Di planet Urco Tastarius... Pusat Kekaisaran Galaksi tetap dipenuhi kesibukan. Di arena pertarungan kekaisaran... Sorak-sorai penonton terus menggema. Dua petarung masih saling beradu kekuatan tanpa memberi kesempatan satu sama lain. Varxa Agxorath dari Konstelasi Pyxis mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Sementara itu... Olymxorth Nyxor, salah satu perwira terbaik Kekaisaran, menangkis setiap serangan dengan tenang. Benturan demi benturan memenuhi arena. Meski pertarungan berlangsung sengit, Olymxorth masih terlihat santai, seolah belum mengerahkan seluruh kemampuannya. Sorakan penonton semakin riuh.
Berbeda dengan suasana arena. Di balkon utama istana, keheningan justru menyelimuti. Oreons duduk di singgasananya sambil memandang jauh ke arah langit. Meski matanya tertuju pada arena, pikirannya berada di tempat lain. Nama Tyrannons terus memenuhi benaknya. Di lubuk hatinya, ia masih berharap putranya suatu hari akan mengubah keputusan dan kembali ke istana.
Di samping singgasana... Yllarxa bersandar pelan pada bahu Oreons. Tatapannya mengarah ke arena pertarungan. Sesekali ia melirik wajah sang kaisar yang lebih banyak diam daripada biasanya. Setelah beberapa saat, Yllarxa membuka suara. "Yang Mulia... Saat ini semakin banyak konstelasi yang telah tunduk kepada Kekaisaran."
Oreons tetap mendengarkan tanpa memalingkan wajah. Yllarxa melanjutkan. "Tetapi... Aquila dan Ursa Major adalah pengecualian. Kedua konstelasi itu membutuhkan campur tangan langsung para jenderal utama." Ia mengingat laporan yang baru diterimanya. "Jenderal Thraxor... Dengan mudah mengalahkan dan membunuh Asgard, pelindung Konstelasi Aquila."
Oreons mengangguk pelan. "Asgard adalah pejuang yang tangguh. Tapi Thraxor memang lebih kuat."
Yllarxa kembali berbicara. "Sedangkan di Ursa Major... Jenderal Rhythm bahkan tidak perlu menghunus pedangnya. Hanya melalui negosiasi dengan Ratu Callisto... Konstelasi itu memilih tunduk."
Senyum tipis muncul di wajah Oreons. "Mereka menjalankan tugas dengan baik. Itulah yang kuharapkan dari para jenderal."
---
Sesaat kemudian... Senyumnya perlahan menghilang. Tatapannya berubah lebih serius. "Bagaimana dengan Maxtis?" gumamnya pelan.
Yllarxa menggeleng. "Belum ada laporan terbaru."
Oreons menyandarkan tubuhnya ke singgasana. "Aku yakin... Saat ini dia telah menemukan orang yang kucari." Tekanan energi yang sempat mengguncang galaksi masih teringat jelas di benaknya. Pemilik kekuatan misterius itu menjadi satu-satunya hal yang mampu menarik perhatian sang kaisar. "Maxtis sedang mencari seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengguncang galaksi," ucap Oreons. "Tapi aku percaya padanya." Ia tersenyum tipis. "Maxtis tidak akan mudah dikalahkan oleh kekuatan biasa."
Yllarxa hanya menundukkan kepala. Ia tidak menanggapi. Di dalam hatinya... Perasaan yang berbeda terus mengusiknya. Semakin banyak konstelasi yang tunduk kepada Kekaisaran. Namun sebagian besar kemenangan itu diperoleh melalui ancaman atau peperangan. Yllarxa tidak pernah menyukai cara tersebut. Ia berharap galaksi dapat dipersatukan tanpa pertumpahan darah. Sayangnya... Ia menyadari kenyataan yang tidak bisa diubah. Sebagai Kaisar Galaksi... Keputusan Oreons adalah hukum tertinggi. Tidak ada seorang pun yang dapat membatalkannya. Termasuk dirinya. Karena itu, Yllarxa hanya kembali memandang arena pertarungan dalam diam.
