Cherreads

Chapter 34 - Tome Itu Berbicara dari Puing-Puing

Bengkel itu yang dulu menjadi jantung kreativitas dan harapan mereka kini tinggal puing. Dalam diam, mereka semua mengerti: ini bukan kehancuran acak. Ada pesan tersembunyi di balik kekacauan itu. Waktu telah bergeser. Tak ada lagi ruang untuk ragu; kenyataan telah tiba.

Darah Kaivan berdesir ketika matanya menangkap sosok di antara reruntuhan. "Zinnia! Radit!" teriaknya, suaranya pecah di antara panik dan putus asa. Tanpa pikir panjang, ia berlari menerjang puing-puing, beberapa kali tersandung. Frans menyusul di belakang, rahangnya mengeras. Di ambang pintu, Thivi terhenti, tubuhnya gemetar, tak tahu harus berbuat apa.

Kaivan berlutut di samping Zinnia. Tangannya bergetar saat menyentuh bahunya kulitnya dingin, namun napas tipis membuktikan ia masih hidup.

"Zinnia… bangun…" bisiknya, lalu menoleh tajam pada Frans. "Cari sesuatu untuk alasnya! Telepon ambulans!"

Frans gugup meraih ponselnya. Di sudut ruangan, Radit mulai bergerak. Ia duduk perlahan, wajahnya pucat dan kosong. Frans segera menghampiri dan menepuk bahunya.

"Apa yang terjadi?"

Radit menggeleng lemah. "Mereka datang… mencari Felicia… tak menemukannya… jadi mereka menghancurkan semuanya."

Tatapan Kaivan menajam. "Siapa mereka?" Namun sebelum jawaban keluar, bunyi langkah kaki menggema.

Felicia berdiri di ambang pintu, cahaya senja memanjang di belakangnya. Wajahnya pucat, suaranya setipis benang. "Ini salahku… aku yang membawa mereka ke sini."

Thivi melangkah maju, tapi Felicia mundur. "Aku harus pergi. Dia tak akan berhenti memburuku. Kalian semua dalam bahaya."

Sebelum siapa pun sempat mencegah, Felicia berlari. "Felicia, tunggu!" teriak Kaivan. Namun yang menjawab hanyalah sunyi.

Frans meletakkan tangan mantap di bahu Kaivan. "Kita juga harus pergi. Emasnya sudah terjual, tapi kalau masih ada yang tersisa… mereka akan kembali."

Kaivan berdiri terpaku, menatap puing-puing yang menyimpan mimpi dan kerja keras mereka. Thivi tetap di sisinya, cahaya cerianya meredup, mata yang memerah menahan air.

Sirene meraung, membelah keheningan. Paramedis masuk dan dengan lembut mengangkat Zinnia ke atas tandu. Thivi menggenggam tangan Kaivan, menghadirkan ketenangan di tengah badai.

"Kaivan," bisiknya, "kita harus mencari tempat baru."

Kaivan tak menjawab. Ia berdiri di antara reruntuhan, menatap langit yang berubah dari merah darah menjadi biru gelap. Cahaya yang memudar menyelimuti langit seperti tirai, menutup satu bab. Tatapannya hampa, namun jauh di dalam, ada percikan kecil rapuh, tapi tak mau padam.

Ia menarik napas panjang. Lalu, dengan suara berat penuh tekad, ia berbicara.

"Hei, Tome Omnicent… aku ingin tahu siapa mereka. Dan aku akan menghancurkan segalanya."

Kata-katanya menggema di udara yang rapuh, mengguncang sisa ketenangan. Energi aneh menyelimuti mereka, membuat Frans, Radit, dan Thivi menatap Kaivan dalam diam terpaku. Anak lelaki pendiam yang mereka kenal kini berdiri berubah mata menyala, tangan terkepal, kekuatan baru berdenyut di dalam dirinya.

Kaivan menarik Tome Omnicent dari tasnya. Buku itu bergetar pelan, seolah menjawab panggilannya. Jemarinya menyapu halaman-halaman kosong yang usang, hingga tulisan samar mulai bermekaran di atas kertas. Suara gesekannya lembut, seperti bisikan masa lalu yang hanya bisa ia dengar.

"Aku menemukannya," ucapnya tegas. "Mereka Julian dan orang-orangnya. Mereka yang menghancurkan tempat ini. Mereka bersembunyi di sebuah bangunan tua di pusat Bandung. Tapi kita masih punya waktu sebelum mereka pindah."

Radit, yang bersandar lemah di dinding, mengangkat kepala. "Aku ingat," gumamnya. "Dulu Kaivan pernah pakai buku itu untuk menolong orang yang dirampok. Selalu tepat waktu. Seolah tahu segalanya."

Frans, berdiri di dekat pintu, mengangguk. "Iya. Waktu aku bingung harus mengaku ke Tira, Kaivan bilang tunggu. Dan dia benar. Buku itu selalu tahu."

Thivi mengerutkan kening, masih bingung. "Tapi saat aku membukanya, isinya kosong. Tak ada apa-apa."

Kaivan menutup buku itu dengan hati-hati. Ia menatap mereka satu per satu. "Aku jelaskan nanti. Sekarang kita harus bergerak. Frans, siapkan mobil. Kita ke mal itu malam ini."

Frans ragu sejenak, merasakan beratnya misi mendadak itu. Namun tatapan Kaivan tak memberi ruang untuk sangsi. "Baik," katanya singkat, lalu bergegas keluar.

Kaivan menoleh pada Radit. "Ambil lima botol air mineral. Pastikan penuh."

Radit mengangguk, meski kebingungan jelas di wajahnya. "Air? Buat apa?" tanyanya sambil menuju persediaan.

Tanpa menjawab, Kaivan mengalihkan pandangannya ke Thivi. "Kau punya sampo? Campurkan ke botol-botol itu."

Thivi tertegun. "Sampo? Untuk apa?" bisiknya, nyaris takut bertanya.

 

More Chapters