Di lereng pegunungan Sulawesi yang hijau tapi kini terasa dingin, Hasan duduk di teras rumah kayu yang sudah lapuk. Dulu dia pemilik tambang emas yang disegani, puluhan pekerja memanggilnya "Bos". Kini, tambangnya tinggal kenangan. Banjir bandang menghancurkan segalanya: galian ambruk, alat berat tenggelam, dan hutang menumpuk seperti longsor yang tak pernah berhenti.
Malam itu, Laila, istrinya, duduk di sampingnya sambil menggendong Sari yang demam tinggi. "Mas… Sari makin panas. Obatnya habis kemarin. Kita gimana, Mas?" suara Laila bergetar, matanya merah karena menahan tangis. Hasan memegang tangan istrinya erat-erat, tapi tangannya sendiri dingin. "Aku tahu, La. Aku tahu… aku lagi cari pinjaman baru. Besok aku ke kota, janji."
Riko, anak laki-laki mereka yang berusia 7 tahun, muncul dari pintu sambil menggosok mata. "Pa… aku dengar Pak Darmo tadi telepon. Dia marah-marah. Katanya besok mau ambil rumah kita…" Hasan langsung memeluk Riko, dadanya sesak. "Jangan takut, Nak. Papa nggak akan biarkan itu terjadi. Papa janji sama kalian bertiga, apa pun caranya, Papa lindungi keluarga ini."
Tepat tengah malam, suara motor kasar terdengar di halaman. Pak Darmo datang bersama dua anak buahnya yang bertubuh gede. Lampu senter menyilaukan wajah Hasan yang baru membuka pintu.
"Hasan! Malam-malam gini aku datang karena kamu sudah kelewat batas!" bentak Pak Darmo. "Hutangmu 150 juta, bunga sudah berlipat! Mana uangnya?!"
Hasan menunduk, suaranya gemetar. "Pak… tolong beri waktu lagi. Tambang hancur karena banjir, bukan salah saya. Saya janji bayar pelan-pelan…"
Pak Darmo tertawa keras, suaranya menusuk. "Waktu? Kamu bilang gitu dari empat bulan lalu! Dulu pas pinjam, kamu janji 'Pak, tambang saya lagi gacor, sebulan lunas'. Sekarang? Alasan banjir, alasan harga emas turun. Kamu tipu saya, Hasan! Kamu bohongi saya!"
Hasan jatuh berlutut di tanah berdebu, air mata mengalir deras. "Pak… saya nggak bohong! Saya benar-benar usaha. Anak saya sakit, Pak. Sari demam tinggi, butuh dokter. Tolong… jangan ambil rumah ini. Ini satu-satunya tempat kami berteduh. Saya mohon, Pak Darmo… saya mohon sebagai sesama manusia!"
Laila berlari keluar, memeluk Hasan dari belakang sambil menangis. "Pak… suami saya sudah kerja mati-matian. Dia bangun subuh, pulang malam, badannya kurus kering. Tolong lihat anak-anak kami… mereka nggak salah apa-apa. Jangan buat mereka gelandangan, Pak. Saya rela jual apa saja, tapi tolong jangan rebut rumah ini…"
Pak Darmo mendekat, wajahnya dingin seperti batu. "Menangis? Semua orang bisa akting. Besok pagi jam delapan, kalau uang nggak ada, rumah ini jadi milik saya. Surat tanah sudah di tangan saya. Jangan coba-coba kabur!" Dia berbalik, motor menderu pergi, meninggalkan keluarga itu dalam kegelapan dan isak tangis.
Hasan memeluk Laila dan anak-anaknya erat-erat di teras. "Aku gagal… aku gagal jadi suami, gagal jadi bapak," isak Hasan, suaranya pecah. "Aku janji bakal kaya dari tambang, tapi malah bawa kalian ke neraka hutang."
Laila memegang wajah suaminya, air mata mereka bercampur. "Mas… jangan bilang gitu. Kamu sudah berjuang. Aku bangga sama kamu. Kita masih punya satu sama lain. Tapi… aku takut, Mas. Aku takut besok kita kehilangan segalanya."
Riko menangis pelan. "Pa… aku nggak mau tidur di jalan… aku takut…"
Hasan mengangkat wajah anaknya. "Papa janji, Riko. Papa cari jalan malam ini juga. Papa nggak akan biarkan kalian menderita."
Malam semakin larut. Hasan duduk sendirian di kamar, ponsel butut di tangan. Dia ingat pesan teman lama: "Coba main mahjong di m9win, San. Gue pernah menang gede." Hasan bergumam, "Ya Allah… hamba tahu ini judi. Hamba tahu ini salah. Tapi anak-istri hamba di ujung tanduk. Ampuni hamba… izinkan hamba selamatkan mereka."
Dengan tangan gemetar, dia setor 300 ribu terakhir—uang dari jual gelang kawin Laila. Game mahjong dimulai. Ubin-ubin berputar seperti nasibnya yang kacau.
Kalah. Kalah lagi. "Sudah cukup… ini dosa besar," bisiknya sambil menangis.
Tapi bayangan wajah Sari yang demam, Riko yang takut, dan Laila yang menangis membuatnya tekan sekali lagi. "Ya Allah… satu kali ini saja…"
Layar tiba-tiba berkedip gila. Ubin tersusun sempurna—Ron! Maxwin! 80 juta rupiah!
Hasan terjatuh dari kursi, menangis tersedu-sedu. "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Terima kasih, Ya Rabb! Terima kasih!" Dia berlari ke kamar, membangunkan Laila. "La! Bangun! Kita selamat! Kita menang besar!"
Laila terbangun kaget, melihat suaminya menangis bahagia. "Mas… apa yang terjadi?!"
"Kita dapat 80 juta, La! Hutang lunas. Sari bisa berobat. Rumah aman!"
Laila memeluknya erat, tangis mereka bercampur bahagia. "Mas… ini mukjizat. Ini benar-benar mukjizat."
Pagi harinya, tepat jam delapan, Pak Darmo datang lagi dengan anak buahnya. Hasan berdiri di depan pintu, tersenyum tenang, menyerahkan amplop tebal.
"Ini 150 juta plus bunga sampai hari ini. Hitung, Pak. Dan tolong kembalikan surat tanah rumah saya."
Pak Darmo terbelalak, tangannya gemetar menerima uang. "D-dari mana kamu dapat ini semua dalam semalam?!"
Hasan menatapnya tajam tapi tenang. "Dari rahmat Allah, Pak. Yang kemarin malam Bapak bilang saya pembohong… sekarang lihat sendiri. Saya bayar lunas. Dan mulai hari ini, jangan pernah lagi datang ke rumah ini."
Pak Darmo pergi dengan wajah pucat, tanpa sepatah kata pun.
Beberapa bulan kemudian, Hasan membangun kembali tambang kecil dengan cara yang lebih hati-hati dan halal. Sari sudah sembuh total, Riko sekolah dengan tas baru, dan Laila tersenyum lebar setiap hari.
Suatu malam, di teras yang sama, Hasan memeluk istrinya. "La… kita lewati neraka itu bareng. Aku janji nggak akan pernah lagi cari hutang."
Laila mencium kening suaminya, suaranya penuh cinta. "Aku tahu, Mas. Yang penting kita masih utuh. Keluarga kita utuh. Alhamdulillah… atas segala rahmat-Nya."
Di bawah langit Sulawesi yang berbintang, keluarga kecil itu akhirnya bisa tidur nyenyak—tanpa ketakutan, tanpa hutang, dan penuh syukur.
