Cherreads

Chapter 88 - Kebebasan Tidak Pernah Menjadi Akhir

Kata kata itu menembus udara seperti kabut hitam. Kaivan membeku. Bukan karena terkejut, melainkan karena senyum tipis yang sempat ia tangkap di bibir Tania. Senyum dingin. Sebuah jebakan.

Kepala polisi mengembuskan napas pendek, memberi isyarat pada anak buahnya. "Catat setiap pernyataan. Kita akan menyelidikinya," katanya. Tatapannya tertuju pada Kaivan. "Sampai saat itu, kamu tetap berada dalam tahanan."

Kaivan bersandar perlahan. Tenaganya seakan mengalir habis. Ia tidak membantah. Tidak berkata apa apa. Hanya diam, menatap langit langit ruangan. Di matanya ada pasrah yang sunyi. Ia tahu dirinya telah terjerat dalam jaring kekuasaan.

Langkah kaki terdengar dari lorong luar, mantap dan tegas. Pintu berderit terbuka.

"Tunggu sebentar."

Suara itu dalam dan tenang. Semua orang menoleh. Seorang pria tinggi berpakaian hitam berdiri di ambang pintu, sebuah tablet berada di tangannya. Tatapannya menembus lurus ke arah kepala polisi.

"Saya memiliki bukti yang lebih dapat dipercaya."

Raphael.

Ia melangkah maju dan memperlihatkan layar tablet itu. Sebuah video diputar. Suara percakapan terdengar jelas. Dalam rekaman itu, Kaivan hanya terlihat mengambil kembali kunci motor Darius setelah melumpuhkan para anggota gengnya, sambil berkata, "Aku akan menggadaikan motormu untuk menebus motorku." Tidak ada penyerangan. Tidak ada kekerasan pada Tania. Gadis itu terlihat tenang dan tidak terluka.

Kepala polisi menyipitkan mata. Ia tetap diam.

Lalu Gubernur Heri melangkah maju. Nada suaranya lembut namun berwibawa. "Jadi Kaivan melawan karena motornya dicuri oleh geng putra anggota dewan." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Saya sarankan... kita selesaikan ini secara baik baik. Kasus seperti ini bisa mencoreng reputasi Anda juga, bukan?"

Arman membuka mulut untuk membantah, tetapi tak ada kata yang keluar. Darius menundukkan kepala, wajahnya memerah karena malu. Tania menatap Raphael dengan terkejut, rasa kagetnya hampir tidak bisa disembunyikan.

"Kenapa... pria itu punya video itu... tepat pada saat yang dibutuhkan..." bisiknya pelan. Terlalu pelan bagi kebanyakan orang, tetapi Kaivan mendengarnya.

Heri mengangkat alis dan menoleh pada Arman serta Darius. "Bahkan jika kasus ini dilanjutkan, Kaivan kemungkinan besar akan menang. Ada indikasi bahwa putra Anda mencoba menyeretnya ke kelompok teroris. Itu bisa berbalik merugikan Anda."

Keheningan memenuhi ruangan. Tegang dan berat.

Akhirnya Arman menghela napas panjang. Suaranya kaku. "Kami... mencabut laporan ini."

Satu per satu mereka pergi. Darius berjalan di belakang ayahnya tanpa berani menoleh. Tania menjadi orang terakhir yang keluar. Namun sebelum melewati pintu, ia menoleh sekali lagi.

Kaivan telah berdiri. Tatapannya tertuju padanya, tajam dan tidak bergeming. Bukan kebencian yang terlihat di sana. Melainkan sebuah janji, bahwa ia tidak akan pernah melupakan ini.

Di luar kantor polisi, langit malam berubah menjadi abu abu lembut. Jalanan sunyi, disentuh napas angin malam yang tenang. Tania berjalan dengan langkah ringan, tetapi pikirannya tidak mau diam. Ia menoleh lagi ke arah kantor polisi di belakangnya.

"Kenapa... Kaivan begitu dekat dengan gubernur...?" pikirnya.

Wajahnya menegang. Keraguan perlahan merayap ke dalam benaknya, mengaburkan ketenangan malam.

Langkah mereka tenang ketika meninggalkan kantor polisi. Angin malam menyentuh wajah Kaivan, dingin namun tidak cukup untuk meredakan badai di dalam hatinya. Langit dipenuhi bintang bintang kecil, seakan mencoba menghapus sisa kegelapan yang tertinggal.

"Dari mana kamu mendapatkan rekaman itu?" tanya Kaivan pelan.

Raphael berhenti berjalan dan melipat tangannya. "Ethan yang merekamnya. Dia ada di sana saat kamu melawan mereka. Dan saat kamu mengambil kembali apa yang menjadi milikmu."

Mata Kaivan melebar. Potongan potongan teka teki mulai menyatu.

"Ethan..."

Raphael tersenyum tipis. "Aku menanyainya tentang kejadian di Cimahi, dan dia mengirim semuanya padaku. Foto, rekaman suara, semuanya."

Kaivan mengembuskan napas panjang, campuran lega dan pahit. "Aku tidak tahu... bagaimana harus berterima kasih padamu."

Raphael mengeluarkan sebuah karambit kecil dari sakunya lalu menyerahkannya. "Kamu bisa membalasnya nanti. Suatu hari nanti."

Kaivan menerima pisau itu dan menggenggamnya erat. Sebuah simbol kepercayaan. Tidak perlu kata kata. Hanya tatapan singkat yang sudah cukup mengatakan segalanya. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan senyum kemenangan, melainkan senyum dari sebuah ikatan yang tidak mudah patah.

Deru kereta tengah malam memecah keheningan. Kaivan naik ke dalam gerbong sementara Raphael mengantarnya sampai ke pintu.

"Kamu akan melewati semua ini," kata Raphael sambil menepuk bahunya. "Hanya saja... jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."

Kaivan mengangguk. Rasa terima kasih tampak lembut di matanya sebelum pintu kereta menutup.

Ketika kereta mulai bergerak, ia memandang keluar jendela, melihat kota perlahan menjauh. Lampu lampunya berkelip lembut di tengah kekacauan yang baru saja ia lalui.

Di pangkuannya, Tome Omnicent terbaring tenang. Buku itu terasa hidup di bawah ujung jarinya. Diam, tetapi memancarkan energi yang belum sepenuhnya terungkap.

Ia membukanya perlahan. Setiap baris kata membangkitkan kembali gema perjuangannya. Tome itu lebih dari sekadar alat. Ia adalah saksi.

Pikirannya melayang pada geng para pemuda itu, pada kesetiaan Raphael, dan pada saat saat ketika semuanya hampir runtuh. Kenangan kenangan itu membentuk pola seperti potongan teka teki.

Namun satu pertanyaan masih menghantuinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dunia belum selesai mengejarnya.

Malam menyelimuti Bandung dalam keheningan. Lampu redup stasiun memancarkan cahaya lembut ketika Kaivan turun dari kereta. Tatapannya tenang, meskipun pikirannya tertuju pada pesan yang bersinar samar di halaman Tome.

"Bimbing seorang gadis tersesat bernama Isabel kembali ke rumahnya."

Rasa penasaran, kegelisahan, dan secercah harapan bercampur di dalam dadanya. Siapa Isabel? Ujian lain? Atau pesan tersembunyi dari kekuatan yang belum sepenuhnya ia pahami?

Apa pun itu, ia tahu satu hal. Jalannya sudah ditentukan, dan ia tidak akan berpaling.

Tatapannya menyapu seluruh stasiun, mencari sosok asing yang mungkin adalah Isabel.

Tidak butuh waktu lama.

Di sudut peron yang remang, seorang gadis berdiri sendirian dengan gelisah. Rambut panjangnya jatuh bebas di bahunya. Matanya yang waspada terus menoleh ke sekeliling. Ada sesuatu yang rapuh di dalam tatapannya. Ketakutan, namun juga permohonan diam diam untuk diselamatkan.

Jantung Kaivan berdetak lebih cepat.

"Kenapa aku malah gugup?" pikirnya.

"Cantik... seperti dewi," gumamnya pelan, lalu cepat cepat menepis pikiran itu. Ia tahu pertemuan ini bukan sekadar kebetulan biasa. Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.

Meneguhkan hati, Kaivan mendekat dengan hati hati agar tidak membuatnya terkejut.

"Hei, kamu sedang apa di sini sendirian?" tanyanya lembut.

Namun reaksi Isabel benar benar di luar dugaannya.

Sikap gadis itu langsung berubah waspada. Matanya menajam meski masih diliputi keraguan.

"Aku tidak menjual diri, ya. Maaf, tapi aku masih sekolah," katanya cepat.

Kaivan terpaku. Kata kata itu membuatnya benar benar terkejut.

Ia menarik napas perlahan, berusaha tetap tenang.

"Sepertinya ini akan lebih rumit dari yang kupikirkan," gumamnya dalam hati.

Ia lalu memperlihatkan senyum kecil yang menenangkan.

"Ah, maaf. Namaku Kaivan. Aku tidak bermaksud menakutimu. Boleh aku tahu kamu sedang menunggu siapa?"

Isabel menatapnya sekilas. Ia masih berhati hati, tetapi ketegangannya mulai mereda.

"Temanku menyuruhku menunggu di sini," jawabnya pelan.

Nada suaranya masih penuh kewaspadaan, tetapi ketajaman di matanya mulai melembut, digantikan oleh keraguan kecil yang samar.

 

More Chapters