Segalanya menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara pertarungan. Tidak ada lagi tekanan dimensi. Yang tersisa hanyalah — kegelapan dan luas yang tak berbatas.
Storm membuka matanya. Namun yang ia lihat — bukan Risveyland. Bukan Dooms. Bukan siapa pun. Melainkan — sebuah alam semesta. Bintang-bintang tersebar luas. Galaksi berputar perlahan. Cahaya kosmik mengalir seperti arus yang tenang.
Namun — ada sesuatu yang berbeda.
Di tengah luasnya semesta itu — ada satu keberadaan. Besar. Tidak berbentuk jelas. Namun kehadirannya mendominasi segalanya. Seolah seluruh galaksi berada dalam bayangannya.
Storm berdiri diam. Matanya menatap ke arah sosok itu. "…Jadi ini…" suaranya pelan. "…alam bawah sadarku."
Sosok itu tidak bergerak. Namun terasa — ia menatap balik. Bukan dengan mata. Namun dengan keberadaan.
Lalu — sebuah suara terdengar. Dalam. Menggema. Namun familiar.
"Akhirnya kau datang."
Storm menyipitkan matanya. "…Velora."
Sosok itu tidak menjawab dengan bentuk. Namun suaranya cukup. "Kau mulai menyadari."
Galaksi di sekitarnya berputar perlahan. Namun pusat perhatian tetap satu — Velora.
Storm melangkah sedikit. "Kenapa sekarang kau memanggilku?"
Suara Velora tetap tenang. "Karena dia telah muncul."
Storm langsung mengerti. "…Dooms."
Beberapa detik hening. Lalu — Velora berbicara lagi. Namun kali ini — lebih dalam. Lebih serius.
"Dia adalah seseorang yang harus dihapus."
Storm terdiam. Alisnya sedikit berkerut. "Apa alasannya?"
Galaksi di sekitar mereka tiba-tiba bergetar pelan. Seolah merespon.
Velora menjawab. "Dia melanggar aturan semesta." Cahaya bintang meredup sedikit. Suasana berubah lebih berat. "Makhluk dimensi — adalah penjaga. Penjaga keseimbangan."
Storm mendengarkan tanpa menyela.
Velora melanjutkan. "Namun Dooms…" Nada suaranya berubah. Lebih dingin. "…memburu mereka."
Dalam sekejap — bayangan-bayangan muncul di sekitar. Makhluk-makhluk aneh. Bentuknya tidak stabil. Seperti terbuat dari dimensi itu sendiri. Namun satu per satu — menghilang. Lenyap. Seolah dihapus.
Storm menyipitkan matanya. "…Dibunuh?"
Velora menjawab singkat. "Dihabisi."
Keheningan kembali. Namun kali ini — lebih berat.
Storm mengepalkan tangannya. "…Untuk apa dia melakukannya?"
Velora tidak ragu. "Kedamaian. Keamanan manusia."
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun — konsekuensinya besar.
Storm menunduk sedikit. Berpikir. "Jadi — dia melakukan semua itu demi manusia."
Velora tidak menyangkal. "Ya." Sedikit jeda. Lalu — "Namun itu tetap pelanggaran."
Galaksi di sekitar mereka kembali berputar. Namun terasa tidak stabil. "Jika penjaga dimensi terus dihapus — keseimbangan akan runtuh."
Storm mengangkat kepalanya. Matanya kembali tajam. "…Dan kau ingin aku menghentikannya."
Velora menjawab tanpa ragu. "Bukan hanya menghentikan." Tekanan tiba-tiba meningkat. Seluruh alam semesta itu seolah menekan Storm. "Menghapusnya adalah pilihanmu."
Hening.
Storm berdiri diam. Di hadapannya — sosok besar tanpa wujud. Velora. Dan di dalam — sebuah keputusan lain sedang terbentuk.
Storm menatap ke arah galaksi yang berputar. Lalu kembali ke arah Velora. "…Kalau aku melakukannya…" suaranya pelan. "…itu karena pilihanku sendiri."
Velora tidak menjawab. Namun kehadirannya — seolah menyetujui.
Karena pada akhirnya — yang akan menentukan arah pertarungan itu — bukan Velora. Bukan Dooms.
Namun — Storm sendiri.
