Suara Kaivan terdengar tenang, berlawanan dengan udara ruangan yang dipenuhi kegelisahan. "Raphael, mantan teroris. Ethan, mantan gangster."
Ruangan itu seketika sunyi. Frans memasukkan baut kecil ke sakunya. Mata Zinnia menyipit tajam. Raphael berdiri tegak dan kaku, tatapannya lurus tanpa goyah. Ethan terlihat lebih santai, tetapi gerakan kecil di lehernya dan jemarinya yang gelisah mengkhianati ketegangan yang ia sembunyikan.
Nada suara Zinnia merendah, hati hati namun dingin. "Kau yakin membawa mereka ke sini adalah pilihan yang tepat?" Ia melangkah mendekat hingga hampir berhadapan langsung dengan Raphael. Tatapannya menguji seperti bilah tajam, dan tangan kanannya sedikit terangkat, siap bereaksi.
Kaivan mengambil kain lap dari meja, mengusap darah dan debu dari tangannya. Ia melirik ke arah dua pendatang baru itu, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalian sudah bukan teroris atau gangster lagi, kan?"
Raphael menggeleng pelan. Ethan mengangguk mantap. Suara mereka menyusul hampir bersamaan, Raphael ragu ragu, Ethan tegas dan jelas.
"Aku yakin," jawab Kaivan pada Zinnia, singkat namun kukuh. Tatapannya tak bergeser, dan nada suaranya saja sudah cukup membuat Zinnia terdiam. Kata katanya tidak muluk, tetapi tak tergoyahkan.
Radit ikut menyela dengan senyum miring. "Awalnya juga tidak masuk akal bagiku. Tapi sekarang... aku percaya padanya." Suaranya terdengar santai, namun matanya menyala penuh keyakinan.
Frans berdiri dan berjalan melintasi ruangan, menepuk bahu Ethan. "Selamat datang. Di sini, kekacauan itu hal biasa. Nanti juga terbiasa." Nada bicaranya ringan, tetapi tatapannya menyimpan peringatan tanpa kata.
Ethan hanya mengangguk. "Santai saja. Aku sudah terbiasa dengan tempat yang berisik," jawabnya rendah dan mantap, tanpa kesombongan, hanya kejujuran.
Felicia yang sejak tadi berdiri di dekat pintu akhirnya melangkah maju. Gerakannya anggun namun tegas, matanya tertuju pada Raphael. "Kau menyelamatkan Kaivan," ucapnya lembut tetapi jelas. "Terima kasih."
Raphael menundukkan kepala sedikit, canggung di bawah beban rasa terima kasih itu. "Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan," gumamnya, suaranya dipenuhi pertentangan batin.
Kaivan berdiri di tengah bengkel yang berantakan itu, tempat yang dulu biasa saja, kini dipenuhi makna. Di belakangnya, Raphael dan Ethan mengamati setiap sudut, mencoba memahami. Kaivan berbicara tenang. "Kami membongkar ponsel lama di sini. Mengambil emas dari sirkuitnya. Lalu menjualnya."
Tak ada kebanggaan dalam suaranya. Namun justru itulah yang membuat kata katanya terasa menenangkan. Seolah pekerjaan sederhana itu adalah fondasi sunyi dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Raphael dan Ethan mendengarkan dalam diam. Mereka mengerti, tempat ini bukan sekadar bengkel. Ini adalah awal. Kaivan menoleh pada mereka, suaranya tenang namun penuh tujuan. "Kalian bisa pergi... atau tinggal. Dan mencari makna hidup bersama kami."
Ruangan kembali hening, hanya dengung mesin yang lembut memecah keheningan. Lampu neon redup memanjang bayangan di lantai. Kaivan berdiri di tengah, menjadi titik tetap di antara dua masa lalu yang gelisah.
Raphael menatapnya. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan badai. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya. Pertanyaan itu bukan hanya tentang Kaivan, melainkan tentang dunia yang pernah menolaknya.
Ethan yang lebih lugas menambahkan, "Apa tujuan akhirnya, Kaivan? Kenapa kami harus mengikutimu?" Suaranya bergetar di antara ragu dan ingin tahu. Ia terbiasa memegang kendali. Kini ia merasa ditarik ke jalan yang belum bisa ia lihat ujungnya.
Kaivan membalas tatapan mereka cukup lama. Matanya mantap, namun di baliknya tersimpan kelelahan. Ia menarik napas, melirik wajah wajah yang telah memilih untuk tinggal, lalu berbicara pelan, setiap katanya membawa luka sekaligus harapan.
"Semua orang di sini punya cerita," ucap Kaivan, suaranya rendah namun berat oleh kebenaran. Ia memberi isyarat pada Radit yang sedang memperbaiki mesin. "Dulu dia pencuri, emosional, ceroboh, tapi hanya karena ingin bertahan hidup." Radit tersenyum tipis, kedamaian kecil berkilau di matanya.
"Zinnia," lanjut Kaivan, menoleh pada gadis di sudut ruangan. "Dia tidak percaya pada laki laki. Keraguan adalah pertahanan terakhirnya." Zinnia berhenti sejenak dan menatapnya tajam, namun tidak menyangkal. Tatapan mereka bertemu, jujur tanpa kata.
"Frans... romantis yang terlalu ambisius. Selalu terbelah antara cinta dan tujuan." Frans menghela napas pelan dan tersenyum, seakan menerima luka dan kebanggaannya sebagai bagian dari dirinya.
"Thivi... dia tidak ada di sini, tapi dulu pernah kuselamatkan." Kaivan menatap sudut kosong ruangan. "Percaya diri, tajam lidahnya... tapi hatinya masih merindukan rumah."
Felicia berdiri tenang di belakang. Ekspresi Kaivan melunak. "Gadis yang kuat, pernah terikat oleh masa lalunya." Felicia tersenyum samar, hangat, meski bayangan luka lama masih tinggal.
Akhirnya, Kaivan menatap dua pendatang baru itu. "Raphael. Ethan. Kalian tidak berada di sini karena kebetulan. Kalian bagian dari cerita ini, bukan karena aku memilih kalian, tapi karena dunia yang melakukannya."
Ia mengangkat Tome Omnicent. Sampul kayunya usang, namun memancarkan misteri. "Buku ini... yang memilih kami."
Ethan terkekeh pelan, teringat sesuatu. "Sepuluh juta, dan kau hampir memecahkan etalase toko demi itu." Namun di balik candanya, matanya tajam, mempertanyakan apa sebenarnya buku ini dan mengapa mereka semua terseret dalam orbit takdir yang sama.
Kaivan mengangguk. "Ini bukan sekadar buku. Tome Omnicent memberiku arah. Semua yang kulakukan, semua orang yang kutemui... ia membimbingku sampai di sini."
Kata katanya menggantung. Ruangan tenggelam dalam keheningan yang sarat misteri.
Raphael yang masih ragu namun penasaran bertanya, "Boleh kulihat?"
Tanpa ragu, Kaivan menyerahkan buku itu. Raphael membukanya, hanya untuk menemukan kehampaan. Halaman demi halaman kosong tanpa tulisan.
"Tidak ada apa apa di sini," gumamnya, mengernyit.
Kaivan tersenyum tipis, pengetahuannya tersembunyi di balik ketenangan. "Hanya aku yang bisa melihatnya."
Saat malam turun, Kaivan melangkah keluar. Langit gelap, jalanan sunyi. Setiap langkah terasa berat oleh janji yang belum terpenuhi. Di benaknya, satu pertanyaan bergaung pelan dalam gelap.
Keesokan harinya, bengkel kembali hidup. Mesin mesin berdengung lembut. Sore itu, sepulang sekolah, Kaivan kembali ke tempat di mana hidupnya terus berputar seperti roda yang tak pernah berhenti.
Dalam diam, ia teringat bisikan yang ia ucapkan malam sebelumnya.
"Aku hanya ingin membantu orang sekarang. Aku tidak ingin lagi bersikap acuh."
Ia tak pernah membayangkan bahwa keinginan kecil itu akan menyeretnya ke badai yang jauh melampaui jangkauannya.
Di sudut ruangan, Frans membaca koran. Alisnya terangkat.
"Gila, ini parah," gumamnya. "Anak pejabat kehilangan motor. Di Cimahi lagi."
Suara Frans memecah lamunan Kaivan. Jantungnya berdegup kencang. Kata kata itu menusuk dalam, membangkitkan kenangan lama. Motor yang pernah ia hancurkan dalam luapan amarah ternyata milik putra pejabat tinggi, anggota geng yang terkenal. Ingatan itu menggantung seperti mimpi buruk yang tiba tiba menjadi jelas.
Ponselnya bergetar. Getaran kecil, namun cukup mengguncang dunianya yang rapuh. Ia mengangkatnya, dan suara panik Ethan langsung terdengar.
"Polisi mencarimu. Katanya kau terlibat dalam kasus motor curian itu, yang kau gadaikan untuk membeli Tome Omnicent."
Dunia seolah berhenti sesaat.
Wajah Kaivan memucat. Napasnya tercekat. Ia tahu itu benar. Tindakannya yang nekat demi sebuah buku yang mengklaim takdirnya. Ia memilih jalan berduri, dan kini duri itu mulai menusuk balik.
Panggilan itu berakhir, tetapi gaungnya tak ikut menghilang. Dengan sisa harapan yang ada, Kaivan membuka Tome Omnicent. Halaman putih yang kosong bagi orang lain mulai berpendar samar, seakan menyerap kegelisahannya.
Kata kata muncul, tajam dan tak terbantahkan.
"Serahkan dirimu di Purwakarta. Ada foto yang menghubungkanmu dengan ledakan itu. Ini akan mengurangi keterlibatanmu. Temui Raphael. Bicaralah dengannya."
