Pagi hari di Ursa Major berlangsung jauh lebih tenang dibandingkan beberapa minggu terakhir. Tidak ada ledakan. Tidak ada armada perang yang saling menyerang. Dan tidak ada laporan darurat yang membuat seluruh istana siaga.
Ketenangan itu tidak berlangsung lama.
*Tok! Tok! Tok! *
Suara ketukan pintu terdengar cepat dan tergesa-gesa. Di dalam kamar. Arcas yang masih setengah mengantuk membuka matanya. Sementara Callisto yang biasanya bangun lebih awal juga tampak sedikit terkejut.
Ketukan itu kembali terdengar. *Tok! Tok! Tok! *
"Kami datang," ucap Callisto.
Arcas segera turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka. Seorang pelayan istana langsung menundukkan kepalanya dengan hormat. Napasnya sedikit terengah. Seolah ia berlari dari tempat yang cukup jauh.
"Maaf mengganggu, Yang Mulia Ratu," kata pelayan itu. "Ada tamu penting yang baru tiba."
Arcas mengernyit. "Tamu?"
Pelayan itu mengangguk. "Ya. Tuan Astralon Volta telah datang ke Istana Ursa Major."
Mata Arcas langsung membesar. Callisto yang berdiri di belakangnya ikut terdiam sesaat. Astralon. Pemimpin Armada Orion. Pangeran Kerajaan Betelgeuse. Dan salah satu tokoh utama yang membantu Tyrannons membentuk pasukan pemberontak Tartanos.
Pelayan itu melanjutkan. "Armada Orion saat ini telah berada di wilayah Ursa Major. Jumlahnya sangat besar. Dan mereka meminta izin untuk bertemu para petinggi konstelasi."
Arcas dan Callisto saling berpandangan. Keduanya jelas terkejut. Astralon tidak pernah datang ke sini setelah perang besar berakhir. Bahkan selama konflik berlangsung. Armada Orion lebih banyak bergerak di wilayahnya sendiri.
"Baik," kata Callisto akhirnya. "Kami akan segera datang."
Pelayan itu menunduk hormat sebelum pergi.
Setelah pintu tertutup. Arcas langsung menoleh ke arah ibunya. "Kenapa dia datang ke sini?"
Callisto menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu. Tapi jika Astralon datang sendiri — maka pasti ada sesuatu yang penting."
---
Beberapa menit kemudian. Keduanya telah berganti pakaian. Callisto mengenakan pakaian kerajaan khas Ursa Major. Sementara Arcas mengenakan mantel tempurnya. Meski perang telah berakhir. Ia tetap lebih nyaman mengenakan pakaian yang memudahkannya bertarung.
Mereka kemudian berjalan menyusuri koridor istana. Banyak pelayan dan penjaga memberi hormat saat mereka lewat. Perhatian semua orang tampak terarah ke satu hal. Kedatangan Armada Orion.
Dari balkon-balkon istana. Langit Ursa Major terlihat dipenuhi kapal perang. Ratusan. Ribuan. Bahkan lebih banyak lagi. Armada Orion membentuk formasi rapi di angkasa. Cahaya mesin kapal mereka berkilauan seperti gugusan bintang baru.
Arcas sempat terdiam melihat pemandangan itu. "Jadi itu armada yang dipimpin Astralon..." gumamnya. Meski pernah mendengar reputasinya. Ini pertama kalinya ia melihat sebagian besar kekuatan Orion secara langsung.
---
Tak lama kemudian. Mereka tiba di aula utama. Pintu besar terbuka perlahan. Begitu masuk. Mereka langsung melihat banyak petinggi Ursa Major telah berkumpul. Aryes juga berada di sana. Diikuti Jester. Lira. Violys. Roxis R-5. Dan beberapa anggota X.A.R.A lainnya. Tyrannons serta Rea berdiri tidak jauh dari sana. Keduanya tampak sudah lebih dulu datang.
Perhatian Arcas langsung tertuju pada satu orang. Seorang pria berambut keperakan berdiri dengan tenang di tengah aula. Mengenakan pakaian kebangsawanan Orion yang elegan. Tatapannya tenang. Sikapnya santai. Namun auranya memancarkan wibawa seorang pemimpin. Astralon Volta. Pemimpin Armada Orion.
Saat melihat Callisto memasuki aula. Astralon memberi sedikit hormat. "Ratu Callisto," sapanya.
Callisto membalas dengan anggukan sopan. "Tuan Astralon. Kedatanganmu cukup mengejutkan."
Astralon tersenyum tipis. "Aku sering mendengar hal itu."
Jester yang duduk di salah satu kursi langsung menyela. "Pecundang biasanya tidak ikut berperang."
Astralon tertawa ringan. Suasana yang awalnya tegang sedikit mencair. Tetapi tidak berlangsung lama. Semua orang tahu. Astralon tidak mungkin datang hanya untuk berkunjung. Apalagi membawa sebagian armada Orion.
---
Callisto berjalan menuju kursinya. Lalu menatap Astralon dengan serius. "Baiklah. Aku yakin kau tidak datang hanya untuk berbasa-basi."
Astralon mengangguk. Senyumnya perlahan menghilang. Dan ekspresinya berubah lebih serius. "Aku memang datang membawa kabar."
Semua orang di aula langsung memusatkan perhatian. Tyrannons menyilangkan kedua tangannya. Rea ikut memperhatikan. Aryes menghentikan semua aktivitasnya.
Astralon menghela napas pelan. Lalu menatap semua orang yang hadir. "Kabar ini berhubungan dengan Konstelasi Draco."
Seketika suasana aula menjadi hening.
