Cherreads

Chapter 184 - Bab 184: Rencana di Balik Senyum Natsumi

Café itu masih ramai. Aroma kue manis dan teh hangat memenuhi udara, namun di meja belakang—tempat tiga gadis itu duduk—suasana terasa jauh lebih tajam daripada keramaian di sekeliling.

Natsumi Kagehara duduk di depan dua temannya yang kini menatapnya seperti sedang menimbang "benar" dan "bohong" dengan pisau.

Ia baru saja menyelesaikan penjelasan panjang, dan kalimat terakhirnya menggantung seperti akhir pengakuan.

Natsumi:

"Begitulah ceritanya…"

Yuna—gadis demon yang tadi paling banyak tertawa—menyilangkan tangan, lalu mengangguk pelan.

Yuna:

"Hmmm… jadi begitu."

"Hidup gadis itu… rumit juga untuk ukuran manusia."

"Pantas saja sikapnya ke kamu meledak-ledak."

"Benar begitu kan, Ilysta?"

Di sisi lain, Ilysta—elf yang sedari tadi duduk anggun—menurunkan cangkir tehnya dengan gerakan pelan, nyaris tanpa suara. Tatapannya tidak terangkat tinggi… tapi cukup untuk membuat Natsumi merasa seperti sedang diadili.

Ilysta:

"Jadi ini semua… ulahmu, Sumi."

"Kau yang menyebarkan rumor tidak benar ke seluruh sekolah."

"Benar begitu?"

Tatapan itu dingin. Bukan marah yang meledak—melainkan marah yang disimpan rapi.

Natsumi mengernyit. Kesal, tapi tak bisa menolak fakta.

Natsumi:

"Iya, iya. Benar."

"Itu semua salahku."

"Tapi aku sudah minta maaf. Aku sudah berjanji memperbaiki semuanya."

"Dan aku akan membantu Mina."

Ilysta memiringkan kepala sedikit.

Ilysta:

"Membantu… setelah apa yang kau perbuat terhadapnya tanpa penjelasan?"

"Apa kau yakin itu solusi terbaik, Sumi?"

"Dan satu lagi—kau tidak jujur sejak awal kepada kami."

"Ingat, Natsumi… kami mengenalmu lebih baik daripada keluargamu sendiri."

"Setidaknya… selain ibumu."

"Jadi katakan sejujurnya."

"Apa tujuanmu sebenarnya mengundang kami?"

"Apa kau ingin meminta kami membantumu dengan masalah temanmu itu?"

Yuna yang tadi santai ikut merapatkan nada suaranya. Tatapannya berubah, tajam seperti taring.

Yuna:

"Benar."

"Kami tidak suka ada yang disembunyikan dalam pertemanan."

"Atau kau mau mengulang hal yang sama… seperti masa lalu?"

"Kau mau 'melawan' kami berdua lagi?"

Natsumi diam.

Ia menghela napas pelan, lalu—anehnya—tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat. Senyum yang… membuat Yuna ingat sesuatu yang ingin ia lupakan.

Natsumi:

"Ha… merepotkan."

"Aku undang kalian ke sini untuk sesuatu yang menyenangkan, tapi malah menekanku dengan masa lalu."

Ia bersandar sedikit ke meja, lalu menatap keduanya tanpa berkedip.

Natsumi (dingin):

"Kalau harus jujur…"

"Aku tidak bisa memberitahu tujuan lainku."

"Bahkan kepada kalian."

Yuna membelalakkan mata kecil—bukan karena marah, tapi karena ia tahu… kalau Natsumi sudah memakai nada itu, berarti ia sedang serius.

Natsumi mencondongkan tubuh sedikit, suaranya menurun.

Natsumi:

"Aku memanggil kalian untuk sesuatu yang menyenangkan."

"Sebuah hiburan."

"Dan sebuah hadiah."

"Jadi… sebelum kalian menikmati hadiahnya, ikuti rencanaku."

"Tanpa protes."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat yang membuat hawa meja itu turun beberapa derajat.

Natsumi:

"Atau kalian mau kejadian masa lalu itu… terulang ke kalian sekali lagi?"

Yuna menelan ludah.

Yuna (dalam hati):

Dia memang gila…

Dan saat dia begini, dia jadi "orang lain".

Itu yang membuat kami tidak pernah bisa melawannya—bahkan dulu.

Ilysta menyipit, namun ia tetap tenang. Ia seperti sedang menegosiasikan kontrak, bukan persahabatan.

Ilysta:

"Baik."

"Kami ikut."

"Tapi dua syarat."

Ia mengangkat dua jari.

Ilysta:

"Pertama—kalau hadiahmu tidak memuaskan kami, kau harus mengabulkan satu permintaan kami. Tanpa terkecuali."

"Kedua—jangan lakukan hal yang sama kepada kami seperti masa lalu."

"Kalau itu terjadi… kami pergi."

"Dan setelah itu, keluargalah yang akan bicara denganmu."

Natsumi menatapnya beberapa detik. Lalu senyumnya berubah—kembali ceria, seolah tadi tidak ada ancaman sama sekali.

Natsumi (ceria):

"Baiklah! Setuju!"

"Kalau begitu kalian harus ikut rencanaku ya—tanpa protes!"

Yuna menghela napas panjang, tampak lesu—tapi akhirnya mengangguk juga.

Yuna:

"Benar-benar entah kenapa kita masih bisa berteman."

Ilysta:

"Itu karena memang tidak ada yang mau berteman denganmu Yuna."

Yuna:

"Apa bedanya denganmu Ilysta."

Ilysta melirik ke arah Yuna dan kembali meminum teh di cangkirnya.

Natsumi melihat dua temannya yang tak pernah benar-benar akur itu, lalu hanya tersenyum kecil.

Begitulah cara mereka berteman.

Lalu ia bangkit berdiri, merapikan rok kecilnya, lalu menatap keduanya dengan gaya "ayo jalan".

Natsumi:

"Ayo. Kita berangkat."

Yuna mengangkat tangan pelan.

Yuna:

"Boleh pesan kue buat dibawa pulang dulu?"

Natsumi menatapnya sebentar… lalu tertawa kecil.

Natsumi:

"Tentu. Pesan sebanyak yang kamu mau."

Yuna:

"Terima kasih Sumi."

—Abu yang Tersisa

Dua jam setelah api benar-benar padam, halaman rumah Mina berubah menjadi tempat yang sunyi dan menyakitkan.

Para tetangga yang tadi berdatangan sudah berhamburan pergi setelah api padam sepenuhnya.

Dan rumah itu… sudah tidak punya bentuk.

Yang tersisa hanya rangka hangus, bau kayu terbakar, dan sisa-sisa barang yang tidak lagi bisa disebut "milik".

Dua petugas—seorang pria beastkin dan seorang wanita elf—berdiri di depan Ayah Mina, mencatat kronologi.

Sementara itu, Ibu Mina tertidur lemas di bahu putrinya—bukan karena tenang, tapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menangis lagi.

Mina (dalam hati):

Apa yang sebenarnya terjadi pada kami…?

Kenapa semuanya jadi begini…?

Kalau ini hukuman… aku mohon berikanlah kepadaku saja.

Jangan ayah dan ibu…

Langkah mendekat.

Mina menoleh—Ayahnya sudah selesai bicara dengan polisi. Wajahnya terlihat mencoba tegar, tapi suaranya lirih.

Ayah Mina:

"Nak… ayo bangunkan ibumu."

"Kita harus pergi dari sini."

Mina mengangguk pelan. Ia membangunkan ibunya dengan lembut.

Ibu Mina membuka mata perlahan—lalu begitu melihat puing rumahnya, wajahnya retak lagi. Namun Ayah Mina dan Mina menuntunnya masuk ke mobil sebelum kesedihan itu kembali meledak.

Di dalam mobil, ibunya akhirnya bersuara, suaranya gemetar.

Ibu Mina:

"Kenapa keluarga kita harus mengalami ini…?"

"Apa kita pernah berbuat jahat pada seseorang…?"

Ayah Mina menghela napas, menatap jalan dengan mata yang basah, tapi tetap memaksa suaranya stabil.

Ayah Mina:

"Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi."

"Tapi selama kita masih bersama… kita masih bisa bangkit."

Ibunya menelan ludah, lalu mengingat sesuatu—lebih menyakitkan dari api.

Ibu Mina:

"Lalu… liburan besok?"

"Dan masalah keluarga Hayato…?"

"Dokumen-dokumen penting… semuanya hangus tak tersisa."

"Sekarang… kita tidak punya apa-apa untuk melawan mereka…"

Ayah Mina diam sejenak.

Lalu ia berbicara pelan, seperti janji pada dirinya sendiri.

Ayah Mina:

"Ayah akan mencoba meminta bantuan keluarga itu."

"Apa pun yang terjadi… Ayah akan berusaha."

Mina, yang sedari tadi menahan diri, akhirnya tak bisa diam.

Mina:

"Ibu… Ayah…"

"Kalian sedang membicarakan apa?"

"Kenapa kalian tidak bilang pada Mina?"

"Keluarga siapa yang kalian maksud… bisa membantu kita?"

Kedua orang tuanya tersentak—mereka lupa putrinya duduk tepat di belakang, mendengar semuanya.

Ayah Mina menatap Mina melalui kaca spion, lalu bicara hati-hati.

Ayah Mina:

"Tidak apa-apa, nak…"

"Ayah hanya memikirkan satu kemungkinan."

"Mungkin… hanya ada satu keluarga yang bisa membantu kita."

Mata Mina sempat berbinar—harapan kecil yang menyala di atas abu.

Mina:

"Benarkah?! Kalau begitu kita harus temui mereka!"

Ayah Mina menghela napas—napas berat, napas orang yang tahu pintu itu mungkin tidak akan dibukakan.

Ayah Mina:

"Tapi keluarga itu… bukan keluarga biasa."

"Mereka keluarga bangsawan dari Dunia Elyndor, yang saat ini sedang membangun kerja sama di Dunia Manusia."

"Ayah tidak tahu… apakah mereka mau membantu kita yang sudah tidak punya apa-apa."

"Mengingat kita hanya keluarga biasa di dunia manusia."

Harapan Mina turun lagi, tapi tidak mati.

Mina (pelan):

"Ya… benar."

"Kita tidak mungkin mendapat bantuan begitu saja…"

Ibu Mina menyela, mencoba menegakkan dirinya dengan sisa kekuatan.

Ibu Mina:

"Jangan takut, nak."

"Ayahmu pasti punya cara."

"Benar kan, Yah?"

Ayah Mina mengangguk kecil.

Ayah Mina:

"Ayah akan mencoba."

"Jadi kalian tidak perlu memikirkannya, biarkan Ayah yang urus ini."

Ibu Mina menarik napas, lalu bertanya—perlahan, seperti menyebut nama terakhir sebelum bertarung.

Ibu Mina:

"Ngomong-ngomong… siapa nama keluarga itu?"

Ayah Mina terdiam. Seolah nama itu sendiri punya berat.

Lalu ia mengucapkannya.

Ayah Mina:

"Keluarga yang akan kita minta bantuan… adalah keluarga Kagehara."

"Mereka adalah keluarga bangsawan besar dari Dunia Elyndor."

"Dan Ayah… hanya pernah bertemu mereka sekali."

Mina membeku sesaat—seperti ada ingatan yang baru saja mengetuk dari dalam kepalanya.

Ia tanpa sadar mengulangnya.

Mina (pelan):

"…Kagehara… Kagehara…"

Ayah Mina menoleh cepat.

Ayah Mina:

"Kau tahu sesuatu tentang keluarga itu, nak?"

Mina tersentak, lalu buru-buru menggeleng.

Mina:

"Tidak… Ayah."

"Mina hanya… ingat sesuatu, tapi Mina ragu."

"Tidak usah Ayah pikirkan."

Ayah Mina menatapnya beberapa detik—lalu memilih percaya.

Ayah Mina:

"Baik."

"Ayah tidak akan memaksa."

"Untuk kamu bercerita jika kamu enggan."

Mobil melaju menjauh dari puing rumah. Di luar, langit sore tampak terlalu tenang untuk tragedi sebesar itu.

Di kejauhan, beberapa pasang mata masih menatap.

Dan salah satu dari mereka—dengan suara begitu pelan, hampir seperti bisikan yang hanya didengar api—berkata:

Sosok Misterius (pelan):

"Hidupmu tidak akan pernah tenang, Mina…"

"sampai kau merasakan apa yang aku rasakan."

More Chapters