Cherreads

Chapter 10 - Pengkhianatan Yang Terbangun

DUM!

Pintu ruang makam tertutup rapat. Raka langsung menoleh ke belakang. Ia kemudian berlari mendekati pintu dan mencoba mendorongnya.

“Buka!”

Namun pintu batu itu tidak bergerak sedikit pun.

Raka kemudian memukul permukaannya.

“Buka, sial!”

Laras langsung segera menarik lengannya.

“Raka, berhenti!”

“Kenapa?”

“Pintu itu tidak akan terbuka dengan kekuatan biasa.”

Raka langsung menatapnya.

“Lalu bagaimana cara membukanya?”

Laras tidak menjawabnya. Lalu dari dalam ruang makam, suara retakan kembali terdengar.

KRAK...

Salah satu peti batu di dekat dinding mulai terbuka. Tutupnya bergeser perlahan, lalu jatuh ke lantai.

BRAK!

Kabut hitam keluar dari dalam peti tersebut.

Raka pun langsung mundur.

“Apa itu?”

Raja mengangkat pedangnya.

“Jangan mendekat.”

Dari dalam peti, muncul sebuah tangan. Tangan itu terlihat seperti tulang yang dilapisi bayangan hitam. Jari-jarinya bergerak perlahan, lalu mencengkeram sisi peti. Dan Laras langsung berdiri di depan Raka.

“Yang Mulia, itu bukan penjaga makam.”

Raja pun menatap peti tersebut.

“Memang bukan.”

“Kalau begitu apa?”

Raja tidak menjawabnya. Tangan itu kemudian menarik tubuhnya keluar. Sosok yang muncul mengenakan pakaian prajurit kuno. Namun sebagian tubuhnya terlihat seperti asap hitam. Wajahnya tidak memiliki mata, hanya dua cahaya ungu yang menyala di tempat seharusnya mata berada. Raka pun langsung menelan ludahnya.

“Mayat hidup?”

Makhluk itu mengangkat kepalanya.

“Pewaris...”

Suara yang keluar terdengar berat dan berlapis.

Raka pun langsung mundur.

“Kenapa semuanya memanggilku begitu?”

Makhluk tersebut kemudian mengangkat pedang tua yang masih menempel di pinggangnya.

“Pewaris harus... dikembalikan...”

Laras langsung bergerak.

“Raka, mundur!”

Ia mengayunkan pedangnya ke arah makhluk itu.

CLANG!

Pedang Laras bertabrakan dengan pedang tua milik makhluk tersebut. Benturan itu menghasilkan cahaya biru yang menyebar ke lantai. Makhluk itu mendorong Laras hingga beberapa langkah ke belakang. Dan itu membuat Raka langsung terkejut.

“Laras!”

“Aku tidak apa-apa!”

Makhluk itu kemudian mengangkat pedangnya kembali. Namun sebelum ia menyerang, pria misterius yang berdiri di dekat pintu langsung bergerak. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan makhluk tersebut. Keris di tangannya menebas ke arah dada makhluk itu.

SRAAAK!

Cahaya keemasan menembus tubuhnya. Tiba tiba Makhluk tersebut mengeluarkan suara mengerikan sebelum tubuhnya terpecah menjadi kabut hitam. Raka langsung menatap pria itu dengan wajah terkejut.

“Kau...”

Pria tersebut tidak menoleh.

“Jangan biarkan mereka keluar.”

Raka langsung melihat ke arah peti-peti lain. Satu per satu, tutup peti mulai bergeser.

KRAK...

KRAK...

KRAK...

Laras langsung mengangkat pedangnya.

“Yang Mulia, jumlahnya terlalu banyak!”

Raja menatap seluruh peti yang mulai terbuka.

“Bukan mereka yang harus kita lawan.”

Raka pun langsung menoleh.

“Lalu siapa?”

Raja kemudian melihat ke arah pria misterius.

“Dia.”

Pria itu perlahan menoleh.

“Akhirnya kau mengatakannya.”

Raka langsung menatap Raja.

“Apa maksudnya?”

Raja mengarahkan pedangnya kepada pria tersebut.

“Dia bukan penjaga makam.”

Laras pun terlihat terkejut.

“Yang Mulia?”

Raja kemudian berkata dengan suara tegas.

“Dia adalah orang yang membuka segel ini.”

Pria itu pun tersenyum tipis.

“Segel ini sudah mulai retak sejak Raka tiba.”

“Namun kaulah yang mempercepatnya.”

“Karena aku tidak bisa membiarkan mereka mengambilnya lagi.”

Raka langsung mengerutkan kening.

“Mengambil siapa?”

Pria itu langsung menatap Raka.

“Dirimu.”

Raka menunjuk dirinya sendiri.

“Kenapa semua orang menganggap aku seperti benda?”

Tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba salah satu makhluk dari peti melompat ke arah Raka.

Laras pun langsung menebasnya.

SRAK!

Makhluk itu terlempar, tetapi tidak hancur. Tubuhnya kembali menyatu dengan kabut hitam.

Laras pun langsung terkejut.

“Mereka bisa pulih!”

Raja kemudian mengangkat tangannya.

“Gunakan cahaya.”

“Cahaya?”

“Serangan biasa tidak akan menghentikan mereka.”

Laras menggenggam pedangnya lebih erat. Cahaya biru mulai menyelimuti bilahnya. Ia kemudian berlari ke arah makhluk tersebut.

SRAAAK!

Tebasan cahaya biru menghantam tubuh makhluk itu. Kali ini, kabut hitam yang menyelimutinya mulai menghilang. Makhluk tersebut jatuh dan tidak bergerak lagi. Raka langsung menatap pedang Laras.

“Jadi pedangmu bisa melakukan itu?”

“Banyak hal yang belum kau ketahui.”

“Ya, aku mulai sadar.”

Di sisi lain, semakin banyak makhluk keluar dari peti-peti batu. Ada yang membawa pedang, tombak, dan perisai tua. Beberapa di antaranya bahkan mengenakan mahkota kecil di kepala mereka. Raka kemudian memperhatikan satu sosok yang berbeda. Makhluk itu tidak menyerang. Ia hanya berdiri di belakang peti, menatap Raka dengan cahaya ungu di matanya.

Kemudian ia berlutut.

“Pewaris pertama...”

Makhluk-makhluk lain yang berada di ruangan itu langsung berhenti. Satu per satu mereka menundukkan kepala.

“Pewaris pertama telah kembali.”

Raka pun langsung membeku.

“Kenapa mereka berlutut?”

Pria misterius itu menatap Raka.

“Karena mereka mengenalmu.”

“Tidak. Mereka mengenal orang yang mirip denganku.”

Raja kemudian berteriak.

“Jangan dengarkan mereka!”

Raka langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Karena mereka tidak lagi memiliki kehendak sendiri.”

Sosok yang berlutut tadi perlahan mengangkat kepalanya.

“Pewaris... buka gerbang...”

Raka pun langsung mundur.

“Aku tidak akan membuka apa pun!”

Makhluk itu tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangannya. Seluruh makhluk lain langsung bergerak. Mereka tidak lagi menyerang Raja atau Laras tapi mereka semua berjalan menuju Raka.

Tiba tiba Laras langsung berdiri di depan Raka.

“Jangan mendekat!”

Namun jumlah mereka terlalu banyak. Raja kemudian menatap Raka.

“Dengarkan aku. Jangan biarkan tanda di tanganmu menyala sepenuhnya.”

Raka pun langsung melihat tangannya. Tanda keemasan itu memang semakin terang.

“Bagaimana cara menghentikannya?”

“Gunakan kehendakmu.”

“Jawaban macam apa itu?”

“Bayangkan tanda itu padam.”

Raka menutup matanya dan mencoba berkonsentrasi. Namun semakin ia mencoba, cahaya itu justru semakin kuat. Makhluk-makhluk tersebut semakin dekat dan Laras terus menahan serangan mereka.

“Raka! Cepat!”

“Aku sedang mencoba!”

Tiba-tiba suara perempuan itu terdengar kembali.

“Jangan melawan tanda itu.”

Raka langsung membuka matanya.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Biarkan ia mengingat.”

Raka langsung menggeleng.

“Tidak. Aku tidak mau mengingat semuanya!”

“Kalau kau terus menolaknya, mereka akan menggunakan tubuhmu.”

Raka langsung menatap makhluk-makhluk yang mendekat.

“Apa?”

“Pusaka itu bukan hanya membangunkan ingatanmu.”

Suara perempuan itu terdengar semakin dekat.

“Ia juga membangunkan sesuatu yang telah dikubur bersamamu.”

Raka langsung merasakan kepalanya berdenyut.

“Apa yang dikubur?”

Namun suara itu tidak menjawab. Tiba-tiba salah satu makhluk berhasil melewati Laras dan langsung menerjang Raka. Raka kemudian mengangkat tangannya secara refleks. Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.

BUUUUM!

Seluruh makhluk terlempar ke dinding. Laras juga terdorong mundur. Raja menancapkan pedangnya ke lantai agar tidak jatuh. Bahkan pria misterius itu terlihat terkejut. Tiba tiba Raka berdiri di tengah cahaya keemasan. Namun kali ini, cahaya tersebut tidak hanya muncul dari tangannya. Simbol yang sama mulai menyebar di leher, dada, dan sisi wajahnya. Raka langsung memegang tubuhnya.

“Apa yang terjadi...?”

Dari dalam kepalanya, terdengar suara pria lain.

Suara yang sama seperti sosok berjubah batik.

“Jangan biarkan mereka membangunkanmu.”

Raka langsung terdiam.

“Siapa yang membangunkanku?”

Suara itu menjawab dengan pelan.

“Bukan mereka.”

Cahaya keemasan semakin terang.

“Melainkan dirimu sendiri.”

Raka kemudian melihat bayangan seorang pria berdiri di belakangnya. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengannya, tetapi mengenakan pakaian kuno dan membawa keris yang berlumuran darah. Raka langsung menoleh.

“Siapa kau?”

Bayangan itu tidak menjawabnya. Ia hanya mengangkat kerisnya. Dan seluruh makhluk di ruang makam langsung berlutut. Raja pun menatap bayangan tersebut dengan wajah pucat.

“Tidak...”

Laras menoleh kepada Raja.

“Yang Mulia?”

Raja menggenggam pedangnya lebih erat.

“Dia mulai bangun.”

Raka langsung menatap Raja.

“Siapa yang mulai bangun?”

Raja tidak menjawab. Bayangan pria itu kemudian mendekat ke telinga Raka.

“Jangan percaya kepada mereka.”

Raka pun langsung membeku. Kalimat itu sama persis dengan tulisan di catatannya. Namun sebelum Raka sempat bertanya, bayangan tersebut tiba-tiba menusukkan kerisnya ke dada Raka.

SRAK!

Raka langsung berteriak.

“AAAAH!”

Cahaya keemasan meledak sekali lagi. Seluruh ruangan dipenuhi suara retakan. Dan dari dalam tubuh Raka, terdengar suara yang bukan milik manusia.

“Gerbang Nusantara...”

“Telah memilih tuannya.”

Raja langsung berteriak.

“Laras! Bawa Raka pergi sekarang!”

Laras segera berlari mendekat. Namun pria misterius itu berdiri di antara mereka.

“Tidak.”

Raja menatapnya tajam.

“Minggir.”

“Jika dia keluar sekarang, gerbang akan terbuka sepenuhnya.”

Raka pun masih berlutut sambil memegang dadanya. Napasnya tersengal-sengal. Laras kemudian menatap pria misterius itu.

“Kalau begitu apa yang harus kami lakukan?”

Pria itu menatap Raka dengan wajah sedih.

“Bunuh dia sebelum ingatannya kembali sepenuhnya.”

Laras pun langsung membeku dan Raja langsung mengangkat pedangnya.

“Jangan berani menyentuhnya.”

Pria itu menggenggam kerisnya.

“Kalau begitu, kalian semua akan menyaksikan perang itu terulang kembali.”

Raka perlahan mengangkat wajahnya.

“Tidak...”

Semua orang langsung menatapnya. Raka kemudian berdiri dengan susah payah. Cahaya keemasan masih menyelimuti tubuhnya.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun membunuhku.”

Tanda di tubuhnya menyala semakin terang.

“Bukan untuk kedua kalinya.”

Dan pada saat yang sama, seluruh pintu makam mulai terbuka. Dari balik pintu, terdengar suara ribuan orang berbisik.

“Pewaris pertama telah kembali.”

More Chapters