Cherreads

Blended Bonds of Time

Manas_4738
21
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 21 chs / week.
--
NOT RATINGS
441
Views
Synopsis
Jutaan tahun yang lalu, Bumi dikuasai oleh makhluk purba dan diatur oleh seleksi alam yang brutal. Sebuah hujan meteor yang menghancurkan mengubah segalanya, menggeser struktur planet dan jalur evolusi. Makhluk yang selamat perlahan berevolusi menjadi ras baru yang diberkahi dengan kemampuan sihir. Hewan-hewan purba yang lolos dari bencana berubah menjadi Magic Beast (bagi yang memperoleh kekuatan) atau hanya disebut Beast (bagi yang tidak). Di dunia inilah Manas hidup—seorang pemuda malas yang terus-menerus berusaha menghindari masalah. Namun, ketika ia dipaksa untuk mengemban tanggung jawab menemani Sarira, satu-satunya orang yang benar-benar ingin ia lindungi, hidupnya berubah total. Selama perjalanan ini, Manas menyadari adanya perubahan mendalam yang terjadi dalam dirinya. Transformasi ini akan memaksanya mengorbankan prinsip-prinsip intinya, atau hanya berdiri dan menyaksikan siklus kejam seleksi alam dimulai sekali lagi.
VIEW MORE

Chapter 1 - Ch.1 (Permulaan)

"Manas... Manas... Manas ayo bangun! Kau kan ingin menemaniku ke lapangan," seru Sarira menarik selimut tebal yang membalut tubuh Manas.

Manas menggumam serak dan menarik kembali selimutnya dengan kuat. "Lima menit lagi..."

"Ayolah Manas.... aku tak mau kesiangan karenamu" protes Sarira.

Tidak ada jawaban, hanya dengkuran halus. "Hmmm.... ZzZzZz."

Sarira menjadi kesal. Dengan sekali sentak, ia merampas selimut itu dan menggunakannya untuk menutupi wajah Manas. "Manas!!! Kau ini memang ya!!!"

Mereka menelusuri jalan Menuju Lapangan Desa Birendra, sekeliling mereka jalan desa yang mulai ramai dengan hingar-bingar kemeriahan. Manas yang kini sudah berpakaian lengkap, berusaha melepaskan genggaman tangan Sarira yang erat.

"Sarira, bisakah kau melepas genggaman tanganmu ini?" keluh Manas. "Bukannya aku juga pernah bilang padamu, kalau aku tidak tertarik sedikit pun untuk datang, tapi kamu tetap saja memaksaku."

"Tidak akan kulepas tanganmu sebelum kita sampai," jawab Sarira mantap. "Kalau aku lepas, pasti kau akan langsung kabur."

Tiba-tiba, segerombolan anak kecil berlarian ke arah mereka. "Kak Sarira, ayo kita main bersama lagi!"

Sarira tersenyum. "Maaf ya, hari ini Kakak tidak bisa bermain bersama kalian. Kakak sedang terburu-buru. Mungkin nanti disaat Kakak ada waktu luang, Kakak akan bermain dengan kalian, oke?!"

Anak-anak itu menjawab serempak. "Baiklah, kami tunggu ya, Kak!"

"Iya, janji," balas Sarira.

Manas berkomentar sambil menggelengkan kepala. "Terkenal seperti biasanya, ya."

"Aku ini tidak pemalas sepertimu, ya. Ayo cepat kita sudah terlambat" Sarira menariknya lagi, mempercepat langkah mereka menuju lapangan.

Sesampainya di lapangan, pandangan mereka disambut oleh hiruk pikuk keramaian. Banyak sekali tenda kios didirikan, pemandangan yang tak biasa terlihat di desa Birendra.

Sesampainya di lapangan terlihat banyak sekali tenda kios yang didirikan. Aneka masakan serta minuman yang mengugah selera, kios aksesoris, kios pakaian, serta hiburan jalanan yang turut memeriahkan acara tersebut

"Wah semua makanan ini terlihat enak, aku jadi lapar". Terlihat air liur Sarira yang hampir menetes melihat banyak hidangan menggugah selera "Cepatlah Sarira nanti kita terlambat". Ucap Manas yang berusaha menyadarkan Sarira supaya tetap pada tujuan

"Ouhh, lihat siapa yang bersemangat sekarang? Siapa tadi yang sebelumnya tak bisa bangun pagi?". Jawab Sarira dengan nada menyindir "Mana ada bersemangat, ayolah cepat berkumpul dengan yang lain supaya aku bisa cepat-cepat pulang". Ucap Manas membalas sindiran Sarira

Manas dan Sarira melanjutkan perjalanannya ke tempat acara diselenggarkan.

Sarira: "Itu ayah? Ayah….!".Sarira melambaikan tangan dan berlari menghampiri nya

"Oh Sarira dan juga Manas akhirnya kalian datang". Ucap Grain yang lega melihat mereka sampai

"Apa kami terlambat?". Sarira bertanya dengan nada sedikit khawatir

"Tidak, Kalian datang tepat waktu. Acara nya belum dimulai" jawab Grain menenangkan Sarira

Dari kejauhan terdengar suara pembawa acara yang memanggil mereka "Untuk Kepala desa dan calon Traveler's harap bersiap-siap karena acara akan segera dimulai".

"Ayah sudah dipanggil, jadi kalian cepatlah berkumpul dengan teman-teman mu". Jawab Grain

"Baik kami akan kesana, ayo cepat Manas sebelum acaranya dimulai". Jawab Sarira sambil menarik tangan Manas untuk kedua kalinya

"Sekarang sampailah kita pada puncak acara Pelepasan petualang muda yaitu pemberian Identity crystal kepada traveler's sebagai bukti kalau pemegang crystal ini telah diberi izin untuk mengembara keluar desa. Di dalam crystal ini terdapat informasi pemegang crystal itu sendiri seperti: Nama, umur, & tempat asal pemegang nya. Untuk para Traveler's dipersilahkan naik keatas panggung". Ucap pembawa acara yang memanggil para partisipan

Manas maju dengan wajah lesu

"Ekspresi macam apa itu? Ayo semangatlah". Ucap Sarira yang menyemangati Manas

"Mana ada orang yang semangat saat di paksa untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan nya. Ayo cepat naik, semakin cepat acara selesai semakin cepat aku bisa kembali tidur". Tepis Manas akan ucapan penyemangat dari Sarira

"Silahkan pak kepala desa Grain untuk memberikan crystal nya" kalimat penanda dari pembawa acara bahwa sudah mereka sudah mencapai dipenghujung acara, Grain menyerahkan crystal kepada Sarira dan Manas dengan senyuman diwajahnya

"Terima kasih ay... Terima kasih pak kepala desa" sahut Sarira dengan suka cita "Entah aku harus senang atau menyesal karena terlibat hal ini". Ucap Manas yang bingung harus merespon bagaimana atas ini

Kepala desa tiba-tiba menarik tangannya Manas

"Manas, kupercayakan Sarira kepada mu". Ujar Grain sambil menepuk bahu Manas "Kenapa harus aku? Bukankah kau ayahnya tapi kenapa kamu selalu merepotkan ku dalam menjaga Sarira." Jawab Manas keheranan

"Sebenarnya aku juga tak ingin mengizinkan Sarira pergi tapi ia tetap saja kekeh dengan pendiriannya". Ucap Grain yang menghembuskan nafas karena terpaksa mengalah

"Berhenti lah menuruti semua keinginannya, sesekali kau harus bersikap tegas pada Sarira dan ia juga sudah besar. Tak selamanya dunia berjalan sesuai keinginannya". Jawab Manas dengan nada sedikit kesal.

"Walapun dia sudah besar tetap saja sebagai orang tuanya aku tetap khawatir dan juga kalau kamu tidak keberatan aku bersedia menikahkannya dengan mu karena tak akan ada yang sanggup menuruti semua keinginan egois selain dirimu". Jawab Grain yang berusaha merayu Manas.

"Tidak, terima kasih. Energiku tidak sanggup mengikutinya dan juga janganlah terlalu percaya padauk. aku ini bukan orang yang baik, masih ada orang yang lebih pantas dari ku". Manas tanpa pikir panjang menolaknya tawaran Grain

"(Meskipun sifat mu buruk tapi kau masih menjaga putri ku dengan baik dan itu lah yang bikin aku sangat percaya padamu) Kuserahkan padamu". Grain memaksa Manas kembali

"Ouy jangan seenaknya". Manas berusaha menolak tapi perkataannya tidak didengar oleh Grain

"Kamu tadi bicarakan apa dengan ayah". Manas membuang napas nya kemudian menjawab "Bukan hal yang penting".

Setelah acara selesai, Sarira mengajak Manas untuk berkeliling lapangan

"Ayo kita berkeliling Manas". Ujar Sarira yang mengajak Manas

"Apa kamu tidak bisa pergi sendiri? Aku ingin istirahat disini". Manas berusaha menolak karena sudah kelelahan akibat keramaian

"Sudah lah ikut aja". Jawab Sarira sambil menarik tangan Manas untuk menemaninya berkeliling kedai makanan.

Setelah Sarira selesai membeli makanan yang menurutnya terlihat enak

"Waaah, semua nya terlihat enak. Selamat makan!". Ujar Sarira yang memakan makanannya seperti tidak ada hari esok

"Pelan-pelan makannya". Ujar Manas yang berusaha memperingati Sarira

"Tenang saja, aman, Cough… Cough…"

"Dasar kau, baru saja aku memperingatkan mu. Nih cepat minum". Manas memberikan air minumnya ke Sarira dan Sarira langsung menenguk habis minuman yang diberikan Manas.

"Ah selamat, Makasih ya". Ujar Sarira merasa lega

"Tetap disini jangan pergi kemana-mana".

"Memang nya kamu ingin pergi kemana?".

"Beli minuman lagi".

"Setelah selesai beli minuman balik lagi kesini, jangan coba-coba untuk kabur". Ucap tegas Sarira supaya Manas tidak kabur

"Iya bawel, tetap disini agar aku gampang mencari mu".

"Okeee". Jawab Sarira yang memberi jempol nya ke Manas dan kembali melanjutkan makannya. Tak lama kemudian setelah Manas membeli minuman

"Apa ini Cuma perasaan ku atau memang makanan di meja ini bertambah banyak?" Ucap Manas keheranan yang melihat dimeja terlihat banyak makanan.

"Tadi aku membeli nya karena mencium bau makanan ini saat orang lain lewat tadi".

Jawab Sarira sambil tersenyum dengan mulut yang penuh makanan.

"Apa lidah mu tak apa makan itu? Dari bau nya kecium bau cabe yang kuat". Ucap Manas yang melihat wajah Sarira memerah

"Tidak pedas kok" jawab Sarira atas pertanyaan Manas

"(Terlihat jelas diwajahnya yang memerah kalau ia sekarang lagi menahan pedas dan malu untuk mengakuinya, keringatnya sampai bercucuran seperti itu) Tak usah berlagak kuat, nih cepat minum buat ngilangin pedasnya". Respon Manas yang melihat Sarira memaksakan diri memakan makanannya sambil memberikan minum kepadanya

"Untuk ku? Makasih". Ujar Sarira yang sudah tidak kuat berpura-pura dan langsung meminum habis minumannya

"Ah masih belum ilang, aku minta minumanmu". Kata Sarira yang berusaha mengambil minuman Manas tapi Manas berhasil menghindari minuman yang hampir direbut darinya

"Enggak ada, pergi beli sendiri sana". Jawab Manas dengan tegas

"Pelit, aku masih kepedasan"

"Salah mu sendiri makan makanan pedas"

"Bagiiiii".

"Enggak..."

Setelah selesai makan, Manas dan Sarira memutuskan untuk pulang

"Kenyangnya". Ucap Sarira kekenyangan

Manas: "Kau ini memang ya kalau berurusan tentang makanan selalu nomor satu, jangan sampai sifat rakus mu itu menjadi beban saat kita bertualang nanti". Kata Manas menyindir Sarira

"Memangnya kenapa? Kalau perut kenyang kita bisa leluasa bergerak". Jawab Sarira Berusaha menyakinkan Manas "Kamu kira berapa banyak nanti pengeluaran Cuma untuk makanan saja?!"

"Kita tinggal ngambil banyak quest, jadi tenang saja". Jawaban enteng dari Sarira "Di era yang sekarang ini quest untuk para pemula tidak sebanyak waktu kebangkitan "The Morrigan" ucap manas

"Setelah hampir seribu tahun berlalu semenjak "The Morrigan" disegel,' menurutmu apakah kita sudah bisa hidup dengan damai?"

Manas merenung. "Entahlah, setidaknya kini kita bisa hidup berdampingan dengan ras lainnya dengan damai." Ia melanjutkan, "Bukan cuma itu, perkembangan kehidupan manusia bisa melaju dengan cukup cepat itu karena bantuan dari ras lainnya."

Sarira mendengarkan dengan saksama.

"Contohnya Bangsa Elf," jelas Manas. "Berkat pengetahuan bangsanya, manusia kini mengerti cara bercocok tanam dan menjinakkan serta membudidayakan Beast liar untuk keperluan sehari-hari, seperti diambil daging atau hasil lainnya dari makhluk tersebut, mengangkut barang berat, dan sarana transportasi jarak jauh, dulu manusia hanya berburu kesatu tempat ke tempat lain nya."

Ia melanjutkan, "Bangunan kokoh yang ada di ibukota, serta peralatan batu sihir yang biasa kita pakai sehari-hari, itu semua didesain oleh Arsitek Profesional Bangsa Dwarf."

Sarira terkejut. "Ternyata kamu tahu cukup banyak, ya. Kukira selama ini kamu hanya bermalas-malasan saja di rumah."

"Setidaknya aku mempelajari apa yang membuatku tertarik saja," jawab Manas santai.

"Dari semua itu, apa yang benar-benar membuatmu tertarik?" tanya Sarira.

"Mungkin tentang Beast dan MagicBeast," jawab Manas.

"MagicBeast? Apa kamu ingin menjadi Tamer?"

"Bisa dibilang begitu" balas Manas.

"Kenapa kamu memilih itu?"

Manas menjawab dengan pragmatis. "Bepergian dengan jalan kaki itu merepotkan, dan dengan bantuan Beast juga kita bisa berburu dengan mudah. Itu semua berguna juga untuk menghemat pengeluaran kita." Ia menghela napas. "Aku tidak mau kesulitan keuangan karena uangnya habis hanya untuk makanan saja."

Ia lantas melihat sekeliling. "Sudah, ayo kita cepat-cepat pulang supaya kita bisa mempersiapkan perbekalan untuk besok."

Ubah ini menjadi bahasa jepang Tanpa menambahkan nama di depan teks percakapan