Di dalam kokpit Ginga Stars, suasana langsung berubah menjadi tegang. Storm melangkah menuju kursi utama pilot. Tanpa ragu, ia mengambil alih kendali mecha. Panel-panel hologram menyala di sekelilingnya. Energi Antares yang memenuhi inti Ginga Stars berdenyut seperti jantung raksasa.
Di belakangnya, Proxi kembali ke posisi biasanya. Ratusan layar analisis muncul di hadapan robot itu. Ia segera memeriksa setiap data yang bisa dikumpulkan mengenai lawan baru mereka.
Sementara itu, Arabels berdiri di sisi kanan Storm. Sebagai navigator, ia mulai memetakan area pertempuran dan jalur manuver yang memungkinkan.
"Semua sistem normal," lapor Proxi. "Cadangan energi berada pada tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya."
Arabels menelan ludah. Ia masih sulit percaya bahwa mereka benar-benar berhasil menyerap sebagian energi Antares.
---
Di luar sana —
Pria berarmor hitam keunguan itu masih melayang di angkasa. Tatapannya tertuju pada Ginga Stars. Lalu tiba-tiba — ia tertawa.
*HAHAHAHAHAHA!! *
Suara tawanya menggema hingga ke armada Orion. Beberapa prajurit bahkan ikut menegang. Tekanan dari tawa itu saja cukup membuat ruang di sekitarnya bergetar.
"Menarik," ucap pria itu. "Sangat menarik." Api ungu menyala di kedua matanya. "Kalian benar-benar berani menantangku."
Ia mengangkat senjatanya perlahan. Energi naga mulai mengalir di sepanjang bilah senjata tersebut. Lalu pria itu menepuk dadanya sendiri.
"Aku akan memperkenalkan diriku." Suaranya terdengar jelas ke seluruh area. Seakan sengaja ingin didengar semua orang. "Aku adalah Zyron Dragonvor." Api ungu kembali berkobar. "Petarung Naga dari Konstelasi Draco."
Astralon yang mendengar nama itu langsung menyipitkan mata. Beberapa perwira Orion tampak terkejut. Di konstelasi Draco, klan itu termasuk salah satu garis keturunan naga yang sangat dihormati. Bukan karena jumlah mereka. Melainkan karena kekuatan mereka.
---
Zyron kembali menatap Ginga Stars. Kali ini tatapannya jauh lebih serius. "Aku datang bukan untuk menaklukkan kalian. Aku juga tidak tertarik pada perang kekaisaran. Aku hanya memiliki satu tujuan." Ia menunjuk Ginga Stars. Tepat ke arah inti energinya. "Kehancuran mecha itu."
Hening sesaat.
Arabels mengerutkan dahinya. "Dia benar-benar serius," gumamnya.
Proxi segera menampilkan data yang berhasil dikumpulkan. Namun hasilnya membuatnya sedikit kesal. "Data tidak lengkap. Sebagian besar informasi mengenai ras naga Draco dikunci oleh gangguan energi yang tidak diketahui."
Storm tetap tenang. Matanya tidak pernah lepas dari Zyron.
---
Di luar sana, Zyron mulai berjalan perlahan di ruang angkasa. Setiap langkahnya menciptakan gelombang api ungu. Seolah ruang itu sendiri terbakar oleh keberadaannya.
"Aku mendengar kabar tentang kalian," katanya. "Mecha yang menyerap energi bintang. Mesin yang memaksa dirinya menampung kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki." Zyron menggeleng pelan. "Itu bukan teknologi. Itu ancaman."
Api di sekitar tubuhnya semakin besar. "Antares adalah salah satu bintang terbesar di wilayah ini. Kalian menyerap energinya. Kalian membuktikan bahwa suatu hari kalian bisa melakukan hal yang sama pada bintang lainnya." Tatapan Zyron menjadi tajam. "Dan ketika saat itu tiba — galaksi akan berada dalam bahaya."
Storm akhirnya membuka mulut. "Jadi kau datang untuk menjadi pahlawan?"
Zyron tersenyum tipis. "Tidak." Jawaban itu membuat semua orang sedikit terkejut. "Aku bukan pahlawan. Aku hanya menghancurkan ancaman sebelum ancaman itu tumbuh."
Aura naga miliknya meledak.
*BOOOOOOOOM!! *
Gelombang panas menyapu area sekitar. Beberapa asteroid langsung meleleh. Armada Orion kembali menjauh. Kapal utama Astralon mengaktifkan perisai tambahan.
Di dalam kokpit, Arabels menggenggam pegangan kursinya. "Dia jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat."
Proxi mengangguk. "Tingkat ancaman meningkat drastis. Perkiraan kekuatan masih belum bisa dihitung."
