Cherreads

Chapter 8 - bab 8

Tengah malam. Hujan.

Akai sampai di penginapan terakhir di ujung gang. Bajunya basah kuyup. Di bawah celananya ada bercak hitam kering. Tiga penginapan sebelumnya sudah menolaknya karena tidak punya kartu Identitas.

Pintu kayu itu ia dorong.

Seorang wanita muda dengan piring di tangan langsung mundur.

"Siapa kau?! Mau merampok?!"

Akai bersandar di kusen pintu. Napasnya berat. Kakinya sakit karena sudah berjalan enam jam tanpa henti.

Matanya tidak menatap wanita itu. Matanya menyapu ruangan. Jendela kiri tertutup, pintu dapur ada pisau di atas meja.

"Butuh kamar," kata Akai.

"Gak ada! Pergi! Atau aku panggil penjaga!"

_Kalau dia teriak, penjaga datang. Aku harus bungkam dia sekarang,_ batin Akai.

Tangannya baru bergerak ke belakang pinggang, ke kerambit —

"Lia, berisik."

Suara itu datang dari tangga atas.

Seorang wanita yang lebih tua turun. Langkah kakinya tidak ada suara, padahal tangga itu dari kayu tua yang harusnya berderit.

Ibu Loa.

Dia menatap Akai, bukan dengan takut, tapi seperti sedang menilai barang.

"Jatuhin pisaumu," kata Ibu Loa pelan.

Akai mengernyit. Tangannya tetap menggenggam kerambit di belakang pinggang dengan erat.

"Aku bilang, jatuhin."

Saat itu Akai merasakannya. Kerambitnya tertarik sendiri. Bukan tangannya yang ditarik, tapi besinya.

Ia menatap tangannya sendiri. Tidak ada apa-apa yang mengikat. Tapi ia merasa ada benang yang mengikat logam itu. Benang transparan, hanya kelihatan kalau terkena cahaya lampu minyak. Benang itu keluar dari ujung dua jari Ibu Loa.

_Apa itu? Sihir? Di duniaku tidak ada hal seperti ini._

Akai mempererat genggamannya. Urat di tangannya keluar. Ia mencoba menariknya kembali.

Sia-sia. Ibu Loa hanya menggerakkan dua jarinya dengan enteng, seperti sedang mempermainkan layang-layang.

Selama tiga detik mereka adu kekuatan. Akai mengandalkan kekuatan fisik. Ibu Loa, berdiri empat meter jauhnya, hanya dengan dua jari.

Keringat Akai menetes. Tangannya gemetar karena kehabisan tenaga dan lapar.

_Klek._

Genggamannya lepas.

Kerambit itu melayang pelan di udara, lalu mendarat mulus di tangan Ibu Loa.

Hening.

Lia melongo. "Bu, Ibu pakai benang lagi..."

Ibu Loa tidak menjawab Lia. Ia melemparkan kerambit itu balik. Akai menangkapnya.

"Genggamanmu jelek," kata Ibu Loa. "Kau terlalu berpikir bawah. Kekuatan fisik saja tidak ada gunanya di sini."

"Siapa namamu?" tanya Ibu Loa.

"Akai."

"Dari mana asalmu?"

"Barat."

"Kampung apa?"

Akai diam. Ia memang tidak tahu.

Ibu Loa tersenyum tipis. Ia melemparkan kunci kamar kayu ke atas meja.

"Kau bisa menginap di sini. Tapi ingat, sewanya mahal."

Akai mengambil kunci itu.

Setelah Lia disuruh masuk kamar dan mengunci pintu, Ibu Loa duduk. Suaranya berubah pelan, bukan seperti pemilik penginapan lagi.

"Mau bergabung dengan organisasiku?" tanya Ibu Loa.

Akai mengernyit. "Organisasi apa?"

"Lingkaran Benang," jawab Ibu Loa. "Di luar, orang mengira tempat ini hanya penginapan kumuh. Di dalam, kami adalah organisasi yang bergerak di balik bayang-bayang. Kami yang mengatur siapa yang bisa hidup di kota ini tanpa ketahuan Serikat. Kami yang membuat Identitas."

_Organisasi bawah tanah._

"Jika kau bergabung, aku buatkan kartu Identitas untukmu. Kau dapat uang. Aku akan melindungimu. Tidak ada penjaga yang akan menyentuhmu," kata Ibu Loa.

"Jika aku tolak?" tanya Akai.

"Tolak saja," jawab Ibu Loa enteng. "Jika kau tolak, kau mau lari kemana? Tidak ada penginapan yang mau menerima orang tanpa Identitas. Cepat atau lambat penjaga akan menemukanmu."

"Kenapa aku?" tanya Akai. "Kenapa kau butuh aku?"

Ibu Loa mengangkat dua jarinya. Benang transparan itu berkilat.

"Benangku bisa mengambil barang dari jarak jauh. Tapi benangku tidak bisa membuka pintu yang dijaga mantra. Mantra itu hanya bereaksi pada sihir. Aku butuh tangan manusia biasa. Tangan yang tidak punya sihir sepertimu."

Ibu Loa menatap lurus ke mata Akai.

"Aku butuh hantu. Seseorang yang tidak terdeteksi oleh sihir. Kau adalah hantu itu, Akai. Karena kau tidak punya sihir sama sekali."

Akai terdiam. Ia mengerti. Ia bukan direkrut karena kasihan. Ia direkrut karena kekurangannya justru adalah kelebihan di organisasi ini.

_Jika aku menolak, aku tidak akan pernah tahu seisi dunia ini. Jika aku menerima, aku bisa belajar dan punya tempat._

"Aku terima," kata Akai. "Aku bergabung dengan Lingkaran Benang."

Ibu Loa tersenyum. Bukan senyum seorang ibu. Itu senyum seorang pemimpin organisasi yang baru saja mendapatkan bidak terpenting.

"Bagus. Selamat datang di Lingkaran Benang," kata Ibu Loa. "Kamar paling ujung. Mandi di belakang. Besok pagi kau akan bertemu dengan yang lain. Dan ingat aturan pertama kami: Apa yang terjadi di penginapan, tetap di penginapan."

More Chapters