Di wilayah luar konstelasi Ursa Major — duel antara Tyrannons dan Jenderal Thraxor masih berlangsung. Situasinya mulai terlihat jelas. Tyrannons — sedang terdesak.
*BOOOOMM!! *
Ledakan energi hitam mengguncang ruang angkasa saat Tyrannons kembali menyerang dengan tebasan penuh kekuatan. Gelombang aura gelap menyapu kehampaan.
Di tengah ledakan itu — Thraxor tetap berdiri kokoh. Armor perangnya hanya terlihat memiliki satu goresan kecil. Bahkan hampir tidak terlihat.
Napas Tyrannons mulai terasa berat. Aura hitam di tubuhnya terus bergejolak. Ia sudah menggunakan sebagian besar kekuatan tempurnya. Namun hasilnya hampir tidak ada.
---
Di belakangnya — armada pemberontak Tartanos mulai dipenuhi kegelisahan. Beberapa prajurit saling menatap cemas.
"Tidak mungkin…" "Tuan Tyrannons bahkan tidak bisa menembus armor itu…" "Kalau begini terus…"
Suasana armada pemberontak mulai dipenuhi ketakutan. Mereka sadar — pemimpin mereka bisa kalah kapan saja jika pertarungan terus berlanjut.
Sementara itu — di sisi armada kekaisaran — para prajurit tetap diam penuh keyakinan. Bagi mereka — Jenderal Thraxor memang monster perang kekaisaran.
---
Di tengah ruang hampa — Thraxor berdiri tenang sambil memegang pedang besarnya. Jubah panjangnya berkibar perlahan di antara sisa ledakan energi. Tatapannya mengarah lurus pada Tyrannons. Namun anehnya — ia bahkan belum terlihat serius.
Thraxor akhirnya berbicara dengan suara berat.
"…Menyerahlah, Tyrannons."
Tyrannons langsung menatapnya tajam.
Namun Thraxor tetap melanjutkan. "Kembalilah ke kekaisaran. Aku tidak ingin membunuhmu."
Aura besar perlahan muncul dari tubuh Thraxor. Dan tekanan itu langsung membuat ruang di sekitar mereka bergetar.
"Karena sampai sekarang — aku bahkan belum serius melawanmu."
Mata para pemberontak langsung membelalak mendengar itu. Tyrannons sendiri mengepalkan pedangnya lebih erat. Ia tahu — Thraxor tidak sedang menggertak. Jenderal perang itu memang masih menahan kekuatannya.
