Cherreads

Chapter 887 - Menuju Tanpa Batas

Langit Urco Tastarius berubah.

Satu titik cahaya muncul dari kejauhan.

Kemudian menjadi puluhan.

Ratusan.

Ribuan.

Jutaan.

Milyaran.

WUUUUMMM!

Armada besar memasuki wilayah Urco Tastarius.

Lautan cahaya memenuhi langit planet.

Itulah Armada Andromeda.

Di sisi lain, cahaya lain muncul dari ruang angkasa.

Formasi kapal yang jumlahnya tidak kalah besar bergerak mendekati planet.

Armada Tringgulung.

Untuk beberapa saat, Urco Tastarius seolah berada di bawah lautan bintang.

Xyros dan Meracles segera bergerak menuju kapal utama Andromeda.

"Sepertinya semua sudah siap," ujar Meracles.

Xyros mengangguk.

"Kalau begitu, kita berangkat."

Sementara itu, Recluster berjalan menuju kapal utama Tringgulung.

Ia berhenti sejenak dan memandang armada yang berada di atasnya.

"Jadi mereka benar-benar mengerahkan sebanyak ini..."

Recluster kemudian tersenyum tipis.

"Menarik."

Di sisi lain, Nexus mulai bersiap.

Aryes, Violys, Jester, Zero, Lira, dan Roxis memasuki kapal.

Begitu berada di ruang kendali, Roxis langsung duduk di kursi utama.

Ia mulai memeriksa sistem navigasi.

"Mesin utama?"

"Normal."

"Perisai?"

"Normal."

"Navigasi?"

Roxis menatap layar holografik.

"Siap."

Nexus perlahan mengaktifkan sistemnya.

SYSTEM ONLINE.

Cahaya biru menyala di seluruh bagian kapal.

Sementara itu, di dalam Mecha Ginga Stars—

Storm memasuki ruang kokpit.

Ia berjalan menuju kursi pilot dan duduk.

Tangannya menyentuh panel kendali.

Sistem Ginga Stars langsung aktif.

GINGA STARS — SYSTEM ONLINE.

Napstylea berdiri di samping kursi Storm.

Untuk pertama kalinya, ia menempati posisi yang sebelumnya menjadi milik Arabels.

Navigator.

Napstylea memandang layar holografik di depannya.

"Aku akan membantu navigasi."

Storm hanya mengangguk.

"Baik."

Di belakang mereka, Proxi duduk di ruang kontrol data.

Berbagai layar analisis muncul di hadapannya.

"Semua sistem normal."

Ginga Stars bersiap untuk perjalanan terpanjang dalam sejarah mereka.

Namun tiba-tiba—

BEEP!

Sebuah sinyal asing muncul di layar Nexus.

Aryes mengerutkan kening.

"Apa ini?"

Sebuah hologram muncul di tengah ruang kendali.

Sosok seorang pria terlihat di dalamnya.

Tubuhnya merupakan perpaduan manusia dan teknologi.

Sebagian tubuhnya telah mengalami modifikasi biologis dan mekanis.

Apocalyptic Deathrays.

Manusia setengah Cyborg yang pernah dikenal sebagai salah satu manusia biologis terkuat di Bumi.

Ia juga merupakan mantan pemimpin APH, Asosiasi Pahlawan.

Storm yang melihat hologram tersebut langsung terdiam.

Ia mengenalinya.

Deathrays merupakan salah satu lawan lamanya.

"Deathrays..."

Deathrays hanya tersenyum tipis.

"Lama tidak bertemu, Storm Realms."

Aryes langsung terlihat kesal.

"Jadi selama ini kau bersembunyi di kapal Nexus?"

Deathrays mengangkat bahu.

"Aku hanya memanfaatkan kesempatan."

"Kapalnya kosong, jadi aku bersembunyi di dalam."

Aryes menghela napas panjang.

"Kau benar-benar menyebalkan."

Namun akhirnya Aryes mengangguk.

"Kalau kau ingin ikut, silakan."

Deathrays tersenyum.

"Terima kasih."

Storm hanya menatapnya sebentar.

Tidak ada permusuhan.

Tidak ada keinginan untuk bertarung.

Masa lalu mereka sudah cukup panjang.

Dan perjalanan yang akan mereka hadapi jauh lebih penting.

Di bawah langit Urco Tastarius—

Oreons, Yllarxa, dan Rangers berdiri di altar istana.

Mereka memandang milyaran kapal yang memenuhi langit.

Tyrannos, Rea, dan Astralon juga berada di sana.

Tyrannos menatap Armada Andromeda dengan kagum.

"Jumlah mereka luar biasa."

Rea mengangguk.

"Begitu juga Armada Tringgulung."

Astralon tersenyum.

"Jadi seperti inilah kekuatan di luar Bimasakti."

Tidak jauh dari mereka, tiga jenderal Galactic Empire berdiri.

Thraxor.

Rhythm.

Maxtis.

Mereka tidak menunjukkan rasa takut.

Namun rasa penasaran jelas terlihat di mata mereka.

Rhythm menyilangkan tangan.

"Seberapa kuat sebenarnya ancaman yang membuat mereka mengerahkan armada sebanyak ini?"

Thraxor tersenyum.

"Mungkin kita akan mengetahuinya suatu hari nanti."

Maxtis hanya tertawa kecil.

"Aku lebih tertarik melihat seberapa kuat makhluk yang akan mereka lawan."

Di atas altar yang berbeda, Leo dan Libra juga berdiri.

Leo memandang langit yang dipenuhi kapal.

"Semoga mereka berhasil."

Libra mengangguk.

"Semoga ancaman itu benar-benar dapat dihentikan."

Namun keduanya sadar.

Perjalanan tersebut tidak akan mudah.

Di dalam Ginga Stars—

Storm membuka sebuah panel kecil di dekat kursinya.

Ia mengambil Dimensional Travel Dagger.

Belati warisan ayahnya.

Storm memandangnya sebentar.

Dengan senjata itu, ia sebenarnya bisa membuka jalan menuju dimensi lain dan melakukan perjalanan jauh dalam waktu singkat.

Namun kali ini ia menyimpannya kembali.

Napstylea memperhatikannya.

"Storm. Kau tidak menggunakannya?"

Storm menggeleng.

"Aku lebih suka menjelajah bersama."

Ia menatap ke depan.

"Daripada langsung berpindah dimensi."

Napstylea tersenyum kecil.

"Begitu rupanya."

Proxi menampilkan ekspresi tersenyum di layar wajahnya.

"Keputusan yang cukup masuk akal."

Storm kemudian menggenggam kendali Ginga Stars.

Di luar sana—

Nexus mulai bergerak.

Kapal utama Andromeda mulai meninggalkan orbit.

Armada Tringgulung ikut bergerak.

Ribuan kapal perlahan membentuk formasi.

Kemudian—

WOOOOOOOONNNG!

Seluruh armada mulai terbang.

Rakyat Urco Tastarius memenuhi berbagai penjuru kota.

Sorakan terdengar di seluruh planet.

"STORM REALMS!"

"X.A.R.A.!"

"ANDROMEDA!"

"TRINGGULUNG!"

Para prajurit Galactic Empire berdiri dalam formasi.

Pasukan Tartanos juga ikut membentuk barisan.

Mereka mengangkat senjata mereka ke udara sebagai bentuk penghormatan.

Bukan untuk perang.

Melainkan perpisahan.

Mungkin mereka tidak akan melihat para penjelajah itu kembali.

Dan jika mereka kembali—

mungkin waktu telah berlalu begitu jauh sehingga usia mereka tidak lagi sama.

Di langit, Storm melihat Urco Tastarius semakin mengecil.

Ia tidak berkata apa-apa.

Napstylea berdiri di sampingnya.

Proxi mengawasi sistem.

Nexus terbang di depan.

Armada Andromeda dan Tringgulung mengikuti.

Ruang angkasa terbentang tanpa batas.

Tidak ada jalan yang jelas.

Tidak ada ujung yang terlihat.

Hanya bintang-bintang.

Galaksi.

Kegelapan.

Dan misteri yang belum pernah mereka kenal.

Storm menatap ke depan.

Perjalanan kali ini berbeda.

Mereka tidak sedang mencari planet baru.

Mereka tidak sedang mencari harta.

Mereka tidak sedang mengejar musuh biasa.

Mereka sedang menuju batas alam semesta.

Menuju tempat yang bahkan belum pernah dijangkau oleh sebagian besar makhluk di Bimasakti.

Dan di balik batas itu—

menunggu sesuatu yang kekuatannya belum dapat mereka bayangkan.

Nexus melaju.

Ginga Stars melaju.

Armada Andromeda melaju.

Armada Tringgulung melaju.

Semua bergerak menuju ruang angkasa yang tidak mengenal batas.

Urco Tastarius perlahan menghilang di belakang mereka.

Dan perjalanan menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari sebuah galaksi—

akhirnya dimulai.

More Chapters