Kata-katanya terdengar ringan, namun udara di sekitar mereka langsung terasa berat. Ethan mengernyit, jelas tidak senang.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan gelasnya dengan bunyi keras di atas meja. "Hei, aku yang bikin semua ini terjadi. Tanpa gue, semua ini nggak bakal ada!" Suaranya penuh tekanan, matanya menyala—bukan oleh kebanggaan, tapi oleh amarah yang tinggal menunggu waktu untuk meledak.
Dari sudut ruangan, seorang pria bertubuh besar mengangkat bahu dengan santai. "Terus kenapa? Kita semua kerja. Jangan sok jadi pahlawan di sini."
Kata-kata itu menyayat seperti cambuk. Ethan menatapnya tajam. "Aku nggak bilang aku paling penting, tapi bagian aku harusnya lebih besar!"
"Ini kerja tim, Ethan," kata yang lain, nadanya tenang tapi tegas. "Kalau lo nggak suka, ya mundur aja."
Wajah Ethan memerah. Ia berdiri tiba-tiba, ototnya menegang seperti pegas yang ditarik maksimal. "Berani banget lo ngomong gitu ke gue!" teriaknya, melangkah maju, tangan terkepal siap menghantam.
Namun dua orang bergerak lebih cepat. Satu menangkap lengannya, satu lagi mendorongnya mundur.
"Baru sekarang berasa jago, ya?" hardik salah satu dari mereka. Ethan meronta, menendang meja. Botol-botol pecah, serpihan kaca berhamburan di lantai. Ruangan berubah jadi kacau.
Namun jumlah berbicara. Mereka membanting Ethan ke lantai. Ia melawan, tapi kekuatan saja tidak cukup menyelamatkannya. Sebuah pukulan mendarat di wajahnya; darah merembes dari hidungnya.
Sunyi jatuh perlahan. Udara dipenuhi napas berat. Ethan tergeletak, tubuhnya lebam, kesadarannya memudar. Di sekelilingnya, wajah-wajah dingin menatap ke bawah—menghakimi, tanpa belas kasihan.
Angin tipis masuk dari jendela yang retak. Tak ada tawa, tak ada sorakan. Hanya keheningan, menggantung berat seperti kabut.
Beberapa menit berlalu sebelum Ethan bergerak. Ia bangkit dengan goyah lalu berjalan keluar, tubuhnya hancur, namun hatinya jauh lebih retak. Setiap langkah terasa seperti ejekan sunyi dari takdir.
Di bawah cahaya bulan pucat, pikirannya kembali pada Kaivan. Untuk pertama kalinya, sebuah bisikan muncul di dalam dirinya. Apa dia pernah merasakan sakit seperti ini?
Pertanyaan itu menggantung—asing, berat. Ethan menggeleng, berusaha menyingkirkannya, mencoba menolak rasa bersalah yang tumbuh seperti duri di dadanya. Malam ini membakar dirinya, tapi juga memecahkan sesuatu jauh di dalam dirinya—sesuatu yang belum ia pahami.
Langkahnya menghilang ke dalam malam dingin, menyatu dengan bisikan angin. Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Tapi entah bagaimana, malam ini telah mengubah arah hidupnya.
Dingin malam semakin dalam, menyentuh kulit dan nuraninya. Aroma tanah basah memenuhi udara, mengingatkannya pada hujan yang telah lama berlalu. Sepatunya berderap pelan di atas aspal licin, ritme yang sejalan dengan kegelisahannya. Rumah mungkin sudah dekat, tapi hatinya terasa sangat jauh.
Lalu keheningan itu pecah.
Dari kegelapan, Kaivan muncul—diam, tak tergoyahkan, seperti batu yang berdiri menghadapi badai. Dalam sekejap, sebelum Ethan sempat bereaksi, Kaivan sudah berada di belakangnya. Tangan dingin mencengkeram kepala dan lehernya, kuat dan tak memberi celah.
"Di mana barang-barangku?" Suaranya tenang, namun cukup tajam untuk mengiris udara.
Ethan membeku—bukan hanya karena cekikan itu, tapi karena kehadiran Kaivan yang datang begitu tiba-tiba, begitu tak terduga. Tatapan mereka bertemu, dan sesuatu berubah. Amarah di mata Kaivan meredup, memperlihatkan bukan kemarahan, melainkan luka yang jauh lebih dalam.
Cengkeramannya sedikit mengendur.
"Teman-temanmu… mengkhianatimu?" tanya Kaivan, suaranya stabil, tapi berat oleh kebenaran.
Ethan tidak langsung menjawab. Napasnya tersengal. Tatapannya melembut; malam terasa semakin sunyi.
"Mereka jual barang lo," gumamnya lemah. "Dan gue… diusir." Kata-kata itu terasa berat, seperti batu yang ditarik paksa keluar dari dadanya.
Kaivan tidak lama terdiam. "Pinjam ponselmu. Aku perlu menelepon seseorang."
Ethan ragu, gelisah. "Gue… nggak bawa. Kalau mau, lo bisa ke rumah gue."
Hening sesaat. Udara menegang, namun Kaivan mengangguk. Kesepakatan tanpa kata—namun cukup untuk mengunci arah langkah mereka.
Mereka berjalan berdampingan melewati jalanan sunyi, suara langkah kaki menggema pelan. Tak ada yang bicara. Hanya dingin yang mengisi jarak di antara mereka.
Di depan rumah sederhana milik Ethan, ia berhenti dan melirik Kaivan. "Maaf," katanya pelan, suaranya bergetar oleh rasa bersalah.
Kaivan tidak menjawab dengan kata maaf atau pengampunan. Suaranya datar, dingin. "Aku tidak akan memaafkanmu… sampai Tome Omnicent kembali ke tanganku." Kata-kata itu jatuh seperti palu hakim. Bagi Kaivan, buku itu bukan sekadar benda—melainkan poros takdir itu sendiri.
Di dalam rumah, kipas tua berputar lemah. Lampu kuning redup berkedip, memecah bayangan di dinding. Aroma tembakau dan kayu tua memenuhi ruangan kecil yang sunyi.
Kaivan berdiri tak bergerak, tidak tertarik pada sekelilingnya. Ia mengambil ponsel dari atas meja, wajahnya tenang, namun matanya menyimpan amarah yang tertahan.
Ia menekan nomor dengan cepat. Saat sambungan tersambung, suara Felicia mengalir dari sana—lembut, cemas.
"Kaivan? Kamu di mana? Apa yang terjadi?"
