Cherreads

Bintang Kosmik

Awal_Kyun
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
190
Views
Synopsis
Kehidupanku mulai aneh setelah aku terbangun dari kolom jembatan tersebut, akankan kejadian aneh InI terus terjadi? atau apakah aku bisa tetap hidup damai dengan teman-temanku ini? aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi....
Table of contents
VIEW MORE

Chapter 1 - Hal aneh

Angin berembus sejuk, aliran air mengalir tenang, sementara cahaya matahari menusuk kulitku dengan hangat yang aneh.

Aku terbangun di dekat pinggir sungai, tepat di bawah kolom jembatan.

Di sekelilingku berdiri banyak orang. Mereka berkerumun, menatapku dengan wajah panik, Mengira aku sudah mati.

Mati?

Ingatan sebelum aku pingsan terasa buram. Aku mencoba mengingatnya, tapi kepalaku kosong. Yang kupahami hanya satu hal: aku masih hidup. Entah bagaimana caranya.

"Apa kau baik-baik saja?"

Seorang wanita mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. Aku mengangguk pelan dan mengatakan kalau aku baik-baik saja.

Meski begitu, beberapa orang masih terlihat cemas. Aku tak mengenal mereka, dan itu membuatku bingung—kenapa orang asing begitu mengkhawatirkanku? Tapi anehnya, aku merasa

tenang di antara mereka.

Lalu

Aku mencoba meyakinkan mereka lagi.

"Mana mungkin kau baik-baik saja," kata seseorang, "kepalamu berdarah seperti itu."

Darah?

Aku refleks menyentuh kepalaku. Tanganku basah. Saat kutarik, telapak tanganku berlapis darah merah gelap.

Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat. Pandanganku berputar, panas menjalar di tanganku, dan dunia terasa menjauh. Aku tak tahu apakah aku terkejut atau takut, tapi penglihatanku

mulai kabur.

Gelap.

Dan aku pingsan untuk kesekian kalinya.

—————————————————–———

Saat aku terbangun, aku dalam posisi duduk. Kepalaku terbalut kain, dan tubuhku terasa lebih ringan.

Empat orang duduk di dekatku. Sepertinya merekalah yang merawatku.

Aku melihat sekeliling. Masih di dekat sungai.

"Kenapa aku gak dibawa ke rumah sakit?" tanyaku.

Mereka saling pandang. Katanya mereka tak mengenalku, dan sepertinya aku orang baru di daerah ini. Mereka juga takut aku tak membawa uang atau BPJS, jadi mereka memilih merawatku seadanya.

Orang baru?

Aku mencoba berdiri, tapi mereka menyuruhku beristirahat. Namun udara semakin dingin dan matahari sudah condong ke barat. Aku memutuskan pulang.

Mereka menawariku tumpangan, tapi aku menolak. Aku masih bisa berjalan.

Aku pun pergi.

-----------------------------------------------------------

Rumah-rumah di sepanjang jalan terlihat membosankan. Sama seperti biasanya.

Apa tadi cuma mimpi?

Rasanya terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi kejadian seperti itu juga terlalu aneh untuk jadi kenyataan. Aku memilih menganggapnya mimpi.

Lalu aku melihatnya.

Seorang wanita terbaring di pinggir jalan, mengenakan pakaian kantoran. Wajahnya terasa familiar, tapi ingatanku menolak bekerja. Aku mengabaikannya dan terus berjalan.

Langit mulai gelap. Lampu jalan menyala satu per satu.

Kenapa aku bisa berada di sungai?

Kenapa kepalaku berdarah?

Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di kepalaku.

Tanpa sadar, aku sudah sampai di rumah.

Aku mengetuk pintu. Tak ada jawaban.

Aku mencoba gagangnya. Tidak terkunci.

Begitu masuk, bau busuk langsung menyergap hidungku. Aku menutup hidung dan menyalakan lampu.

Rumahku… berantakan.

Lumut tumbuh di dinding dan lantai. Udara pengap. Seperti rumah yang ditinggalkan bertahun-tahun. Padahal dari luar, rumah ini terlihat normal.

Dan saat itulah aku melihatnya.

Terdapat lekukan Garis di lantai.

berbentuk seperti manusia.

Ada dua.

Garis hijau pudar, seperti bekas kapur yang membusuk. Kelabang merayap di sekitarnya.

Seketika bulu kudukku berdiri, serta di iringi rasa mual dan takut

Apa yang sebenarnya terj-

-----------------------------------------------------------

-----------------------------------------------------------

Aku melihat sekeliling.

Rumah-rumah yang membosankan masih sama persis.

Apa aku hanya bermimpi?

Aku tak yakin itu mimpi atau bukan, tapi sensasinya terasa nyata. Walau begitu, hal seperti itu mana mungkin terjadi. Aku tetap menganggapnya mimpi.

Seorang wanita terbaring di jalan, mengenakan setelan kantor. Dia terasa tak asing.

Aku mengabaikannya.

Langit gelap. Lampu jalan menyala.

Dikepalaku terbesit beberapa pertanyaan.

Kenapa kepalaku berdarah?

Tanpa sadar, aku sudah sampai di rumah.

Aku membuka pintu. Kunyalakan Lampunya. Rumah terasa normal seperti biasa.

Di meja ada catatan:

orang tuaku pergi ke luar negeri.

Di sampingnya, setumpuk uang.

Ceroboh sekali, apa jadinya jika ada pencopet yang masuk ke rumah

tapi setidaknya aku tak perlu mengeluh soalnya uangnya sudah aman.

Lalu aku mulai berpikir.

Hari ini sungguh aneh.

Aku tak tahu mengapa aku bisa berada di kolom jembatan tersebut.

"Mengapa juga kepalaku berdarah."

"Wanita itu juga tampak tak asing."

"Mati?"

"Orang baru?"

Sungguh sangat melelahkan.

Setelah menyantap makanan yang ada di kulkas serta membasuh wajahku dan menggosok gigi.

Aku pun memutuskan untuk tidur.