Cherreads

Chapter 74 - Di Antara Senyum dan Bilah Pisau

Pria itu duduk perlahan. Matanya tajam, menembus tanpa ragu. Kedua tangannya terlipat di atas meja, tubuhnya sedikit condong ke depan.

Di antara meja kayu dan cahaya lampu yang redup, dua niat saling beradu. Felicia tahu, ini bukan sekadar makan malam biasa.

Pria itu semakin mendekat. Jarak di antara mereka menyempit, udara di ruang sempit itu terasa menegang. Tatapannya dingin, penuh perhitungan. Felicia menyadari ia sedang dinilai—bukan sebagai seorang wanita, melainkan sebagai ancaman.

"Sendirian?" tanyanya, suaranya halus namun mengiris.

Felicia tidak langsung menjawab. Matanya sempat melirik ke arah dapur—tak ada yang bisa diandalkan di sana. Hanya seorang koki tua yang sibuk mencincang sayur. Ia mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatap pria itu.

Senyum tipis terlukis di bibirnya, seperti pemancing yang menikmati tegangnya senar kailnya.

"Maaf, aku belum memperkenalkan diri. Raphael." Ia mengulurkan tangan. Tenang. Terkendali. Setiap gerakannya presisi.

Felicia menyambutnya dengan gerakan lambat dan terukur. Jemarinya menyentuh tangan Raphael—tidak lemas, tapi juga tidak menekan. Cukup untuk mengatakan: aku tahu siapa dirimu, dan aku tidak takut.

Kulit Raphael terasa kasar, genggamannya kuat. Felicia membalas tekanan itu dengan stabil. Sebuah duel sunyi terjadi dalam jabat tangan mereka.

"Felicia," jawabnya lembut. Nada suaranya halus, namun menyimpan kekuatan yang tak perlu ditinggikan.

Saat tangan mereka terlepas, udara di sekitar terasa berat, seolah keheningan itu sendiri mulai terbakar.

Felicia kembali membuka suara, terdengar ringan meski matanya tetap waspada. "Kamu dari mana?"

Raphael tersenyum samar, seperti bayangan yang nyaris tak terlihat. "Dari kota ini juga. Tapi asal kita tak sepenting tujuan kita, Felicia."

Kalimat itu menggantung, membawa tantangan yang tak diucapkan.

Saat itulah Felicia menyadari sesuatu: pria ini bukan sekadar orang asing. Ia adalah teka-teki. Dan mungkin… kuncinya.

Felicia sedikit menggeser duduknya, menempatkan tubuhnya dalam posisi siap bergerak jika keadaan berubah buruk. Ia belum tahu apakah Raphael ancaman atau sekutu. Namun satu hal pasti: pertemuan ini bukan kebetulan. Dan ia harus siap menghadapi apa pun yang datang setelahnya.

Di dalam kamar penginapan yang temaram, cahaya lampu yang hampir padam menorehkan bayangan lembut di dinding kayu. Detak jam bercampur dengan bisikan angin yang menyusup lewat celah jendela. Ethan dan Radit berdiri di dekat pintu, gelisah namun berusaha tampak tenang. Ethan menyipitkan mata, sementara Radit hanya menunduk diam.

"Kami keluar sebentar. Cari angin… mungkin sekalian merokok. Ikut?" tanya Ethan datar.

Kaivan, yang duduk bersila dengan Tome Omnicent di pangkuannya, mengangkat wajah. Matanya berkilau fokus. "Aku di sini saja. Hati-hati."

Mereka mengangguk lalu pergi.

Kaivan membuka Tome. Di halaman kosong, garis-garis tinta samar mulai muncul, membentuk kata-kata: Pergilah ke Felicia, di luar penginapan. Kau akan bertemu Raphael.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Nama itu lagi—Raphael.

Tak ada waktu untuk ragu. Ia menatap huruf-huruf yang perlahan memudar, mengembuskan napas panjang, lalu menutup buku itu dengan tekad bulat. Ia meraih jaketnya, bangkit, dan melangkah ke malam.

Di warung kecil pinggir jalan, Felicia duduk tenang. Jemarinya mengetuk ringan gelas teh yang hampir kosong. Ia tidak benar-benar minum—ia sedang berpikir.

Di hadapannya duduk seorang pria dengan postur santai, namun sorot matanya setajam bilah pisau.

Raphael.

Senyumnya tipis, bahkan tampak tulus, namun ada sesuatu di baliknya—ketajaman tersembunyi, seperti pisau yang diselipkan di balik sutra. Felicia tahu ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

"Kamu sering ke tempat seperti ini?" tanyanya ringan, seolah hanya berbasa-basi.

Raphael mengangkat alis sebelum tersenyum kecil. "Kadang-kadang. Tempat yang tenang membantu berpikir." Ia menggulung lengan bajunya sampai siku—gerakan sederhana, namun disengaja. "Dan kamu?"

Felicia baru saja hendak menjawab ketika langkah kaki tergesa terdengar dari dekat pintu masuk. Tubuhnya langsung menegang, nalurinya menyala. Raphael juga menyadarinya, meski ekspresinya tak berubah. Mereka berdua menoleh bersamaan.

Kaivan berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit tak teratur. Tatapannya bertemu dengan Felicia. Dalam sepersekian detik itu, pesan tanpa kata tersampaikan. Felicia menggeser pandangan ke arah Raphael. Kaivan langsung mengerti.

Tanpa ragu, ia berjalan mendekat, menyembunyikan ketegangan di balik senyum lembut yang terlatih.

"Hai, sayang. Sudah pesan?" tanyanya pelan, seperti pria yang terbiasa berbagi makan malam tenang bersama pasangannya.

Felicia berkedip, sempat terkejut, namun segera mengikuti alurnya. "S-sudah kok, sayang," jawabnya, nadanya sedikit goyah. Ia memaksakan senyum malu-malu, ujung jarinya menelusuri bibir gelas, memainkan peran dengan hati-hati.

Raphael memperhatikan mereka. Senyumnya menipis, namun tak pernah benar-benar hilang.

"Oh?" gumamnya, bersandar santai. "Jadi kalian pasangan. Menarik."

Di sudut warung yang temaram, Kaivan menarik kursi dengan gerakan tenang. Suara kayu bergesek dengan lantai bercampur dengan dengung pelan percakapan sekitar. Ia duduk di samping Felicia, sikapnya tenang namun tegas—kehadirannya tak bisa diabaikan. Tatapannya bertemu dengan Raphael, mantap dan tak goyah.

Lalu, dengan gerakan halus namun penuh makna, Kaivan mengulurkan tangan. Matanya terkunci pada Raphael—tanpa takut.

"Kaivan," ujarnya, suaranya tenang namun kokoh. "Tunangan Felicia. Dan kamu?"

Raphael tidak langsung menjawab. Ia mempelajari Kaivan dengan fokus yang mengusik. Mata gelapnya menangkap setiap detail—cara duduknya, gerakan tangannya, kendali samar dalam nadanya.

Setelah jeda panjang yang terasa berat, Raphael akhirnya menyambut jabat tangan itu. Genggamannya kuat—bukan sekadar sopan santun, melainkan peringatan diam.

"Raphael," jawabnya datar.

Nadanya tidak agresif, namun cukup tajam untuk menegaskan bahwa ia bukan seseorang yang mudah dipercaya. Ia melepaskan jabat tangan itu perlahan, tanpa pernah memutus tatapan.

Felicia menyibakkan rambutnya ke belakang—gerakan kecil yang nyaris tak menyembunyikan kegelisahannya.

Udara di sekitar meja terasa semakin padat. Ketegangan merajut dirinya di antara kedua pria itu, seperti dua pemain catur yang sedang membaca langkah berikutnya.

More Chapters