Di dalam Nexus S-4473... Suasana ruang komando berubah menjadi sangat tegang. Seluruh layar holografik menampilkan sosok Storm yang kini berdiri seorang diri di hadapan ribuan naga. Dan yang lebih mengejutkan... Storm baru saja menantang langsung Dargon Astagon, Raja Naga Konstelasi Draco.
Untuk beberapa saat... Tidak ada seorang pun yang berbicara. Aryes mengembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. "Storm..." gumamnya pelan. "Dia benar-benar tidak pernah memilih lawan yang mudah." Tatapannya tetap tertuju pada Dargon. Meski belum bertarung, Aryes dapat merasakan bahwa Raja Naga itu memiliki tekanan yang jauh melampaui Zyron. "Kalau sampai bertarung... Aku tidak yakin Draco akan tetap utuh."
Di sisi lain ruang komando... Proxi terus menjalankan pemindaian. Berbagai grafik dan angka memenuhi layar di hadapannya. Beberapa detik kemudian, lampu di matanya berkedip pelan. "Analisis gagal." Semua menoleh. Violys mengernyit. "Gagal?"
Proxi mengangguk. "Potensi energi Raja Naga dan para naga di sekitarnya tidak dapat diukur secara akurat. Data yang terbaca terus berubah. Seolah-olah... Kekuatan mereka berada di luar batas pemindaian sistem."
Roxis yang terhubung melalui jaringan Nexus ikut membenarkan hasil itu. "Sistem kami juga mengalami hasil yang sama. Tingkat akurasi berada di bawah lima persen."
Mendengar laporan tersebut, suasana menjadi semakin sunyi. Bahkan teknologi tercanggih milik X.A.R.A tidak mampu memperkirakan kekuatan musuh mereka.
Di kursi navigator... Arabels perlahan meletakkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tidak pernah lepas dari layar utama. Di sana... Storm masih berdiri tegak menghadapi lautan naga. Arabels memejamkan mata sejenak. Dalam hati, ia terus berharap. "Storm... jangan bertarung. Lawan kali ini berbeda. Mereka jauh lebih kuat."
Namun... Ia sendiri mengetahui jawaban dari harapan itu. Storm bukan orang yang akan mundur hanya karena lawannya lebih kuat. Justru semakin besar ancaman yang dihadapinya... Semakin kuat pula tekadnya untuk berdiri di garis paling depan.
Arabels perlahan membuka matanya kembali. Senyum tipis muncul di wajahnya, meski masih dipenuhi rasa cemas. "Storm. Aku tahu..." gumamnya pelan. "Kamu tidak akan tunduk begitu saja."
