalam kilau biru pucat.
Namun naga berkepala lima itu belum menyerah.
Dengan hentakan dahsyat, ia memecahkan sebagian es yang mengikat kakinya. Retakan menyebar, serpihan kristal beterbangan.
Sayap raksasanya mengepak kuat.
Ia terbang.
Udara beku bergetar oleh tekanan angin dan listrik. Petir kembali mengalir deras di sepanjang tubuhnya, lebih liar, lebih terang.
Kelima kepalanya mengarah pada satu titik—
Storm.
Di daratan beku, Storm berdiri tenang. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin dingin. Mata birunya bersinar redup seperti inti gletser purba.
Naga itu meraung.
Langit merespons.
Awan beku yang sebelumnya membatu kini retak oleh energi listrik yang dipaksakan menembusnya. Di atas kepala Storm, pusaran cahaya putih terbentuk—bukan sekadar sambaran, tapi satu pilar petir raksasa yang berputar seperti tombak surgawi.
Arabels menatap layar dengan napas tercekat.
"Energi terkonsentrasi… itu lebih padat dari sebelumnya!"
Zero menggenggam kendali kemudi.
"Dia mengorbankan stabilitas cuacanya sendiri demi satu serangan."
Petir raksasa itu jatuh.
Langit seakan robek oleh cahaya.
Tanah es memantulkan kilatannya, membuat seluruh Risveyland menyala putih.
Storm tidak bergerak.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Udara di sekelilingnya langsung membeku lebih dalam—bukan sekadar dingin, tapi hampa panas.
"Petir," gumamnya pelan, "Adalah panas yang berlari terlalu cepat."
Ia menjentikkan jarinya.
Waktu seolah melambat sesaat.
Pilar petir itu menyentuh radius kekuasaannya—
Dan berhenti.
Cahaya yang tadi membara mulai meredup, berubah warna dari putih menyilaukan menjadi biru… lalu transparan.
Arus listrik yang mengamuk berubah menjadi jalur kristal bercabang, membeku di udara seperti akar pohon es yang menggantung dari langit.
Naga itu membelalakkan kelima matanya.
Petir raksasa miliknya—
Membeku.
Storm menurunkan tangannya perlahan.
"Di hadapan es yang absolut… bahkan cahaya pun membeku."
Dengan gerakan kecil jari telunjuknya—
Retakan muncul di sepanjang pilar petir beku itu.
Lalu—
Hancur.
Kristal-kristal listrik pecah menjadi serpihan cahaya yang jatuh seperti hujan bintang beku, berkilauan sebelum lenyap menyentuh tanah.
Langit kembali gelap.
Hanya tersisa kabut dingin yang berputar pelan.
