Aula istana Urco Tastarius terasa jauh lebih tegang daripada sebelumnya.
Tidak ada suara percakapan.
Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Kini, tiga utusan dari wilayah yang berbeda berdiri di dalam aula yang sama.
Xyros Sealactive dan Meracles Agyctive berasal dari Andromeda.
Sementara Recluster Nxc-13 merupakan pejuang dari NGC 604 dan utusan dari Tringgulung.
Di sisi lain aula, para petinggi Galactic Empire memperhatikan mereka dengan penuh kewaspadaan.
Oreons akhirnya berdiri dari singgasananya.
"Selamat datang di Urco Tastarius."
Nada suaranya tenang dan bersahabat.
"Sebagai Kaisar Galactic Empire, aku menyambut kedatangan kalian."
Meracles dan Recluster sedikit menundukkan kepala.
Oreons kemudian bertanya,
"Namun aku ingin mengetahui satu hal."
"Apa tujuan kalian datang ke Urco Tastarius?"
Keheningan kembali memenuhi aula.
Meracles tidak langsung menjawab.
Recluster juga diam.
Keduanya justru menatap seseorang.
Storm Realms.
Storm berdiri tidak jauh dari Napstylea.
Tatapan Storm bertemu dengan mata Meracles.
Kemudian berpindah kepada Recluster.
Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya.
Hanya rasa penasaran.
Namun bagi kedua utusan tersebut, sesuatu terasa sangat berbeda.
Aura Storm.
Mereka dapat merasakannya.
Energi yang berada di dalam tubuhnya tidak terasa seperti milik manusia biasa.
Xyros yang sudah pernah melihat kekuatan Storm tetap diam.
Meracles akhirnya membuka suara.
"Kami datang bukan untuk berperang."
Ia berhenti sejenak.
"Aku diutus oleh Ratu Andromeda."
Semua orang memperhatikan.
"Aku datang untuk menemui Xyros."
Xyros mengangkat tangannya sedikit.
"Sudah kutebak."
Meracles melirik tajam kepadanya.
"Dan selain itu..."
Tatapannya kembali mengarah kepada Oreons.
"Aku membawa sebuah pesan."
Oreons menyipitkan mata.
"Pesan?"
Meracles mengangguk.
"Kami membutuhkan perwakilan dari Bimasakti."
Aula langsung hening.
"Untuk apa?"
Meracles menarik napas.
"Menuju batas Universe."
Beberapa orang langsung saling memandang.
Recluster kemudian mengangguk.
"Aku juga diutus untuk tujuan yang sama."
Oreons menatapnya.
"Tringgulung memiliki tujuan yang sama?"
"Benar."
Recluster menjawab dengan tenang.
"Karena masalah ini bukan hanya milik Andromeda."
Meracles melanjutkan.
"Sudah terlalu lama kita bertarung di tingkat yang sama."
"Planet."
"Konstelasi."
"Galaksi."
Ia mengepalkan tangannya.
"Namun sekarang semuanya berubah."
Suaranya menjadi lebih serius.
"Kami tidak lagi menghadapi musuh yang hanya ingin menguasai sebuah planet atau menghancurkan sebuah konstelasi."
Meracles menatap seluruh ruangan.
"Musuh yang sebenarnya jauh lebih kuat."
Ia berhenti.
"Ancaman tersebut dapat membahayakan alam semesta ini."
Hening.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Bahkan para jenderal yang biasanya tidak takut menghadapi peperangan terlihat serius.
Maxtis yang sejak tadi berdiri dengan santai kini terdiam.
Tangannya mengepal perlahan.
Ia memang seorang jenderal yang sangat kuat.
Namun ia tahu batas kekuatannya sendiri.
Pertarungan antarplanet?
Ia mampu.
Pertarungan skala konstelasi?
Ia masih sanggup menghadapinya.
Tetapi...
Musuh yang mengancam seluruh alam semesta?
Maxtis menatap lantai.
"Alam semesta..."
gumamnya.
Bahkan dirinya tidak yakin dapat menghadapi sesuatu seperti itu.
Di sisi lain, Tyrannos hanya diam.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat kecil di tengah pembicaraan tersebut.
Ia tahu dirinya bukan Storm.
Ia juga tahu dirinya belum berada di tingkat para utusan yang datang dari luar Bimasakti.
Tyrannos mengepalkan tangannya.
"Aku masih terlalu lemah."
Tidak jauh darinya, Rea hanya memandangnya tanpa berkata-kata.
Oreons sendiri terlihat sedang berpikir keras.
Ia kembali duduk di singgasana.
"Perwakilan Bimasakti..."
Ia menatap seluruh ruangan.
"Jika ancamannya benar-benar sebesar itu, kita tidak bisa mengirim sembarang orang."
Yllarxa yang berdiri di dekatnya memperhatikan wajah Oreons.
"Yang Mulia sedang memikirkan siapa yang akan dikirim?"
Oreons mengangguk.
"Ya."
"Ini bukan peperangan biasa."
Ia menatap ke arah para jenderal.
"Kesalahan kecil saja mungkin akan membawa konsekuensi bagi seluruh Bimasakti."
Yllarxa kemudian tersenyum lembut.
"Jangan memaksakan dirimu untuk mengambil keputusan sekarang."
Oreons menoleh kepadanya.
"Kita masih memiliki waktu untuk menentukan siapa yang paling pantas."
Kata-kata itu membuat Oreons sedikit lebih tenang.
Namun tiga orang di sisi lain aula justru memiliki pemikiran berbeda.
Xyros memandang Storm.
Meracles juga memperhatikannya.
Recluster bahkan tidak mengalihkan pandangannya.
Ketiganya merasakan hal yang sama.
Storm Realms.
Ada sesuatu yang aneh dari dirinya.
Bukan sekadar kekuatan besar.
Aura Storm terasa seperti sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki manusia biasa.
Xyros tersenyum kecil.
"Sepertinya aku tidak salah."
Meracles menoleh.
"Apa maksudmu?"
Xyros tetap memandang Storm.
"Dialah alasan aku masih berada di Bimasakti."
Meracles terdiam.
Recluster menggenggam gagang pedangnya.
"Aku juga ingin mengetahui seberapa jauh kekuatannya."
Napstylea menyadari tatapan mereka.
Ia kemudian berdiri sedikit lebih dekat dengan Storm.
Storm sendiri tetap tenang.
Ia menatap ketiga utusan tersebut.
Tidak takut.
Tidak menunjukkan permusuhan.
Hanya penasaran.
"Kenapa kalian terus melihatku?"
Pertanyaan sederhana itu membuat aula kembali sunyi.
Xyros tersenyum.
"Karena kami ingin tahu."
Meracles mengangguk.
"Apakah benar kau manusia?"
Recluster menatap Storm dengan serius.
"Atau sesuatu yang jauh lebih besar dari itu?"
Storm tidak langsung menjawab.
Tatapannya menjadi semakin dalam.
Sementara jauh di luar sana, di balik galaksi dan bintang-bintang—
sebuah ancaman yang bahkan belum mereka pahami sedang menunggu di batas Universe.
Dan kini, Bimasakti harus memilih seseorang.
Seseorang yang mampu berdiri di sana.
Mewakili seluruh galaksi.
