Pria berpakaian hitam itu sedikit mencondongkan tubuh ke depan, menurunkan suaranya meski tak ada siapa pun di sekitar yang bisa mendengar. "Belakangan ini, ada beberapa anak SMA yang menjual emas… dan jumlahnya tidak masuk akal."
Pria berkumis itu menyipitkan mata, dahinya berkerut. "Kau bercanda. Anak SMA? Kita bicara soal berapa banyak?"
"Cukup banyak sampai mereka melepas puluhan gram hanya dalam beberapa hari," jawab pria berbaju hitam, matanya menyempit seolah mengamati reaksi lawan bicaranya. Ia mengaduk kopinya perlahan, membiarkan aroma pahitnya menyebar ke udara.
Pria berkumis itu mengembuskan napas berat, bersandar ke kursinya, jemarinya mengencang di cangkir. "Kalau itu benar, ini masalah serius. Emas bukan sesuatu yang berpindah tangan begitu saja. Kalau itu barang curian…"
"…maka kita sedang melihat aktivitas penadah," potong pria berbaju hitam, melipat tangan dengan tatapan tetap tajam. "Kurasa kita harus menyelidiki lebih dalam."
Pria berkumis itu mengangguk pelan, wajahnya berubah serius. Ia meletakkan cangkirnya dan menyentuh dagu dengan penuh pertimbangan. "Kalau anak-anak terlibat, berarti ada seseorang yang mengendalikan mereka. Dan kalau memang ada dalang di balik ini… kita harus menemukannya."
Keheningan menggantung, digantikan oleh riuh percakapan kafe di latar belakang. Ketegangan menebal di udara, seolah dunia mereka berada di ambang perubahan.
Di kota yang berkilauan, menyembunyikan rahasia di balik cahaya lampunya, bisik-bisik tentang siswa SMA yang menjual emas menyebar cepat, seperti bara yang terbawa angin. Dari gang-gang gelap hingga koridor kekuasaan, rumor perlahan mengeras menjadi laporan resmi.
Di dalam kantor megah yang bercahaya oleh kristal, seorang pejabat kota duduk tegak, siluetnya dibingkai cahaya lampu gantung. Seorang ajudan mendekat, membawa map tipis yang terasa berat oleh makna tersembunyi.
"Pak," ujar sang ajudan hati-hati, memecah keheningan. "Ada masalah mendesak."
Tatapan pejabat itu menajam. "Katakan."
"Kami mendeteksi siswa SMA menjual emas, dalam jumlah besar, berulang kali. Tidak ada sumber yang jelas. Tidak ada laporan pencurian, tapi volumenya mengkhawatirkan."
Pejabat itu bersandar, jemarinya saling bertaut. "Dari mana mereka mendapatkannya? Apakah ini awal pasar gelap baru?"
"Belum ada petunjuk, Pak. Tapi ini bukan transaksi kecil. Lebih dari sepuluh transaksi hanya dalam satu minggu."
Ruangan kembali tenggelam dalam sunyi. Lampu gantung bergoyang pelan mengikuti dengungan AC, bayangannya memanjang seperti ancaman.
"Ini bukan kejahatan biasa," gumam pejabat itu. "Kalau emas ini tidak punya asal-usul, ini bisa meruntuhkan kepercayaan pasar. Dan kalau siswa terlibat… berarti ada seseorang yang menggerakkan semuanya dari balik kegelapan."
"Perintah Anda, Pak?"
Pejabat itu menarik napas panjang. "Kirim penyelidik. Tanpa seragam. Diam-diam. Ini tidak boleh bocor sebelum kita tahu kebenarannya. Temukan sumber emas itu. Temukan siapa yang menanamkan ide ini di kepala mereka."
Sang ajudan mengangguk. Dalam keheningan yang semakin berat, satu kebenaran menggantung di udara: ancaman ini jauh lebih dalam daripada yang terlihat.
Kaivan melaju menembus dinginnya pagi, angin menyusup melalui celah helmnya, membawa aroma embun dan daun basah. Jaket hitamnya melekat erat di tubuhnya, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke depan, lelah, namun tak goyah.
Motor itu berhenti di depan sebuah rumah besar di Hegarmanah. Dikelilingi tembok tinggi dan pepohonan tua yang menebarkan bayangan ke halaman, tempat itu terlihat tenang, namun menyimpan kesunyian yang aneh. Kaivan turun, melepas helmnya, lalu menggantungkannya di setang. Tatapannya memuat harap sekaligus gelisah. "Tolong… semoga Nenek masih di sini."
Ia menekan bel. Sekali. Dua kali. Sunyi. Hanya kicau burung yang menjawab. Tak ada pergerakan di balik jendela yang tertutup rapat. Ia mencoba lagi, keraguan mulai merayap di dadanya. "Apa Nenek sudah pergi?"
Ia melangkah mundur perlahan, matanya menyapu dinding rumah, lalu meraih tas kecilnya. Ia membuka Tome Omnicent dengan hati-hati. Simbol di sampulnya berdenyut samar, seolah menyadari momen ini. "Maaf, Nek," bisiknya. Buku itu menampilkan kode pintu, singkat, namun jelas.
Gerbang terbuka dengan bunyi gesekan besi tua. Udara di dalam terasa lebih dingin. Sunyi. Langkah kaki Kaivan bergema saat ia masuk. Ruangan-ruangan tampak bersih tanpa cela, namun menyimpan kekosongan seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Ia berjalan hati-hati, melewati ruang tamu dan menuju dapur.
Di atas meja tergeletak selembar kertas, ditulis dengan tangan tergesa-gesa: "teruslah membaca." Tepat saat ia mencoba memahami pesan itu, langkah kaki terdengar pelan dari belakangnya.
"Oh, Kaivan!" Suara hangat dan lembut, cerah seperti sinar matahari. Dari pintu samping, wanita tua itu muncul, senyumnya mekar seperti fajar pertama. "Kemari, duduklah, Nak. Apa yang membawamu ke sini lagi?"
Senyum tenang muncul di wajah Kaivan, melepaskan beban yang selama ini menekan dadanya. Kursi tua itu memeluknya seperti lengan kenangan, dan setiap sudut rumah sederhana namun elegan itu menyelimutinya dengan ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Ia baru dua kali berkunjung sebelumnya, namun rasanya seperti kembali ke waktu yang tak pernah ia miliki.
