Kaivan mengembuskan napas, suaranya serak, nyaris rapuh. "Aku ingin minta maaf. Untuk kalian semua."
Tak ada yang menjawab, tapi keheningan mereka memberinya ruang yang ia butuhkan. Ia menundukkan kepala, merasakan beban yang tak bisa ia bagi. Di bawah cahaya bulan, wajahnya tampak lebih pucat, matanya tak lagi dingin, melainkan lelah, jujur, dan letih.
"Aku seharusnya tidak pernah bertemu kalian," lanjutnya. Ia mengangkat Tome Omnicent, memperlihatkannya pada semua orang. Buku itu terlihat biasa saja, tapi tak seorang pun lagi memandangnya dengan cara yang sama.
Ia menarik napas panjang sekali lagi. "Dulu, aku berharap… hidupku tidak monoton. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik. Buku itu menjawab, tapi bukan dengan keinginan. Melainkan dengan perintah."
Ia memandang mereka satu per satu. Terkejut, tak percaya, dan luka samar berpendar di mata mereka, namun tak satu pun berpaling.
"Buku itu menyuruhku membantu Radit berhenti mencuri. Menangkap Zinnia saat dia jatuh. Membimbing Frans untuk mengaku pada Tira. Menyelamatkan Thivi dari kecelakaan motor itu. Dan terakhir… mendekat pada Felicia."
Kata-katanya menerpa seperti angin es. Setiap kalimat bukan lagi sekadar penjelasan, melainkan pengakuan. Atap yang dulu penuh tawa kini hanya menyisakan sunyi, dilucuti oleh kebenaran. Bahkan angin pun terasa menahan diri. Tak ada lagi yang bisa dikatakan. Kaivan telah membuka halaman yang paling ia sembunyikan, dan kini mereka semua harus menanggung maknanya.
Dalam keheningan yang merambat perlahan, atap itu seakan menahan napas. Kata-kata dan pikiran mereka menenun jaring takdir—tak terduga, namun entah bagaimana terasa tak terelakkan. Di bawah cahaya bulan yang redup, mereka mulai menyadari kebersamaan mereka bukanlah kebetulan.
Kaivan berdiri di dalam lingkaran itu, dikelilingi Felicia, Zinnia, Frans, Thivi, dan Radit. Angin malam membawa aroma lembap taman di bawah sana, tapi udara di antara mereka terasa berat, dipenuhi rasa ingin tahu, kekecewaan, dan kepedulian yang tak terucap. Tatapan mereka terpaku pada buku yang tergeletak tenang di atas meja: Tome Omnicent. Sumber jawaban. Sekaligus sumber keraguan.
Felicia melangkah maju. Cahaya bulan melembutkan wajahnya—tegas namun lembut. Suaranya memecah keheningan. "Jadi… kita semua masih terikat satu sama lain lewat Kaivan… dan buku ini." Tak ada nada menyalahkan dalam suaranya. Ia hanya ingin memahami, dan dipahami.
Radit mengangguk pelan. Posturnya tegang, tapi matanya lembut. "Kalau bukan karena Kaivan dan buku itu, mungkin aku masih jadi pencuri jalanan."
Frans tersenyum kecil, bahunya tegap. "Dan aku… mungkin tidak akan bersama Tira. Tidak akan tahu keberanian seperti apa yang dibutuhkan untuk menyatakan perasaan pada seorang gadis."
Namun Zinnia tetap diam. Tangannya terlipat, rambut ungunya bergoyang tertiup angin. Ia akhirnya melangkah maju, suaranya membelah udara. "Tapi kita dimanfaatkan, kan?"
Ketegangan menegang seketika. Semua mata tertuju padanya. Alis Felicia terangkat. Radit menunduk. Frans mengatupkan rahang. Bahkan angin malam seolah berhenti bernapas.
Kaivan menarik napas dalam. Bahunya turun perlahan, seolah melepas beban. "Aku tahu kalian mungkin merasa seperti itu. Tapi aku tidak pernah melihat kalian sebagai bidak. Aku tidak pernah berniat memanipulasi kalian."
Keheningan menelan atap itu. Lalu Thivi melangkah maju. Rok pendeknya bergoyang lembut saat ia bergerak. Tangannya menyentuh lengan Kaivan—hanya sentuhan tipis, tapi penuh makna.
"Kalau bukan karena kamu… mungkin aku sudah tidak hidup sekarang. Entah buku itu yang menyuruhmu atau tidak, aku tetap bersyukur."
Felicia melirik Thivi, lalu berdiri di sisi Kaivan. "Kalau bukan karena kamu, aku mungkin masih terjebak di neraka milik Julian. Kamu menyelamatkanku, Kaivan. Dan aku tidak akan pernah melupakan itu." Suaranya bergetar pelan, sarat emosi.
Zinnia tetap diam, tapi sorot matanya melunak. Ia menarik napas panjang. "Mungkin… aku bisa melihat sisi baiknya. Tapi beri aku waktu." Kata-katanya pelan, namun memiliki bobot yang tak bisa diabaikan.
Kaivan mengangguk perlahan, ekspresinya mulai mengendur. Ia melangkah mundur dari meja, seolah menunjukkan bahwa ia tidak memaksa mereka. "Aku tidak meminta untuk dimaafkan sekarang. Aku hanya ingin kalian tahu, kalian berarti bagiku. Bukan karena buku itu, tapi karena kalian adalah diri kalian sendiri."
Untuk sesaat, waktu terasa membeku. Lalu pandangan Zinnia beralih ke buku itu, matanya memantulkan pemahaman baru. Ia kembali menatap Kaivan. "Baiklah. Jadi, apa selanjutnya untuk kita berenam? Kurasa aku mulai mengerti."
Angin malam membawa dingin lembap, dan cahaya bulan menggambar siluet lembut di wajah mereka, meredakan ketegangan menjadi keheningan yang lebih dalam. Semua mata tertuju pada Kaivan.
Ia mengangkat kepalanya, tatapannya menyapu satu per satu, seolah mengukir keberadaan mereka dalam ingatannya. "Kita harus menemukan empat orang lagi," katanya akhirnya. "Kita akan menjadi Sepuluh Manusia."
Kata-kata itu beriak di ketenangan seperti batu yang dilempar ke air. Radit, yang masih bersandar di pagar, memecah keheningan. "Sepuluh? Kita ini apa, Power Rangers?"
Zinnia membiarkan senyum tipis muncul. "Radit, Power Rangers cuma lima orang."
"Kalau begitu kita Kamen Rider. Beda-beda, tapi jumlahnya banyak," balas Radit tanpa ragu.
Thivi melangkah maju lagi. Sosok rampingnya dibingkai cahaya bulan, mata birunya bersinar lembut. "Siapa mereka?"
