Di pusat pemerintahan Aksrega United—
Sebuah gedung tinggi menjulang di tengah distrik administratif kota Nirvana. Bangunan itu berbeda dari markas militer atau organisasi pahlawan.
Tidak banyak simbol kekuatan.
Namun seluruh keputusan penting dunia sering lahir dari tempat ini.
Di salah satu ruang kerja yang luas—
Seorang pria berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap ke kota.
Tangannya terlipat di belakang punggung.
Tatapannya tajam dan penuh perhitungan.
Kael Barrenheart.
Presiden Aksrega United yang bertanggung jawab dalam pengawasan ancaman luar biasa bagi bumi.
Di meja kerjanya—
Beberapa layar hologram menampilkan data yang sangat sensitif.
Profil energi.
Riwayat pertarungan.
Analisis dimensi.
Semua data itu memiliki satu nama yang sama: Storm Realms.
Kael menatap laporan tersebut dengan wajah serius.
"Storm Realms…"
Ia mengucapkan nama itu pelan.
Kael menghela napas pelan.
"Masalahnya bukan Storm itu sendiri."
Ia memperbesar salah satu grafik energi.
Garis grafik itu menunjukkan aktivitas energi yang jauh di atas batas normal manusia.
"Masalahnya adalah entitas di dalam dirinya."
Beberapa data lain muncul di layar.
Nama yang sangat jarang disebut dalam laporan publik: Grivver, Entitas kosmik yang berada di dalam tubuh Storm.
Kael tahu satu hal yang sangat jelas.
Jika entitas itu benar-benar keluar—
Bukan hanya bumi yang terancam.
Bahkan planet lain bisa ikut hancur.
Ia menutup salah satu layar dengan gerakan tangan.
"Aku tidak memiliki masalah pribadi dengan Storm."
Kael memang tidak pernah memiliki riwayat permusuhan dengan pemuda itu.
Storm bahkan sering menyelamatkan dunia dari ancaman besar.
Namun bagi Kael—
Masalah ini bukan tentang siapa yang benar atau salah.
Ini tentang risiko.
Dan risiko yang dibawa oleh Storm terlalu besar untuk diabaikan.
Ia kembali menatap kota dari balik jendela.
"Selama entitas itu masih ada…"
"Ancaman itu belum tiba."
Namun Kael tahu kenyataan yang lebih rumit.
Semakin sering Storm menggunakan kekuatan luar biasa—
Semakin besar kemungkinan entitas itu bangkit.
Ia menyilangkan tangannya di dada.
"Karena itu…"
Tatapannya kembali ke layar.
"Aku harus menangkapnya."
Bukan untuk balas dendam.
Bukan karena kebencian.
Namun karena satu alasan sederhana yaitu keselamatan bumi.
