Namun tawa itu segera mereda. Ibu Kaivan berbalik, tatapannya tajam. "Kira, mereka siapa? Ibu belum pernah melihat mereka sebelumnya."
Kira meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan namun sengaja. Senyumannya berubah nakal. "Oh, mereka? Pacar-pacarnya Kaivan, Bu. Mereka juga menginap minggu lalu. Yang pernah Kira ceritakan."
Kata-kata itu meledak seperti bom. Kaivan menahan napas. Felicia memainkan ujung rambutnya, sementara Thivi menunduk, pipinya memerah.
Ibunya menatap mereka, matanya menyipit. "Jadi ini mereka? Tapi Kaivan… yang mana pacarmu? Dua-duanya?"
Ruangan membeku. Felicia menoleh perlahan, matanya menyala. Thivi mencengkeram rokannya erat.
"Mereka bukan pacarku, Bu," akhirnya Kaivan berkata. Suaranya tenang, tapi berat. "Kira cuma bercanda."
Namun Felicia tidak mundur. Ia menyilangkan tangan, tatapannya tajam. "Teman? Kamu ingat janji yang kamu buat di mal tua itu? Kamu bilang kamu akan selalu ada untukku. Dan aku… aku bersumpah hal yang sama untukmu. Apa semua itu cuma kata-kata kosong?"
Kaivan membeku. Kenangan malam itu di mal terbengkalai menyerbu kembali, menghantamnya seperti gelombang dingin. Felicia menangis, memukul dadanya dengan kepalan tangan saat ia memeluk tubuhnya yang gemetar. Janji berbisik dalam gelap: saling melindungi, saling tetap di sisi satu sama lain. Namun kini, janji itu menusuk seperti duri yang tertancap dalam di dadanya.
Sebelum ia sempat menjawab, suara lembut Thivi memecah keheningan. "Kaivan…" Nada suaranya nyaris seperti bisikan. "Apa kamu lupa malam pertama kita? Saat kamu bilang kita akan selalu bersama?"
Kaivan menoleh. Mata Thivi berkilau, tapi ia tahu kebenaran di balik kata-katanya—malam itu hanyalah asap dan kehangatan sesaat, bukan janji yang sesungguhnya. Namun Thivi menginginkan sesuatu yang lebih dari yang pernah dijanjikan.
"Apa semua itu cuma lelucon?" tanyanya, senyum rapuhnya perlahan runtuh.
Felicia duduk tegak, tatapan matanya yang menyala tak bergeming. "Aku tidak pernah meminta banyak, Kaivan. Hanya kejujuran. Tapi kamu lari dari kata-katamu sendiri. Kamu mengkhianati janji yang kamu buat."
Dua tatapan kini menembusnya: amarah sunyi Felicia, dan kerinduan terluka milik Thivi. Kaivan tak bisa bergerak. Tubuhnya terasa terbelenggu oleh pilihan yang tak pernah ingin ia hadapi.
Lalu ibunya berbicara. Suaranya lembut, tapi kata-katanya berbobot seperti penghakiman. "Kaivan, kamu laki-laki. Tanggung jawab bukan sesuatu yang bisa kamu abaikan. Janji bukan lelucon. Perasaan bukan mainan."
Kaivan menundukkan kepala. Kata-kata ibunya menghantam lebih berat dari palu mana pun. Felicia dan Thivi masih menatapnya, menunggu jawaban yang tak kunjung datang.
Kira mencoba mencairkan suasana, tawanya tipis dan canggung. "Wow, Kaivan… ini seperti nonton drama Korea. Siapa sangka kamu bakal dikejar dua cewek sekaligus?"
Tawanya menggantung di udara, tapi justru membuat keheningan semakin tidak nyaman. Felicia dan Thivi saling bertukar pandang, dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka sepakat dalam satu hal: Kira tidak membantu sama sekali.
"Kenapa jadinya begini sih?" gumam Kaivan, menggaruk kepalanya dengan gelisah. Di seberangnya, ibunya duduk dengan tenang, mengamati Thivi dan Felicia seolah membaca isi hati mereka. Thivi mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum lebar, sementara Felicia menggenggam cangkir tehnya erat, menyembunyikan badai yang menyala di balik tatapan matanya yang stabil.
"Jadi, kalian berdua ingin menginap di sini malam ini?" tanya ibunya lembut, meski matanya berkilat tajam. Tatapannya berpindah di antara kedua gadis itu, menimbang niat mereka dengan naluri tajam seorang ibu yang sudah lama belajar membaca orang.
Thivi tersenyum malu, merapikan rambut pendeknya yang sedikit berantakan. "I-Iya, Bu. Kalau tidak keberatan. Kami hanya berpikir… mungkin lebih aman daripada pulang larut malam." Suaranya lembut, tapi membawa keberanian yang bergetar.
Felicia meletakkan cangkirnya dengan tenang, lalu menatap mata wanita yang lebih tua itu. "Kami tidak ingin merepotkan, Bu. Tapi jika Ibu mengizinkan, kami akan sangat berterima kasih." Suaranya rendah, tapi tegas. Ia melipat tangannya rapi di atas meja, ketulusannya terlihat tanpa perlu usaha.
Ibu Kaivan menjawab dengan senyum samar, matanya dipenuhi pemahaman yang jauh lebih dalam daripada kata-katanya. "Tentu saja. Kalian berdua bisa tidur di kamar Kaivan. Kaivan akan tidur di ruang tamu."
"Apa?" Kaivan hampir tersedak. "Tunggu, Bu, kenapa kamar aku—"
"Terima kasih banyak, Bu! Ibu baik sekali!" Thivi memotongnya dengan penuh semangat, wajahnya bersinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah berharga.
Felicia sedikit membungkuk, tangannya menyentuh tangan sang ibu dengan gerakan ringan dan hormat. "Terima kasih, Bu. Kebaikan Ibu sangat berarti bagi kami." Sentuhannya lembut, ketulusannya cukup hangat hingga membuat senyum wanita itu semakin lembut.
Kaivan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu melawan keputusan ibunya tidak akan ada gunanya. Tapi di dalam dirinya, kegelisahan canggung semakin berat. Ia tidak pernah terbiasa dengan perhatian seperti ini, terlebih dari dua gadis yang begitu berbeda, namun sama-sama tak terbantahkan dekat dengannya.
Larut malam, di atas atap yang diselimuti keheningan, Kaivan duduk sendirian, sebatang rokok berpijar redup di antara jarinya. Asapnya melayang ke atas, larut dalam udara malam yang dingin. Di atasnya, langit terbentang luas, bintang-bintang berkelip seolah diam-diam mengawasi kekacauan di dalam hatinya.
