Cherreads

Chapter 706 - Kepercayaan

Di dekat Antares. Situasi Ginga Stars semakin buruk. Lampu peringatan berkedip tanpa henti. Cadangan energi berada pada tingkat yang sangat berbahaya. Beberapa sistem bahkan mulai dimatikan secara otomatis demi menghemat daya.

Di luar. Tiga Sacred Zodiac masih menghalangi jalan mereka. Scorpios. Cancer. Dan Pisces. Ketiganya berdiri seperti tembok yang mustahil ditembus.

Di dalam kokpit. Arabels terduduk lemas. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong menatap layar utama. Ia benar-benar tidak melihat jalan keluar.

"Kita selesai..." gumamnya pelan. "Tiga Zodiac... Energi kita hampir habis... Bahkan mendekati Antares saja sudah sulit..." Tangannya sedikit gemetar.

Di sampingnya. Proxi R-10 masih sibuk menjalankan berbagai simulasi. Hasilnya tidak jauh berbeda. Kemungkinan keberhasilan terus menurun. Kemungkinan kegagalan terus meningkat. Jika ada yang bisa disebut harapan — maka itu hanyalah sesuatu yang tidak bisa dihitung oleh mesin.

"Analisis selesai," ucap Proxi.

Arabels menoleh. "Bagaimana?"

Robot itu terdiam beberapa saat. Lalu menjawab. "Aku berharap keajaiban."

Arabels menatapnya. "Itu bukan jawaban yang ingin kudengar dari robot."

"Begitu pula aku," jawab Proxi jujur. Databasenya tidak mampu memberikan solusi yang masuk akal. Tiga Zodiac terlalu kuat. Dan energi mereka terlalu sedikit.

---

Di tengah suasana tegang — seseorang justru terlihat tenang.

Storm. Ia perlahan bangkit dari kursi pilotnya. Langkahnya santai. Seolah mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran.

Arabels menatapnya. "Storm?"

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat. Lalu berhenti tepat di depan Arabels. Dan tanpa berkata apa-apa. Ia mengulurkan tangan. Mengusap pelan rambut gadis itu.

Arabels membeku.

Storm tersenyum kecil. "Kau terlalu banyak berpikir," katanya.

Arabels langsung membalas. "Karena kita hampir kalah!"

"Tidak," jawab Storm. "Kita belum terdesak."

Arabels menatapnya tidak percaya. Belum terdesak? Mereka sedang menghadapi tiga Zodiac. Energi hampir habis. Dan Antares masih berada di belakang mereka. Namun Storm tetap terlihat yakin.

"Bukankah situasinya jelas?" tanya Arabels.

Storm menggeleng. "Situasi memang buruk. Tapi buruk bukan berarti selesai." Ia kemudian menoleh ke arah layar utama. Tatapannya tertuju pada tiga Zodiac yang menunggu di luar. Lalu ia berkata dengan nada santai. "Aku akan menahan mereka."

Beberapa detik hening. Arabels berkedip. "...Apa?"

Storm menunjuk ke arah Antares. "Proxi akan membawa Ginga Stars ke sana. Lalu menjalankan rencana kita."

Arabels langsung berdiri. "Tunggu dulu! Itu tiga Zodiac!"

Storm mengangguk. "Aku tahu."

"Dan kamu mau melawan mereka sendirian?!"

"Ya."

Arabels hampir berteriak. Sebelum ia sempat menghentikannya — Storm sudah bergerak.

*WHOOOMMMM!! *

Cahaya merah muncul di sekeliling tubuhnya. Armor Skycrimson mulai terbentuk. Lapisan demi lapisan energi menyelimuti tubuhnya. Sayap mekanis terbuka. Helm tempur menutupi wajahnya. Dalam beberapa detik. Storm telah berubah menjadi sosok ksatria langit berwarna merah gelap.

Arabels langsung melangkah maju. "Storm, jangan pergi!" Namun terlambat.

Pintu peluncuran terbuka. Dan tanpa ragu sedikit pun — Storm melesat keluar dari Ginga Stars.

*WHOOSHHHH!! *

Tubuhnya meluncur menuju ruang angkasa. Langsung menghadap tiga Sacred Zodiac.

---

Di dalam kokpit —

Arabels hanya bisa terpaku. Sementara Proxi langsung berpindah ke kursi kendali utama. Tangannya bergerak cepat di atas panel holografik. "Mengambil alih kendali. Sistem pilot otomatis aktif."

Arabels masih menatap layar. "Dia benar-benar melakukannya..."

Proxi mengangguk. "Ya. Dan kita harus menjalankan bagian kita." Robot itu mengarahkan Ginga Stars kembali menuju Antares. Mesin yang tersisa mulai bekerja.

"Apa kau yakin?" tanya Arabels pelan.

Proxi terdiam beberapa saat. Lalu menjawab. "Tidak." Kemudian ia menambahkan. "Tapi Storm yakin. Itu cukup bagiku."

Arabels menggigit bibirnya. Ia masih ingin menghentikan kekasihnya. Masih ingin mengatakan bahwa itu terlalu berbahaya. Namun sosok yang kini melayang di depan tiga Zodiac itu terlihat begitu tenang. Begitu percaya diri. Melihat punggungnya membuat hatinya sedikit tenang.

Akhirnya Arabels menghela napas panjang. Lalu mengangguk pelan. "Aku percaya padamu," gumamnya.

---

Di luar —

Storm berdiri sendirian di ruang angkasa. Di belakangnya. Ginga Stars mulai bergerak kembali menuju Antares. Di depannya. Tiga Sacred Zodiac memperhatikan.

Scorpios menyipitkan mata. Cancer menghentikan gerakannya. Pisces tampak sedikit bingung. Manusia itu keluar dari mecha yang hampir kehabisan energi. Dan justru berdiri sendiri di hadapan mereka.

Storm mengangkat tangannya perlahan. Lalu menunjuk ketiga Zodiac tersebut.

"Sampai di sini saja," katanya. Suara itu terdengar kecil dibanding luasnya ruang angkasa. Namun entah mengapa. Ketiga Zodiac dapat merasakan satu hal yang sama.

Manusia di hadapan mereka — sama sekali tidak berniat mundur.

More Chapters