Tiba-tiba, halaman-halaman buku itu bergerak sendiri, seolah ada tangan tak kasatmata yang membaliknya. Di halaman berikutnya, kata-kata perlahan terbentuk, setiap huruf muncul seakan ditorehkan oleh pena gaib. Pesan itu menghantam dada Kaivan bagai gelegar petir:
"Aku adalah cerminan dari apa yang kau lakukan. Setiap kata yang kau ucapkan dan setiap tindakan yang kau ambil akan terpantul di dalam diriku. Baik ataupun jahat, semuanya akan tersingkap tanpa topeng."
Kaivan membeku. Matanya terpaku pada barisan kalimat itu. Maknanya menerjang kesadarannya seperti badai yang tak terlihat. Tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena kesadaran bahwa buku ini sama sekali bukan benda biasa.
Dengan tangan gemetar, ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Saat membukanya kembali, raut wajahnya dipenuhi kebingungan. "Bagaimana mungkin wanita tua itu tahu tentangku? Bagaimana mungkin dia memberikan benda ini padaku?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Halaman buku kembali berdesir. Suara gesekan kertas membentuk irama lembut yang memenuhi ruangan. Tak lama, kata-kata lain muncul, indah, namun sarat perintah.
"Wanita tua itu tidak mengetahui apa pun. Akulah yang memilihmu, Kaivan. Akulah yang menyusun peristiwa agar kau menemukanku. Semua ini telah direncanakan."
Jantung Kaivan berdegup kencang. Pernyataan itu begitu lugas, begitu mutlak, seolah-olah seseorang baru saja merobek realitas yang selama ini ia kenal. Buku ini bukan sekadar mencatat kejadian, ia mengaturnya. Ia memiliki kuasa melampaui pemahaman manusia, membengkokkan takdir dan menyusun aliran waktu.
Dengan hati-hati, Kaivan menutup buku itu. Gerakannya lambat, seakan ia takut melukai entitas hidup yang kini ia sadari keberadaannya. Namun pikirannya tak berhenti berputar. Siapakah dia? Mengapa aku? Dan apa arti mimpi itu sebenarnya?
Di luar jendela, fajar mulai menghapus sisa-sisa malam. Namun di dalam hati Kaivan, malam justru baru saja dimulai. Ia tahu, ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju dunia yang dipenuhi misteri dan rahasia yang belum terkuak.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Akhirnya, Kaivan duduk di depan meja belajarnya, meletakkan buku itu di hadapannya dengan penuh kehati-hatian. Jemarinya menyentuh permukaan kayunya yang aneh, terasa seolah berdenyut pelan. Dengan suara yang lebih mantap, ia bertanya:
"Mengapa kau memilihku? Dan… apa sebenarnya dirimu?"
Jawaban itu datang lebih cepat kali ini, seakan buku tersebut mulai terbiasa dengan dialog mereka.
"Aku tertarik pada makhluk hidup yang memiliki kedalaman emosi dan pikiran. Aku dapat memberimu pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan pemahaman, prediksi, informasi, dan perasaan makhluk hidup. Namun ada satu batas mutlak, kau tidak boleh bertanya tentang Penciptaku."
Rasa dingin menjalar di tulang punggung Kaivan. Buku ini memiliki batasan. Ia bukan mahatahu tanpa ikatan, ia terbelenggu oleh aturan. Pikiran Kaivan berkelindan. Siapa yang menetapkan batasan itu? Dan mengapa Penciptanya menjadi hal terlarang?
"Penciptamu…" bisiknya lirih. "Maksudmu Tuhan, yang menciptakanmu? Jadi… Tuhan benar-benar ada?"
Jawaban itu menghantam halaman buku dengan kekuatan yang membuat Kaivan hampir terjatuh dari kursinya.
"Tentu saja! Tanpa Tuhan, bagaimana mungkin kehidupan ada? Namun bukan Tuhan yang menciptakanku. Ketika manusia berkata bahwa segalanya 'terjadi begitu saja', itu hanyalah alasan atas hal-hal yang tak mampu mereka jelaskan."
Nada suaranya tajam, bahkan terdengar sinis. Namun tanpa sadar, senyum kecil tersungging di bibir Kaivan. Ada sesuatu yang anehnya terasa segar, seolah ia sedang berbincang dengan seorang sahabat lama.
"Kalau begitu… apakah Penciptamu yang memilihku?" tanyanya, kali ini dengan keberanian baru. Matanya menatap halaman kosong yang perlahan kembali terisi.
"Tidak dapat menjawab," balas buku itu singkat, dengan sikap santai yang sekaligus membuatnya frustrasi dan penasaran.
Kaivan menghela napas panjang, menopang dagu dengan tangannya. Rasanya seperti berbicara dengan seorang mentor yang diselimuti teka-teki, yang mengetahui segalanya, namun hanya memberikan potongan-potongan kecil. Namun di balik misteri itu, ia merasakan sesuatu yang lain, sebuah ikatan aneh yang mulai terjalin antara dirinya dan buku tersebut.
Matahari pagi perlahan naik di ufuk, sinarnya menembus celah gorden kamar Kaivan. Cahaya keemasan itu menyelimuti ruangan dengan kehangatan, sementara udara segar dari jendela yang sedikit terbuka menyentuh wajahnya dengan lembut. Dalam keheningan kamar tidurnya, dunia terasa begitu tenang.
Seorang gadis mendekat dengan langkah ringan. Jemarinya menyentuh permukaan buku itu dengan ragu, seolah takut merusaknya. Saat tangannya yang lentik membalik halaman pertama, ia membeku. Setiap halaman yang ia buka kosong, tak ada tinta, tak ada tulisan, bahkan tak ada bekas apa pun.
"Aneh," gumamnya, keningnya berkerut. Namun rasa ingin tahu mengalahkan kegelisahannya. Ia terus membalik halaman, berharap menemukan sesuatu.
"Kai! Kai! Kamu beli buku ini di mana? Aku mau juga yang kayak gini!" serunya ceria, suaranya memecah keheningan pagi.
Kaivan menggeliat dalam tidurnya, kelopak matanya terbuka saat suara itu mencapai telinganya. Pandangannya perlahan jernih, dan seketika membeku. Adiknya sedang memegang buku itu, membolak-baliknya tanpa beban. Raut tenang di wajah Kaivan sirna seketika.
"Jangan sentuh itu!" teriaknya. Nada suaranya bercampur panik dan amarah. Ia meloncat turun dari tempat tidur, rambutnya acak-acakan, gerakannya tergesa, lalu merebut buku itu dari tangan adiknya.
"Apa sih masalahmu, Kai? Lebay banget," protesnya sambil cemberut. "Itu cuma buku kosong." Dengan dengusan kesal, ia berbalik dan meninggalkan kamar, meninggalkan Kaivan terpaku di tempat.
Kaivan menunduk menatap buku di genggamannya. Lalu, sesuatu yang mustahil terjadi. Di depan matanya, tinta mulai bermekaran di atas halaman-halaman kosong. Perlahan, kata-kata dan pola terbentuk, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang menulis. Kalimat demi kalimat terukir, sarat makna tersembunyi. Mata Kaivan membelalak, napasnya tertahan.
"Jadi… itu maksudmu. Kau hanya bisa digunakan olehku," bisiknya, suaranya dipenuhi kekaguman dan pemahaman baru. Ikatan aneh kini mengikatnya dengan tome itu, seolah buku tersebut hanya mempercayainya seorang.
Cahaya matahari semakin terang, menyinari seluruh ruangan. Sambil menggenggam buku itu erat, Kaivan berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Setiap langkah terasa berat, bukan karena tubuhnya, melainkan karena pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya. Bahkan saat air segar menyentuh kulitnya, pikirannya tetap terpaut pada misteri tome tersebut.
Saat kembali, tubuhnya lebih segar namun pikirannya gelisah. Ia duduk kembali di hadapan buku itu. Tatapannya mengeras, dan dengan tekad yang bulat, ia membukanya sekali lagi.
