Cherreads

Chapter 24 - Isi Hati Dev

"Maksud lo apa?" tanya Dev tidak mengerti dengan ucapan Bella.

"Lo tahu gimana selama ini hidup gue 'kan? Lo pernah 'kan lihat instagram gue? Selama ini gue hidup bebas, gue lakuin semua yang gue suka, gue beli barang apapun yang gue mau, gue selalu seneng-seneng dan gak ada hal lain yang gue lakuin selain itu. Tapi sekarang lo lihat gue, dan lo lihat meja itu." Bella mengarahkan telunjuknya pada sebuah meja belajar yang menghadap ke dinding kaca di sudut kamarnya. Terdapat banyak buku dan berkas-berkas, juga sebuah laptop di sana.

"Gue pelajarin lagi buku-buku kuliah gue, gue mentoring sama dosen gue. Setiap hari gue pelajarin laporan yang asisten gue kasih tentang perusahaan. Buat apa semua itu? Buat jadi CEO Xander Corp!"

Bella menatap marah pada Dev, dan melanjutkan. "Lo tahu kenapa gue harus jadi CEO? Semuanya gue lakuin biar gue punya kekuasaan lebih dan gue bisa bantu lo bersihin nama lo! Gue pengen lo gak ngerasa jadi orang buangan lagi!"

Tidak ada kata-kata yang bisa Dev ucapkan setelah mendengar ucapan Bella. Ia sama sekali tidak menyangka Bella sampai melakukan itu demi dirinya. Ia mundur beberapa langkah dari hadapan Bella dan mengusap wajahnya dengan kasar, merasa sangat bersalah pada Bella.

"Baru beberapa minggu gue jadi CEO tapi gue udah ngerasa cape. Gue stress ngurusin Xander setiap hari. Gue gak punya waktu buat seneng-seneng lagi. Sampe segitunya gue berkorban demi lo! Tapi lo? Lo terus-terusan bilang kalo lo gak pantes buat gue. Lo itu cuma peduli sama omongan orang lain, tapi lo gak peduli sama perasaan gue!"

Seketika mata indah Bella mengalirkan butiran-butiran bening. Ia merasa apa yang dilakukannya selama ini sia-sia. Dev terlihat tidak berniat untuk menyambut perasaannya bahkan setelah apa yang dia korbankan.

"Lo tahu, Dev?" Bella masih terisak. "Kalau bisa milih, gue lebih milih ngelepasin semua harta gue dan hidup sederhana bareng lo daripada ada di posisi ini. Gue tuh gak ngerti bisnis tapi ribuan orang nasibnya ada di tangan gue sekarang! Dan setelah semua yang gue laluin, lo masih aja lebih mentingin gengsi lo!"

Dev menghampiri Bella dan merengkuh tubuh Bella masuk ke dalam pelukannya.

"Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo, Bel. Kenapa lo sampe ngorbanin diri lo demi cowok kayak gue?!" ucap Dev merasa bersalah. Bella masih terisak menangis, meluapkan emosinya.

Ia melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Bella yang memerah dan berair. Ia meraup kedua pipi Bella dengan kedua tangannya.

"Bel, Gue suka sama lo," ucap Dev.

Bella terdiam, masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.

Melihat Bella masih terpaku, Dev kemudian berkata lagi, "gue suka sama lo jauh sebelum lo suka sama gue, Bel," ucap Dev akhirnya mengakui perasaannya.

"Akhirnya lo ngakuin perasaan lo," ucap Bella masih tidak percaya.

"Gue bukannya gak mau ngakuin perasaan gue. Tapi gue nyoba buat tahu diri. Gue bukan siapa-siapa, cuma orang biasa sedangkan lo cucu dari salah satu konglomerat paling kaya di Indonesia. Makanya sejak gue ketemu lo waktu masih SMP gue mutusin buat gak berharap banyak dan cuma jadi salah satu fans lo doang. Gue terus ngecek instagram lo setiap hari, buat tahu kabar lo. Untungnya lo emang sering banget update," ucap Dev sambil tersenyum mengenang masa-masa awal dirinya menyukai Bella.

"Ternyata perasaan gue makin lama makin besar sama lo. Lo yang bikin gue mutusin masuk militer. Gue pengen dipandang layak sama lo. Walaupun gue gak punya harta, senggaknya gue punya sesuatu yang bisa gue banggain di depan lo." Dev melanjutkan.

Dev menghapus air mata Bella. Kedua matanya masih menatap Bella dengan lekat.

"Dan tiba-tiba kita ketemu lagi terus lo bilang suka sama gue. Jujur, gue seneng banget, Bel. Gue bahagia banget. Gue kayak lagi mimpi. Tapi justru gue ngerasa makin gak layak buat dapetin lo karena gue udah keluar dari TNI. Gue malu, Bel. Makanya gue mutusin buat secepatnya pergi dari lo supaya gue gak berharap lebih buat dapetin lo," ucap Dev.

Kemudian Dev memeluk Bella lagi.

"Tapi sekarang ternyata lo sampe ngelakuin semua ini demi gue. Gue bener-bener gak abis pikir. Apa sih yang ada di otak lo? Lo bener-bener bikin gue tambah ngerasa gak berguna."

"Gue bakal lakuin apapun buat lo," ucap Bella yang kini melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Dev yang merengkuhnya. "Gue udah terlanjur sayang banget sama lo, Dev. Gue gak peduli siapa lo. Lo cukup jadi Dev yang selama ini gue kenal. Kita bakal sama-sama cari tahu siapa yang bikin lo dikeluarin secara gak adil kayak gitu. Sekarang lo gak usah pikirin apa-apa lagi. Jangan pernah lo mikirin pandangan orang lain lagi tentang kita. Lo cukup pikirin perasaan lo dan perasaan gue. Itu aja yang gue minta dari lo."

Beberapa saat mereka sama-sama terdiam, menikmati hangatnya pelukan itu.

Bella melepaskan pelukannya, dan memandang kedua mata Dev. "Sekarang lo gak boleh pergi lagi dari gue. Lo harus selalu ada di samping gue. Lo bodyguard gue. Pokoknya lo harus janji gak akan ninggalin gue lagi!"

Dev mengangguk dan kemudian tersenyum dan berkata. "Iya. Gue janji bakal selalu ada di samping lo mulai sekarang."

Butiran bening kembali memenuhi mata Bella, terharu mendengar ucapan Dev yang kini tidak lagi menolaknya.

Dev mendekatkan wajahnya pada Bella dan bibir mereka kembali bertemu. Keduanya saling menyalurkan rasa yang kini terbebas dari segala kungkungannya.

Akhirnya Dev melepaskan segala pertahanannya selama ini. Jika Bella mampu berkorban sebesar itu demi dirinya, maka ia pun akan mencoba untuk memberanikan diri menggenggam tangan seorang Bella Ratu Xander dengan percaya diri, dan bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di depan mereka nanti.

Mulai dari cibiran dan pandangan orang-orang mengenai perbedaan status sosial mereka, hingga tanggapan kakek Bella mengenai hubungan mereka.

Hasrat terus memuncak dan menguasai keduanya. Dev membaringkan tubuh Bella di tempat tidurnya dengan bibir mereka yang masih bercumbu mesra. Sepintas terpikir dalam benak Dev untuk memiliki Bella seutuhnya. Namun akal sehat masih menolongnya. Iapun menjauhkan bibirnya dan menatap kedua mata Bella.

"Belum saatnya, Bel," ucapnya. Namun Bella menarik tengkuk Dev agar mendekat padanya lagi.

"Gue mau lo, sekarang," lirih Bella yang sudah dikuasai hasratnya.

Melihat tatapan Bella yang begitu menginginkannya, Dev tidak mampu menolaknya dan kembali mencumbu gadis pujaan hatinya itu. Semakin lama hasrat mereka semakin membuncah. Dev mulai melepas jas yang dikenakannya dan Bella membantu Dev untuk membuka satu persatu kancing yang dikenakannya, hingga terpampang sudah tubuh kekar Dev yang dihiasi tato burung elang di bagian punggungnya.

Cumbuan Dev terus berlanjut dan turun ke leher jenjang Bella.

KRING! KRING!

Tiba-tiba terdengar dering dari ponsel Bella. Dev menyadari seseorang menelepon Bella. Dering terus berbunyi hingga Dev pun terpaksa menghentikan aktivitasnya itu dan berjalan menuju meja dekat pintu kamar dimana terdapat ponsel Bella di sana.

Dev mengambil itu dan melihat nama Raka di sana.

"Udah biarin aja," ucap Bella merasa terganggu.

"Lo harus angkat, Bel. Ini dari Pak Raka, asisten lo 'kan?" ucap Dev.

Bella bangkit dan menghampiri Dev, mematikan telepon kemudian melempar ponsel itu ke kasur. Dering pun berhenti. Bella kembali mencumbu Dev. Namun tidak lama dering HPnya kembali terdengar.

"Angkat, Bel. Lo CEO sekarang. Dia nelpon pasti ada yang penting," ucap Dev.

Dengan kesal Bella meraih ponselnya dan mengangkat panggilan dari asistennya itu. "Lo nelpon di saat yang gak tepat, tahu gak?!"

Namun ternyata Raka melaporkan sesuatu yang darurat. Mau tidak mau Bella mendiskusikan hal itu. Bella berjalan menuju sudut kamarnya dan memberikan beberapa instruksi pada Raka.

Beberapa menit kemudian Bella menyudahi panggilannya. Ia berbalik badan dan melihat Dev sudah tertidur di tempat tidurnya.

"Dev, lo gak boleh tidur! Kita harus lanjutin yang tadi," ucap Bella mencoba membangunkan Dev yang sudah tertidur pulas. Bella mengguncang-guncangkan tubuh Dev, namun Dev tidak menampakkan reaksi apa pun, terdengar dengkuran kecil darinya menandakan Dev sudah tertidur sangat lelap saat itu.

"Dev!" teriak Bella.

Namun Dev sudah jauh berada di alam mimpinya. Ia kelelahan karena seharian Bella memintanya untuk berdiri di kantornya tanpa istirahat sama sekali, ditambah ia harus menemani Bella berbelanja hingga malam hari.

Dengan marah Bella meraih ponselnya dan menelepon Raka. Saat terdengar sahutan di seberang sana Bella berteriak. "GUE PASTIIN LO GAK DAPET GAJI BULAN INI!"

More Chapters