"Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu ya, terima kasih atas pinjaman uangnya."
Pria itu menundukkan badannya. Berdiri lagi. Ia membalikkan badannya. Melangkah menuju luar.
"Sa ... Sazha!"
Pria itu memberhentikan langkahnya. Ia membalikkan kembali badannya.
"Kau ingat? Ke mana kau harus kembali?" Sang wanita menatap si pria.
"Kembali?" Pria itu mengangkat tangannya. Ia menundukkan kepalanya. Menatap tangan kanannya.
"Ke kosan ku?" Jawab pria itu.
"Salah! Kamar pasien! Di mana kamarmu? Apa kau ingat?" tanya wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
Pria itu terdiam sejenak sambil menatap si wanita.
"Aku tidak ingat."
"Makan di sini dulu aja si. Sini nih, masih luas."
"Ehm ... apa tidak mengganggumu?"
"Tidak, sudahlah Sazha, jangan anggap aku orang asing, kita itu teman sekelas tau."
"Ya, okelah, terima kasih banyak Rina."
Pria itu berjalan menuju suatu tirai yang masih terbuka.
Si pria menjatuhkan badannya. Ia duduk di sebelah kasur.
"Di bawah dingin. Nggak naik ke kasur?"
"Nggak apa-apa, aku di sini aja, nggak enak dari tadi udah ngerepotin. Makasih ya Rin, sekali lagi."
"..."
Pria dan wanita itu makan bersama. Si pria berusaha agar tidak berisik. Ia mengambil kembali beberapa nasi yang jatuh ke lantai. Menahan napasnya.
Saat kamar mulai hening, tiba-tiba terdengar suara kasur di tirai sebelah. Si pria melihat kaki seseorang yang baru turun dari kasur. Kaki itu cukup lebat oleh rambut. Seorang pasien pria di sebelah tirai si wanita.
Si pria melihat dua buah kaki, melangkah perlahan, hingga mereka bertemu di tempat tanpa tirai.
Seorang pria tua dengan kacamata. Si kacamata melihat ke arah Sazha dan Rina yang sedang makan. Ia memalingkan matanya, dan kembali menghadap pintu, melanjutkan langkahnya.
Pria dengan kacamata itu sudah keluar.
"Rin, kau sendirian di sini?"
"Hmmm ... itu ... sepertinya tidak."
Si pria menatap wanita di hadapannya.
"Aku memiliki beberapa teman."
"Teman!? Yang tadi itu!?" tanya si pria sambil menunjuk ke arah luar.
"Bukan ... om tadi itu bahkan nggak pernah bicara sama siapapun." Wanita itu menundukkan kepala, lalu menggelengkannya beberapa kali.
"Hmm ... rasa-rasanya aku pernah berhadapan dengan om itu."
"Teman-temanku ... ada di sini."
Wanita itu menatap mata si pria.
"Hah!?"
Sang pria mengalihkannya ke langit.
"A-apa m-ma-maksudmu!?" Mata pria itu kembali ke arah wanita di hadapannya.
"Mereka tidak pernah hidup, tetapi mereka ada...
...itulah Partikel Virtual."
Kelopak matanya tertutup. Lalu ia tersenyum.
-
-
Seorang pria mendorong pintu, melangkahkan kakinya.
Kakinya masih melangkah.
Kakinya berhenti.
"Bu ... maaf, saya lupa kamar saya di mana." Pria itu menutup matanya sambil tertawa kecil. Tangan memegang gelombang rambut.
"Oh iya, kamu siapa namanya?"
"Saya Sazha."
"Oke, sebentar ya."
Ibu mengambil sebuah ponsel di kantung celana. Mengangkat ponsel itu, berhenti saat sudah setinggi telinga.
"Tidak ada?" Kata itu terucap, setelahnya si ibu menutup memalingkan badannya. Tangan kanan menutup lisan.
Ibu menutup panggilan, membalikkan wajah.
"Maaf, Mas-nya siapa?"
"Hah? Aku Sa—"
-
-
"Kau? Aku?
Kami berdua ... siapa?"
Dua manusia terbaring di permukaan laut. Seorang pria dan seorang lelaki.
"Hei, apa masalahmu anak muda?" tanya seorang pria tua.
"Tidak ada ... kalau kau?"
"Aku ... juga tidak."
Langit yang biru melapisi gelapnya laut.
"Sazha, tolong sampaikan maafku kepada ibumu."
"..."
-
-
Seorang pria berdiri. Rambut keriting. Bibir yang ditutupinya selama ini. Kulit kuning gelap. Semua itu bagian darinya.
Saat itu, mereka melihat hal yang tidak pantas dilihat.
Menatap hal itu, sepatah kata mengembun. Sebutir cair. Sebuah surat.
Wanita tua. Beliau mirip dengan temannya.
Mata si pria menyusut. Lututnya bergerak, ke depan, kembali lagi, hingga tiba di tempat asal.
-
-
"Apa yang terjadi?"
"Ibumu sudah tidak ada."
"Ibu siapa? Aku?"
"Iya."
Keheningan.
"Dari awal juga ibuku sudah meninggal."
"Hei..."
"Kenapa?"
"Siapa namamu?"
"Sazha."
"Owh. Kalau saja kau tampan, akan sulit membedakan kalian."
"Sulit?"
"Ya, karena kalian sama-sama sampah."
"Ya, tidak apa-apa, sungguh tidak apa-apa."
Sazha menatap ke atas dengan matanya yang dihalau kegelapan.
"Aku pergi dulu, terima kasih atas nostalgia masa lalunya."
Pria itu berdiri. Pergi menuju pintu perpisahan.
"Sazha!" teriak Rina.
Sang pria menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Aku sedang terburu-buru."
"Anu ... aku..."
"Bisa tolong dipercepat?" Sazha mengatakan itu tanpa menatap siapapun.
"Anu, uang yang tadi kena bunga 10% per hari ya?" Sang wanita memiringkan kepalanya, mengeluarkan senyumnya yang kaku.
Sazha terdiam.
"A-aku sebenarnya punya hutang sebesar ... miliaran, ini karena a-ayahku. Aku harap kau mau membantuku, Sazha..."
Sazha membalikkan badannya, ia menatap gadis lugu itu dengan tatapan serius.
"Serius? A-ayahmu judi?"
"Aku tidak tahu. Kupikir yang dia lakukan bukan judi, mungkin itu seperti bisnis yang mengalami kerugian besar."
"Lalu, operasi "itu" mu gratis?"
"Aah itu—"
"—Sebenarnya aku juga punya hutang."
"Aku tahu."
"Jumlahnya tidak sebesar punyamu, tapi bunganya sangat gila. Namun, tidak ada waktu untuk mengeluh."
"Kau ... Sazha ... jangan bilang kau..."
"Ya, Rina ... aku ... akan kembali BEKERJA."
Rina terdiam sejenak.
"Penghianat~" suara itu bergema pelan.
"R-rina kau tidak apa-apa?"
"Pergi~"
"Owh, baiklah. Dari awal memang aku mau pergi."
Sazha melangkahkan kakinya, melewati pintu perubahan.
Sang wanita tetap menundukkan kepalanya.
"Memang berat ya, hidup ini." Suara seorang pria terdengar di ruangan itu.
Rina masih menunduk.
"Kadang kau di atas, kadang aku di bawah. Seandainya saja si merah berjaya, apakah hidupku akan lebih baik?"
"Bisa diam tidak, Paman!?"
"H-hah? Owh, iya. Maaf."
Keheningan.
-
"Paman ... katanya kan kau dulu debt collebtor, kau tahu pengusaha bernama Zen tidak?"
"Hah? Apa hubungannya debt collector dengan pebisnis?."
"Kalau kau bertemu dengannya, tolong beritahu aku."
"Huh?"
"Akan ku tinju wajah orang itu—
—bukan ... bukan orang, tapi monyet."
"Hei, jangan bawa-bawa namaku!"
-
Keheningan.
Suara pintu terbanting dengan keras.
Terdapat seorang pria dengan wajah penuh kerutan, bersama seorang suster.
"Kamarmu di sini ya, anu ... dek Hans ya."
Tiga makhluk asing terperangkap di dalam sangkar.
Pakaian mereka tidak lagi putih.
-
"Jadi ... sekarang apa?"
"Diamlah, aku mau tidur."
"Hans..."
"Kenapa?"
"Yang sabar ya."
"Iya, lagipula dia juga bukan ibuku."
"Owh, jadi begitu. Kau sudah berubah ya."
Rina menutup telinganya dengan bantal.
"Hei, bisa diam dulu tidak!? Aku mau tidur!"
"Semua orang akan berubah, tidak hanya aku. Bahkan, Rina pun berubah baik secara fisik dan sifat."
"Fisik apanya?"
"Huh?"
"Kutanya, fisik apanya yang berubah?"
Pipi Rina memerah.
"Cara berjalanmu."
"Yuk, kita sudah saja pembicaraan tanpa arah ini. Ayo, ayo, tidur, udah malam, gak baik tidur lama-lama."
"Sekalian saja kita akhiri hidup yang tanpa arah ini. Ups, maaf Hans."
"Aku ini sebenarnya siapa?" ucap Sazha.
"Hah? Kau ngigau ya?"
"—Kau adalah ... Tully Monster. Makhluk yang sudah lama tidak ada atau bahkan ... tidak pernah ada."
"Kau akan menyakiti para ilmuwan, nona."
"Maaf."
"Setidaknya tubuhku tidak seburuk makhluk aneh itu."
"Kau betul. Tapi kegunaanmu lebih buruk dari dia. Hewan itu bisa membuat para ilmuwan bekerja, sementara kau? Berhenti ngojek setelah ditipu ganda oleh orang yang tidak ahli IT."
Air kehidupan menuruni bukit kuning langsat.
Lampu di ruangan itu mati.
Berkedip beberapa saat, kemudian lenyap kembali.
Bayangan terkadang menyelimuti ruangan pengap itu.
Terus menerus seperti itu, sampai sang lampu kembali hidup.
Hingga sang langit memerintahkan hal berbeda dari apa yang kami lihat.
Sedari tadi aku tidak melihat apapun, selain pria keriting yang berbicara dengan para partikel virtual.
Ironisnya, partikel virtual tidak mendengarkan apapun yang ia katakan. Partikel virtual berkata: "Tidak ada waktu mendengarkan iblis alam ini, aku harus bekerja untuk menjaga tatanan ruang tetap stabil, untuk para hewan dan tumbuhan, hingga mereka berdua berevolusi menjadi sebuah kristal merah yang menusuk dada para iblis."
Kalimat keren itu ku ambil dari sebuah kisah. Sebuah kisah dari seorang iblis yang telah lama menyerah. Namun, iblis ini bangkit kembali dalam bentuk yang sangat aneh, selembar kertas yang diguyur hujan.
"H-hh- h-ha-aa-a—a-pa..."
Mata pria itu menyusut. Keringat berlinang di setiap kerut wajahnya.
Kedua tangannya menggenggam wajah, menghambat sang lampu untuk tampil sempurna.
Napasnya terengah-engah.
Dinding ruangan semakin mendekat satu sama lain.
Cahaya sang lampu mulai menggapai setiap sudut kamar.
Pria itu menundukkan lututnya.
Air keringat menetes, membersihkan lantai tempat si pria memandang.
Tidak ada teriakan. Sekarang sunyi. Seperti sebuah ruangan pada umumnya.
"Partikel virtual tetap melihatmu, walau mereka tidak peduli."
Sayangnya, pria itu tidak lagi bisa melihatnya.
Atau dari awal, mereka semua memang tidak pernah ada?
Pria itu kembali bangkit.
Matanya kosong.
Yang bisa kulihat di matanya hanyalah keburaman dan satu bola air.
Dan tanah.
-
-
Seorang wanita (atau pria?) berdiri di depan pintu.
Menarik gagangnya.
Lalu mendorongnya.
"S-sazha~?"
Dia hanya menggunakan kepalanya untuk melihat ke dalam.
Matanya melihat beberapa hal.
"Kertas-kertas ini..."
Lembaran kertas.
Puntung rokok.
Jaket hijau.
Sebuah buku.
Wanita itu meraba satu-satunya buku yang ia lihat di kamar itu.
Sebuah buku campuss biasa.
"Zero adalah seorang anak iblis di dunia manusia, satu-satunya iblis yang memiliki mimpi seperti manusia.
Zero: "Aku akan menjadi..."
"
"Ah, tintanya pudar."
Satu lembar ia tarik.
Sebuah gambar.
"Uek, gambar apa ini?"
Salah satu gambar terburuk yang pernah wanita itu lihat.
"Apakah ini alien? Atau..."
Padahal itu...
Ehem...
Owh, maaf-maaf, aku seharusnya tidak muncul di sini.
"Atau...
Hmmm, sepertinya memang alien."
Ya, itu alien.
"Apa-apaan Sazha, isinya cuma komik aneh buatan sendiri.
Kukira ada surat wasiat atau apapun itu."
Wanita itu mulai menyerah.
"Kenapa aku malah mencari akte lahir anak itu..." ucap wanita itu dengan wajah murung.
"Aku kan kesini buat ngajak dia—."
Wanita itu kembali mencari sesuatu di lemari.
"Tidak ada, tidak ada..."
Saat pandangan mulai buram, wanita itu menemukan sesuatu di balik lemari.
Sebuah kertas dengan tinta yang memudar.
Terlihat bekas genangan air yang tertinggal di kertas itu.
Sang wanita memegangnya.
Berharap akan sebuah wasiat berisi warisan dari teman lamanya.
