Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi uang bisa membeli penginapan yang kasurnya empuk dan tidak dihuni kutu busuk. Itulah filosofi baruku saat kami melangkah masuk ke Distrik Perdagangan Odelia.
Setelah petualangan maut di reruntuhan (dan insiden spons penyedot arwah), kami membawa pulang sekantong koin emas dan beberapa artefak kuno. Elena berjalan dengan langkah ringan, sementara aku berjalan di belakangnya sambil memikul karung jarahan seperti Sinterklas yang kehabisan rusa.
Kami berhenti di depan sebuah toko besar bertuliskan: TOKO BARANG ANTIK & GADAI "MATA DUITAN". Jujur sekali namanya.
Di dalam, seorang pria tua dengan kacamata berlensa tunggal (monocle) dan kumis melengkung sedang menimang-nimang sebuah patung emas. Namanya Tuan Bargo.
"Ah, Nona Elena! Bunga kebanggaan Odelia!" sambut Bargo dengan senyum lebar yang memamerkan gigi emasnya. "Membawa barang bagus hari ini? Atau hanya sampah goblin seperti biasanya?"
"Hati-hati bicaramu, Bargo," Elena meletakkan peti kecil berisi permata di atas meja. "Ini dari Kuil Zanark. Murni."
Mata Bargo membelalak. Dia segera mengeluarkan kaca pembesar. "Luar biasa! Kristal Mana murni! Emas kuno! Ini bernilai setidaknya 500 Koin Emas!"
Aku tersenyum lebar. 500 Koin Emas! Itu cukup untuk hidup santai selama setahun! Aku sudah membayangkan memesan steak daging naga dan jus buah peri.
"Dan kau, jongos kecil," Bargo menatapku dengan jijik. "Apa yang ada di karungmu itu? Tulang ayam bekas makan siang?"
"Sembarangan!" Aku meletakkan karungku. "Ini tulang Skeleton Warrior dan... eh... Spons Legendaris."
Bargo tertawa terbahak-bahak. "Tulang busuk dan busa cuci piring? Aku hargai 2 Koin Tembaga. Itu pun karena aku kasihan padamu."
"Apa?! Ini barang drop item langka!" protesku.
Sebelum aku sempat menawar (atau memukul mejanya dengan panci), lonceng pintu toko berbunyi.
Kring!
Aroma parfum mawar yang sangat menyengat langsung memenuhi ruangan, mengalahkan bau apek toko tua ini. Seorang pria melangkah masuk, diikuti oleh dua pengawal berbadan kekar.
Pria itu tampan. Sangat tampan, sampai rasanya ingin kutonjok. Rambutnya pirang platinum, matanya hijau zamrud, dan dia mengenakan zirah emas yang berkilauan begitu terang hingga membuat mataku sakit. Di dadanya tersemat lencana Guild dengan peringkat: Platinum.
[Sistem Alert: Rival Terdeteksi!] [Nama: Sir Leonhart 'The Golden'] [Kelas: Holy Paladin (Pay-to-Win Player)] [Skill Khusus: Pamer Harta, Senyum Palsu, dan Membeli Level dengan Uang Bapaknya.]
"Elena! Sayangku!" seru Leonhart dengan suara bariton yang dibuat-buat. Dia merentangkan tangannya, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya. "Aku dengar kau baru pulang dari reruntuhan kumuh itu. Kenapa kau tidak bilang? Aku bisa mengirim pasukanku untuk membersihkannya dalam 5 menit."
Elena mundur selangkah, wajahnya datar namun matanya menyiratkan kejengkelan tingkat dewa. "Aku tidak butuh bantuanmu, Leonhart. Dan jangan panggil aku 'sayang'."
Leonhart tertawa renyah, lalu matanya jatuh padaku. Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.
"Dan makhluk apa ini? Apakah kau memungut pengemis jalanan sebagai peliharaan baru?" ejeknya.
Darahku mendidih. "Namaku Rian. Dan aku partnernya," jawabku ketus.
"Partner?" Leonhart tertawa lebih keras, kali ini pengawalnya ikut tertawa. "Elena, seleramu turun drastis. Dia bahkan tidak punya pedang! Dia memegang... apa itu? Panci gosong?"
Dia mendekatiku, menepuk-nepuk bahuku dengan gaya merendahkan. Sarung tangan besinya terasa dingin.
"Dengar, sobat miskin. Ini 10 Koin Emas," dia melemparkan sekantong kecil koin ke kakiku. "Ambil ini, beli baju yang layak, lalu pergi dari sini. Kau merusak pemandangan di sekitar calon istriku."
"Calon istri?!" Elena dan aku berteriak bersamaan.
"Leonhart, aku lebih memilih menikah dengan Orc daripada denganmu," desis Elena, tangannya sudah menyentuh gagang pedang.
Suasana menegang. Pengawal Leonhart maju. Tuan Bargo bersembunyi di bawah meja kasir.
Aku menatap koin di lantai, lalu menatap wajah sombong Leonhart. Sistem di kepalaku berdenging.
[Opsi Respons:] [A. Ambil uangnya dan lari (Harga diri hilang, tapi dompet tebal).] [B. Tantang duel (Persentase Kematian: 99%).] [C. Gunakan 'Spons Cuci Piring Abadi' untuk memberi pelajaran tentang kebersihan.]
Aku menyeringai. "Tuan Leonhart," kataku dengan nada suara yang tiba-tiba berubah sangat sopan dan manis. "Anda benar. Saya memang kotor. Tapi, zirah Anda... sepertinya ada noda debu sedikit di bagian dada. Sayang sekali zirah semahal ini ternoda."
Leonhart mengerutkan kening, melihat ke dadanya. "Noda? Di mana? Zirahku anti-debu!"
"Di sini," aku mengeluarkan spons kuningku. "Izinkan hamba membersihkannya sebagai tanda hormat."
Sebelum dia sempat menolak, aku mengusapkan spons itu ke pelat dada zirah emasnya.
SRET!
[Item Effect Triggered!] [Target: Zirah Emas Leonhart.] [Analisis Spons: Mendeteksi lapisan cat emas palsu di atas besi rongsokan.] [Action: Membersihkan kepalsuan.]
Dalam satu gosokan, kilauan emas di bagian dada zirah itu lenyap. Bukan menjadi bersih, tapi cat emasnya terkelupas habis, menampilkan logam besi hitam berkarat di bawahnya.
Hening. Benar-benar hening.
Leonhart menatap dadanya yang sekarang belang. Bagian tengahnya hitam jelek, sekelilingnya emas berkilau.
"I-itu..." Leonhart gagap.
"Ups," kataku dengan wajah polos. "Tuan Leonhart... apakah zirah Anda... KW? Maksud saya, barang tiruan?"
Aku menggosok lagi di bagian bahu. SRET! Cat emasnya mengelupas lagi seperti daki.
"Wah! Ternyata semuanya palsu!" teriakku, memastikan Bargo dan semua orang di toko mendengar. "Tuan Bargo! Lihat! Paladin Platinum kita ternyata pakai armor besi kiloan yang dicat pilox!"
Wajah Leonhart memerah padam, lebih merah dari tomat busuk. "K-kurang ajar! Ini... ini lapisan pelindung khusus!"
"Pelindung khusus kok ngelupas kena spons cuci piring?" tanyaku sambil nyengir.
Elena, yang tadinya marah, kini menahan tawa sampai bahunya berguncang. Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menjaga wibawa, tapi suara pfft tetap keluar.
Leonhart panik. Citranya sebagai bangsawan kaya raya sedang hancur di depan "calon istri"-nya. "Kau... kau merusak pusakaku! SERANG DIA!" perintahnya pada pengawalnya.
Dua pengawal kekar maju. Tapi Elena sudah melangkah ke depan, mencabut Greatsword-nya setengah jalan. Aura membunuh yang pekat memancar darinya. "Satu langkah lagi, dan aku akan memotong gaji kalian. Secara harfiah."
Para pengawal itu berhenti, menelan ludah. Mereka tahu siapa Elena "The Valkyrie". Mereka tidak dibayar cukup untuk mati konyol.
Leonhart menggertakkan gigi. Dia menatapku dengan tatapan penuh dendam. Armornya yang kini belang-belang membuatnya terlihat seperti badut sirkus. "Ini belum selesai, Panci Busuk! Tunggu pembalasanku!"
Dia berbalik dan lari keluar toko, diikuti pengawalnya, diiringi suara tawa Tuan Bargo yang akhirnya keluar dari persembunyiannya.
[Ding! Reputasi Meningkat!] [Title Baru: "Pencuci Kebohongan".] [EXP Diterima: +200 (Bonus Mental Damage pada lawan).]
Aku tertawa puas. Rasanya nikmat sekali melihat orang sombong itu lari terbirit-birit. Namun, di tengah tawaku, pandanganku sedikit kabur.
Di sudut ruangan, di pantulan cermin antik yang dijual Bargo, aku melihat bayanganku sendiri. Bayangan itu tidak tertawa. Bayangan itu menatapku dengan wajah datar, mata merahnya menyala. Di tangannya, dia tidak memegang spons, tapi memegang jantung manusia yang masih berdetak.
DEG.
Tawaku terhenti. Aku mengedipkan mata, dan bayangan itu kembali normal.
[Corruption Meter: 0.20%] [Pesan Sistem: Nikmatilah kemenangan kecil ini. Rasa superioritas adalah pintu gerbang menuju kegelapan.]
"Rian? Kau baik-baik saja?" tanya Elena, menepuk pundakku. Wajahnya masih menyisakan senyum geli. "Tadi itu... jahat sekali. Tapi brilian."
Aku memaksakan senyum. Tanganku terasa dingin. "Ah, ya. Biasa saja. Aku cuma tidak suka barang palsu."
Kami keluar dari toko dengan kantong penuh uang. Odelia terasa cerah, tapi bagiku, bayang-bayang di setiap sudut gang kini terasa lebih panjang dan lebih gelap.
"Ayo makan," ajak Elena. "Aku traktir kau daging naga sungguhan."
"Asyik!" seruku, berusaha mengubur rasa takutku dengan makanan.
Tapi jauh di dalam jiwaku, segel itu bergetar pelan. Retak kedua mulai muncul.
