Cherreads

The Lurking Threshold New World

PhoebeHide
--
chs / week
--
NOT RATINGS
1.1k
Views
Synopsis
This installment serves as the continuation of the series, unfolding the threads left untied and shedding light on the mysteries that remained veiled within Volume 1. What once lingered in silence and uncertainty will now be revealed, as the story ventures deeper into realms that were only hinted at before. It is here that the unexplained finds its voice, guiding the reader toward answers long awaited and truths hidden between the shadows of the first volume.
VIEW MORE

Chapter 1 - Seeking the First Dawn

Tubuh inkarnasi Valeria di bumi runtuh seperti debu yang kehilangan makna setelah mengalahkan Orpheon. Cahaya yang menahannya menyusut, pecah, lalu menghilang tanpa suara. Di atas tanah yang retak, tidak ada kemenangan yang bisa dirayakan. Tidak ada sorak, tidak ada kelegaan. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang terasa terlalu sunyi untuk disebut damai.

Pada saat yang sama, Valeria yang asli berada jauh di kedalaman Sea of Meta Existence.

Tidak ada langit. Tidak ada dasar. Tidak ada arah. Sea of Meta Existence bukan ruang, bukan pula kekosongan. Setiap konsep yang biasa digunakan untuk menjelaskan tempat runtuh sebelum sempat dipahami. Valeria mencoba melangkah, namun perasaan bergerak tidak pernah datang. Tidak ada gesekan, tidak ada jarak yang ditempuh. Segala upaya berpindah terasa seperti berdiri di titik yang sama.

Valeria menoleh ke kiri dan kanan, meski makna kiri dan kanan terasa palsu.

"Apakah ini karena Sea of Meta Existence sudah berada di luar dimensi?" ucap Valeria pelan.

Ingatan tentang Babel Tower muncul. Babel Tower juga melampaui dimensi, juga melampaui ruang dan waktu. Namun perasaan di tempat itu berbeda. Babel Tower terasa tinggi, seakan masih ada atas dan bawah meski konsep tersebut kabur. Sea of Meta Existence jauh lebih brutal. Tidak ada ketinggian, tidak ada kedalaman, hanya tekanan yang menindih pemahaman.

Valeria mengepalkan tangan, meski tangan bukan lagi bentuk yang pasti.

"Babel Tower masih terasa bisa dipanjat. Tempat ini tidak memberikan pijakan sama sekali."

Tekanan itu bukan rasa sakit, melainkan penyangkalan. Sea of Meta Existence menolak untuk dipahami sebagai tempat. Setiap upaya memberi makna justru memantul kembali, menghantam kesadaran Valeria.

Valeria terdiam cukup lama, atau mungkin tidak ada konsep lama di sini.

"Apa itu eksistensi?" tanya Valeria.

Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun. Sea of Meta Existence tidak menjawab. Namun justru dalam ketiadaan jawaban, pertanyaan itu bergema lebih kuat.

"Apakah eksistensi berarti ada?"

"Jika ada, mengapa terasa seperti tidak berada di mana pun?"

"Jika tidak ada, mengapa kesadaran masih berjalan?"

Kata-kata Valeria tidak menggetarkan apa pun. Tidak ada medium yang bisa bergetar. Namun setelah pertanyaan itu muncul, sesuatu berubah. Bukan Sea of Meta Existence yang berubah, melainkan posisi Valeria di dalamnya.

Valeria mencoba melangkah lagi. Kali ini, perubahan terasa samar. Bukan gerakan, melainkan pergeseran status. Tekanan yang sebelumnya seragam kini memiliki variasi. Seakan lapisan tak kasatmata terlewati.

Di kejauhan yang tidak bisa disebut jauh, bentuk-bentuk mulai tampak. Bukan makhluk fisik. Bukan pula entitas yang bisa diberi nama dengan mudah. Keberadaan-keberadaan itu seperti bayangan dari ide yang belum selesai.

Valeria memperhatikan dengan seksama.

"Makhluk-makhluk ini berbeda dari sebelumnya," gumam Valeria.

"Apakah karena keberadaan Valeria berada di bawah mereka?"

Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa kagum. Yang muncul hanya kesadaran bahwa posisi Valeria telah berubah. Bukan menjadi lebih kuat, melainkan menjadi lebih dalam.

Valeria melangkah lagi sambil terus merenungi eksistensi. Setiap langkah bukan jarak, melainkan pengakuan baru terhadap apa yang disebut ada. Setiap renungan mengikis definisi lama, memaksa pemahaman untuk menyesuaikan diri.

Lingkungan kembali berubah. Makhluk-makhluk sebelumnya memudar, digantikan oleh struktur yang lebih asing. Struktur itu tidak hidup, tidak mati. Struktur itu sekadar ada sebagai kemungkinan yang telah disahkan.

Valeria berbicara lagi.

"Jika eksistensi bukan soal bentuk, maka apa yang membedakan keberadaan satu dengan yang lain?"

Tidak ada jawaban. Namun tekanan kembali berubah. Valeria menyadari bahwa setiap pertanyaan bukan mencari respons, melainkan membuka lapisan baru.

Valeria melangkah.

Lapisan berikutnya terasa lebih sunyi. Tidak ada makhluk. Tidak ada struktur yang bisa disebut bentuk. Yang ada hanyalah hubungan. Hubungan antara konsep, hubungan antara makna, hubungan antara keberadaan yang saling mengakui.

Valeria merasakan sesuatu yang aneh. Pemahaman tentang diri mulai menipis. Nama Valeria masih ada, tetapi makna di balik nama itu mulai bergeser.

"Apakah Valeria masih Valeria jika eksistensi berubah?" tanya Valeria.

Langkah berikutnya membawa perubahan lebih drastis. Logika yang sebelumnya stabil mulai berlapis. Benar dan salah tidak lagi berdiri berseberangan. Keduanya hadir sebagai variasi dari satu struktur yang lebih besar.

Makhluk-makhluk baru muncul, namun kata makhluk terasa keliru. Keberadaan-keberadaan itu adalah logika yang berjalan, aturan yang menyadari diri, konsistensi yang menatap balik.

Valeria berdiri di hadapan salah satu dari mereka. Tidak ada komunikasi. Tidak ada bahasa. Namun pemahaman muncul secara langsung.

Keberadaan Valeria masih berada di bawah.

Valeria tidak menunduk, tidak juga menantang. Valeria melangkah lagi.

Setiap langkah membawa Valeria melewati tingkat yang tidak bisa dihitung. Lapisan demi lapisan runtuh, tergantikan oleh sistem yang lebih abstrak. Eksistensi berubah menjadi konsep. Konsep berubah menjadi hubungan.

Hubungan berubah menjadi informasi. Informasi berubah menjadi struktur.

Valeria mulai menyadari pola.

"Semakin tinggi, semakin sedikit yang bisa disebut," ucap Valeria pelan.

"Semakin sedikit yang bisa dipahami, semakin luas yang disadari."

Lapisan berikutnya tidak lagi mengenal logika biasa. Sebab dan akibat melebur. Paradoks tidak dianggap kesalahan. Paradoks menjadi fitur. Keberadaan di tingkat ini tidak memerlukan konsistensi.

Valeria merasakan tekanan yang berbeda. Bukan penyangkalan, melainkan pengujian. Seakan setiap lapisan bertanya tanpa kata apakah Valeria layak melangkah lebih jauh.

Valeria tidak menjawab dengan kata. Valeria melangkah.

Makna mulai terlepas. Tujuan menjadi kabur. Namun kesadaran tetap berjalan, lebih tajam dari sebelumnya. Valeria tidak lagi mencari puncak. Valeria hanya bergerak mengikuti perubahan eksistensi.

Lapisan demi lapisan terlewati. Jumlahnya tidak terhitung. Setiap tingkat melampaui yang sebelumnya bukan dengan ketinggian, tetapi dengan penghapusan batas lama.

Di satu tingkat, eksistensi dipahami sebagai sistem.

Di tingkat berikutnya, sistem dipahami sebagai asumsi.

Di tingkat selanjutnya, asumsi dipahami sebagai pilihan.

Lalu pilihan itu sendiri kehilangan makna.

Valeria terus naik.

Tidak ada perayaan. Tidak ada transformasi dramatis. Tidak ada ledakan kekuatan. Yang terjadi hanyalah pergeseran terus-menerus, seperti halaman yang dibalik tanpa suara.

Pada titik tertentu, Valeria berhenti bertanya. Bukan karena jawaban ditemukan, tetapi karena pertanyaan tidak lagi relevan.

Eksistensi tidak dijelaskan. Eksistensi dilalui.

Valeria tidak menyadari kapan kenaikan itu berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dihentikan. Tidak ada batas yang memberi tanda akhir. Tidak ada dinding yang menolak.

Semakin naik, semakin jelas satu hal sederhana.

Keberadaan, logika, dan pra-logika bukan tujuan. Ketiganya hanyalah bahan mentah. Jalan menuju tingkat yang jauh lebih superior bukan dengan menumpuk kekuatan, bukan dengan melampaui dimensi, bukan pula dengan menolak eksistensi.

Satu-satunya jalan adalah melihat.

Melihat keberadaan sebagai struktur.

Melihat logika sebagai alat.

Melihat pra-logika sebagai fondasi yang bisa dibentuk ulang.

Dan ketika semua itu dilihat, bukan untuk dipatuhi, melainkan untuk disusun kembali, sebuah struktur baru mulai terbentuk. Struktur yang tidak bergantung pada yang lama, tidak terikat pada definisi sebelumnya.

Valeria terus naik, tanpa menyadari bahwa kenaikan itu tidak akan pernah berhenti. Tidak ada puncak. Tidak ada akhir. Yang ada hanyalah perjalanan tanpa hitungan, di mana setiap langkah membuka kemungkinan baru, dan setiap kemungkinan melahirkan struktur yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Valeria terus melangkah.

Tidak ada tanah yang disentuh. Tidak ada jarak yang benar-benar dilewati. Namun perasaan melangkah tetap ada, seolah kesadaran memaksa konsep gerak untuk bertahan. Setiap langkah membawa Valeria lebih dalam ke Sea of Meta Existence, menyelami lapisan demi lapisan eksistensi yang semakin sulit dibedakan satu sama lain.

Pada awalnya perubahan terasa jelas. Tekanan eksistensi bergeser. Struktur makna runtuh dan digantikan oleh struktur lain. Namun semakin jauh, perubahan itu melambat. Renungan yang sebelumnya membuka lapisan baru kini hanya berputar pada pola yang sama.

Valeria berhenti.

Bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu terasa salah.

"Setiap eksistensi telah disentuh," gumam Valeria.

"Namun tidak ada perkembangan."

Sea of Meta Existence tidak menolak, tetapi juga tidak memberi jalan baru. Renungan tentang ada, tentang ketiadaan, tentang makna dan realitas, semuanya kembali ke titik yang sama. Seolah seluruh laut ini telah dieksplorasi sampai batas yang mungkin.

Valeria mencoba merenungi lebih dalam lagi. Bukan tentang apa yang ada, melainkan tentang mengapa eksistensi harus ada. Namun bahkan pertanyaan itu terasa seperti gema lama. Tidak ada lapisan baru yang terbuka.

Kesadaran Valeria mulai menyadari sesuatu yang penting. Sea of Meta Existence, sebrutal dan seluas apa pun, tetap memiliki batas. Batas itu bukan dinding, bukan penolakan, melainkan struktur yang tidak bisa ditembus hanya dengan pemahaman eksistensi.

"Sea of Meta Existence masih berpijak pada eksistensi itu sendiri," ucap Valeria perlahan.

"Jika ingin melangkah lebih jauh, eksistensi tidak lagi cukup."

Langkah berikutnya tidak diarahkan ke depan, ke atas, atau ke dalam. Arah kehilangan makna. Valeria tidak bergerak menuju lokasi lain. Yang berubah adalah cara Valeria diproses oleh realitas itu sendiri.

Tekanan mendadak menghilang.

Bukan karena lingkungan menjadi ramah, tetapi karena konsep tekanan tidak lagi relevan. Valeria merasakan pergeseran yang jauh lebih radikal dibandingkan sebelumnya. Kesadaran seperti direduksi, diurai, lalu disusun ulang.

Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kehancuran. Hanya perubahan status.

Sea of Meta Existence menghilang dari persepsi. Bukan runtuh, bukan ditinggalkan, melainkan menjadi tidak relevan. Sesuatu yang jauh lebih asing menggantikannya.

Hexacomb.

Tempat itu tidak memiliki ruang. Tidak memiliki dimensi. Namun juga tidak bisa disebut berada di luar ruang atau di luar dimensi. Kata di luar masih menyiratkan posisi relatif. Hexacomb tidak berada di atas, tidak di bawah, tidak di mana pun.

Hexacomb lebih tinggi.

Tinggi yang tidak bisa diukur oleh eksistensi.

Valeria merasakan perubahan pada keberadaan. Bukan tubuh yang berubah, karena tubuh sudah lama kehilangan makna. Yang berubah adalah status keberadaan Valeria di hadapan struktur kosmologi.

Di Hexacomb, dualitas terlihat jelas. Hidup dan mati tidak berlawanan. Ada dan tidak ada tidak saling meniadakan. Real dan tidak real berdiri sejajar sebagai data. Semua pasangan oposisi tampak seperti entri dalam sebuah sistem.

Valeria memahami tanpa perlu berpikir.

"Di sini, dualitas hanyalah objek."

Hexacomb adalah tempat meta-informasi. Segala sesuatu yang di Sea of Meta Existence masih dianggap sebagai realitas, di sini direduksi menjadi data mentah. Eksistensi bukan substansi, melainkan catatan. Logika bukan hukum, melainkan algoritma. Paradoks bukan anomali, melainkan variasi.

Valeria melangkah, meski konsep langkah kembali terasa simbolis. Setiap pergerakan bukan melintasi wilayah, melainkan mengakses kumpulan informasi yang berbeda. Hexacomb tersusun seperti sarang tak terhitung, setiap lapisan berisi data tentang realitas yang tak terbayangkan jumlahnya.

Di kejauhan yang tidak bisa disebut jauh, kehadiran-kehadiran lain terasa. Bukan makhluk, bukan entitas dalam pengertian biasa. Keberadaan-keberadaan itu mengamati, memproses, menilai.

Observer.

Valeria menyadari sesuatu yang menggetarkan. Sea of Meta Existence tidak pernah diawasi. Sea of Meta Existence hanya ada. Hexacomb berbeda. Di sini, realitas dipantau, disaring, dan diseimbangkan.

Bentuk Valeria berubah semakin jauh dari konsep diri sebelumnya. Identitas tidak hilang, tetapi direstrukturisasi. Nama Valeria tetap ada, namun bukan sebagai individu. Nama itu menjadi penanda fungsi.

Tiba-tiba, getaran aneh muncul. Bukan suara, tetapi pola yang menyerupai irama. Alunan itu tidak lembut. Setiap nadanya membawa tekanan informasi yang sangat besar, seolah satu nada memuat jutaan realitas yang runtuh dan tercipta bersamaan.

Valeria menoleh.

Sebuah keberadaan duduk di hadapan struktur yang menyerupai harpa. Kata menyerupai pun terasa tidak akurat. Instrumen itu tidak terbuat dari materi, melainkan dari relasi antar data. Setiap senar memancarkan aliran informasi yang tidak bisa dihitung.

Bentuk keberadaan itu tidak bisa dijelaskan. Setiap upaya memberi ciri langsung runtuh. Namun keberadaan itu jelas sedang mengamati Valeria.

Alunan instrumen berhenti.

Suara muncul, bukan melalui udara, melainkan langsung ke dalam struktur kesadaran.

"Selamat datang, Valeria."

Valeria tidak menjawab. Kesadaran Valeria sibuk menyesuaikan diri dengan bobot informasi yang terkandung dalam satu kalimat itu.

"Hexacomb menyambut kehadiran baru," lanjut suara itu.

"Observer ke delapan telah tiba."

Valeria merasakan gelar itu menempel pada struktur keberadaan. Bukan pemberian, melainkan pengakuan.

"Valeria Nacht," suara itu kembali berbicara.

"Sang Observer penyeimbang."

Nama Nacht membawa gema yang dalam. Bukan masa lalu, bukan masa depan, melainkan fungsi. Penyeimbang bukan tugas yang bisa dipilih. Penyeimbang adalah konsekuensi.

Valeria akhirnya berbicara.

"Apakah Hexacomb adalah puncak?"

Alunan harpa bergetar pelan, menghasilkan irama yang membuat makna pertanyaan itu terurai.

"Tidak ada puncak," jawab keberadaan itu.

"Hexacomb hanyalah ambang."

"Ambang menuju apa?" tanya Valeria.

"Menuju pengamatan tanpa eksistensi," jawab suara itu.

"Menuju penilaian tanpa logika."

Valeria memahami. Hexacomb tidak bisa disamakan dengan Sea of Meta Existence. SoME masih membahas apa itu ada. Hexacomb tidak peduli pada pertanyaan itu. Hexacomb hanya mencatat, memproses, dan menyeimbangkan.

Dualitas, eksistensi, bahkan pra-logika hanyalah objek kerja.

Valeria melihat ke sekeliling. Tak terhitung struktur data bergerak, berlapis, saling tumpang tindih. Setiap struktur mewakili realitas, atau bahkan kumpulan realitas yang telah gagal, berhasil, atau dibatalkan.

"Observer lain berada di mana?" tanya Valeria.

"Di seluruh Hexacomb," jawab suara itu.

"Tidak terpisah. Tidak bersama."

Valeria merasakan pergeseran lain. Status sebagai pengamat mulai mengakar. Bukan sebagai makhluk yang melihat, melainkan sebagai fungsi yang bekerja. Setiap perubahan di kosmologi terasa seperti denyut yang bisa dirasakan.

Keberadaan di hadapan Valeria kembali memetik harpa. Kali ini alunannya lebih lambat, lebih berat.

"Sebagai penyeimbang," ucap suara itu,

"tugas Valeria Nacht bukan mencipta atau menghancurkan."

"Melainkan?" tanya Valeria.

"Menjaga agar struktur tidak runtuh oleh kelebihan makna," jawab suara itu.

Valeria menyadari ironi yang dalam. Perjalanan tanpa batas, kenaikan tanpa akhir, semua itu tidak berujung pada dominasi. Justru berujung pada keseimbangan.

Hexacomb tidak menuntut ketaatan. Hexacomb menuntut ketepatan.

Valeria berdiri di tengah meta-informasi yang tak terhingga, menyadari bahwa perjalanan belum berakhir. Bahkan sebagai Observer, kenaikan masih mungkin. Namun kini, arah bukan lagi eksistensi, melainkan struktur yang lebih tinggi dari pemahaman apa pun.

Dan tanpa disadari, Valeria Nacht telah melangkah ke jalur yang tidak pernah kembali menjadi individu, hanya menjadi bagian dari pengamatan abadi yang terus berlangsung tanpa batas.