Cherreads

Chapter 200 - Bab 200: Kata yang Terpaksa Diucapkan

Di kedalaman Hutan Terlarang, di hadapan gerbang dimensi yang terus berdenyut pelan seperti napas dunia…

Rei duduk seorang diri di atas batu tempat ia biasa berjaga.

Angin malam belum benar-benar turun, namun udara di sekitar gerbang sudah terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya tipis dari segel-segel sihir memantul di permukaan tanah, memberi warna kebiruan pada wajah Rei yang sejak tadi terlihat tidak tenang.

Tiba-tiba, tangan Rei bergerak menekan dadanya sendiri.

Bukan luka.

Bukan pula serangan.

Melainkan perasaan aneh yang datang tanpa bentuk.

Rei memejamkan mata sesaat, alisnya berkerut.

Rei (dalam hati):

Kenapa perasaan aneh ini muncul lagi…

Seperti ada sesuatu yang baik dan buruk akan datang bersamaan.

Hal baik itu… memang yang kuharapkan.

Tapi hal buruk ini… jika bukan diriku… lalu siapa?

Siapa yang akan terkena?

Apa aku harus pergi dari sini?

Tidak… itu tidak mungkin.

Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum benar-benar yakin gerbang ini aman.

Dan kemungkinan hal itu… hampir tidak akan pernah terjadi.

Ia menarik napas panjang, namun sesak di dadanya tidak juga hilang.

Untuk beberapa saat, hanya suara angin dan denyut energi gerbang yang terdengar.

Lalu—

suara langkah.

Pelan.

Lalu semakin cepat.

Rei membuka mata dan menoleh sedikit, namun belum sempat berkata apa-apa, sebuah suara perempuan lebih dulu memanggilnya dengan cemas.

Sylvhia:

"Rei! Apa yang terjadi?"

"Kenapa kau terlihat kesakitan?"

Ternyata itu Sylvhia.

Ia datang hampir berlari, gaun hijaunya bergoyang cepat, wajahnya penuh kepanikan yang tidak ia sembunyikan sedikit pun. Begitu tiba di hadapan Rei, ia langsung mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Rei, seolah takut ia akan jatuh sewaktu-waktu.

Namun reaksi Rei justru cepat.

Ia menepis tangan Sylvhia.

Tidak keras sampai menyakitkan.

Tetapi cukup jelas untuk membuat gerakan Sylvhia terhenti.

Rei:

"Pergilah."

"Aku tidak apa-apa."

"Jadi khawatirkanlah dirimu sendiri."

Sylvhia membeku sesaat.

Di belakangnya, Gaelthra yang baru tiba beberapa langkah kemudian ikut berhenti. Wajah Guardian Tanah itu menunjukkan keterkejutan sekaligus kekesalan, tetapi ia hanya bisa mengepalkan tangan pelan di samping tubuhnya.

Gaelthra (dalam hati):

Mungkin menurutmu cara ini akan membuatnya membencimu dan menjauhimu, Rei…

Tapi Sylvhia sama keras kepalanya denganmu.

Mau bagaimanapun, dia tidak akan pernah membencimu.

Dan aku… tidak bisa berbuat apa-apa untuk urusan ini.

Sylvhia sendiri masih terdiam beberapa detik.

Tangannya yang tadi ditepis perlahan turun, namun bukannya marah, sorot matanya justru mengeras dalam diam.

Sylvhia (dalam hati):

Tidak, Rei.

Aku tidak akan menyerah.

Aku akan membuatmu menerima keberadaanku di sisimu.

Jadi apa pun sikapmu… apa pun perlakuanmu… aku tidak akan mundur.

Ia menarik napas, menenangkan dadanya, lalu kembali menatap Rei dengan cemas yang masih sama.

Sylvhia:

"Tapi kau memang terlihat kesakitan."

"Apa yang terjadi?"

"Ceritakan padaku."

"Aku akan membantumu menyembuhkannya."

Rei menatapnya, lalu sekilas menoleh ke arah Gaelthra dengan tatapan yang seolah bertanya: *Apa yang kau katakan padanya?*

Gaelthra hanya mengangkat kedua tangan, lalu menggeleng pelan sambil melambai kecil—jelas memberi isyarat bahwa ia tidak mengatakan apa-apa.

Rei memejamkan mata sejenak.

Rei (dalam hati):

Apa yang terjadi…?

Kenapa dia malah menjadi lebih keras kepala?

Bahkan bersikap kasar seperti tadi pun tidak membuatnya mundur.

Ia menghela napas panjang.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak Sylvhia datang, Rei memutar tubuhnya sepenuhnya dan menghadap langsung kepadanya.

Wajahnya serius.

Teramat serius.

Rei:

"Sylvhia."

Sylvhia yang dipanggil dengan nada seperti itu langsung menegakkan tubuhnya.

Sylvhia:

"Ada apa, Rei?"

Rei menatap lurus ke matanya.

Rei:

"Pergilah dari hadapanku."

"Karena ini demi kebaikanmu."

"Dan jika kau mencintaiku…"

"…turutilah permintaanku ini."

Ucapan itu membuat udara di sekitar mereka seolah berhenti.

Sylvhia membelalak.

Jantungnya berdegup terlalu keras.

Namun beberapa detik kemudian, ia menggigit bibir dan menggeleng kuat.

Sylvhia:

"Tidak."

"Aku tidak akan pergi."

"Aku tidak akan pergi sampai kau menerima keberadaanku."

"Aku ingin selalu bersamamu…"

"Meskipun itu mungkin menjadi akhir hidupku."

Mendengar itu, Rei menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Benar-benar menutup wajahnya.

Bukan karena malu.

Melainkan karena pusing.

Rei (dalam hati):

Kenapa perempuan ini jauh lebih sulit ditenangkan daripada gerbang ini…

Namun Sylvhia belum selesai.

Dengan wajah memerah, tapi suara yang tetap teguh, ia melanjutkan:

Sylvhia:

"Jadi apa pun yang terjadi…"

"aku akan tetap berada di sampingmu."

"Mau kau suka ataupun tidak."

Rei menurunkan tangannya perlahan.

Ia menatap Sylvhia lama sekali.

Lalu akhirnya menghembuskan napas berat, seperti menyerah pada keras kepalanya perempuan di depannya.

Rei:

"Baiklah."

"Aku akan mengizinkan kau berada di sisiku…"

"…jika kau menuruti semua perkataan Gaelthra."

Sylvhia:

"Tidak adil…"

"Kau baru memberiku harapan, lalu langsung memberiku syarat."

Rei:

"Karena aku tidak ingin…"

"…orang yang kusayang hilang lagi di depanku…"

"…saat aku tidak mampu berbuat apa-apa."

Waktu seperti berhenti.

Sylvhia tidak lagi mendengar suara angin.

Tidak lagi mendengar denyut gerbang.

Yang terdengar di kepalanya hanyalah potongan kalimat itu—berulang-ulang.

*Orang yang kusayang.*

*Orang yang kusayang.*

*Orang yang kusayang.*

Wajah Sylvhia seketika memerah seluruhnya sampai ke telinga.

Matanya membesar.

Tubuhnya kaku.

Sementara Rei, yang tidak ingin memberinya waktu untuk tenggelam terlalu jauh dalam ucapan itu, langsung melanjutkan dengan tegas:

Rei:

"Jadi turuti perkataan Gaelthra mulai sekarang."

Setelah itu, Rei menoleh ke arah Gaelthra.

Tatapan itu singkat, namun jelas.

*Bawa dia pergi.*

Gaelthra mengerti.

Ia segera melangkah mendekat, lalu menarik Sylvhia dengan paksa namun tetap hati-hati dari sana. Sylvhia tidak melawan—bukan karena tunduk, tapi karena ia benar-benar sedang tidak sanggup berpikir.

Kedua tangannya menempel di pipinya sendiri yang panas.

Langkahnya goyah.

Dan bibirnya terus berbisik pelan seperti orang yang baru bangun dari mimpi indah.

Sylvhia:

"Rei… akhirnya menyukaiku?"

"Apa ini mimpi…?"

"Rei… menyukaiku…"

Gaelthra yang menyeretnya menjauh hanya bisa menghela napas panjang.

Gaelthra:

"Ini bukan mimpi."

"Tapi juga bukan saatnya kau tenggelam dalam imajinasimu sendiri."

"Jadi jangan sia-siakan harapannya."

"Dan mulai sekarang, ikuti perkataanku."

Sylvhia menoleh padanya dengan wajah masih semerah tomat.

Lalu, perlahan, ia mengangguk.

Sementara itu, setelah suasana di depan gerbang kembali sunyi, Rei akhirnya duduk lagi seorang diri.

Tatapannya kembali pada gerbang dimensi.

Tetapi kali ini, kelelahan di wajahnya lebih jelas dari sebelumnya.

Rei (dalam hati):

Menyusahkan…

Terpaksa aku harus mengatakannya.

Kalau tidak, dia tidak akan pernah mau menjaga dirinya sendiri.

Dan jika suatu saat aku benar-benar tiada…

setidaknya dia harus tetap hidup.

Angin berhembus pelan.

Gerbang tetap berdenyut.

Dan Rei kembali duduk di tempatnya—sendirian lagi, seperti biasa—namun kali ini dengan satu kalimat yang masih menggema di udara, dan tanpa ia sadari, telah mengubah hati seseorang yang sudah lama menunggu jawaban.

More Chapters