Delapan sosok duduk berjajar, setengah tubuh mereka terendam di dalam kolam. Kaivan berdiri di tengah, air menempel di kulitnya, rambut gelapnya basah dan berat. Ia menarik napas dalam, merasakan beban kata-kata yang akan ia lepaskan.
"Kalau kalian bertanya apa tujuanku mengumpulkan kalian sampai sekarang..."
Suaranya mengalir pelan di antara uap hangat. Ketegangan mengeras. Semua mata tertuju padanya, menunggu.
"Aku tidak tahu."
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang. Radit mengernyit. Isabel menegang. Felicia hanya mengangkat alis, dingin dan sulit dibaca. Raphael bereaksi paling keras.
"Maksudnya apa itu?" bentaknya, suaranya tajam memantul di atas air. Riak di sekelilingnya bergetar.
Kaivan menoleh perlahan ke arahnya. Ekspresinya tetap tenang. Ia meraih ke tepi kolam dan mengangkat sebuah buku tebal bersampul kayu, permukaannya memancarkan cahaya samar di bawah penerangan redup.
"Tapi benda ini bisa menjelaskan semuanya... bukan?"
Ia meletakkan Tome Omnicent dengan hati-hati di tepi kolam, seolah menaruh sebuah relik suci. Uap yang naik melingkupinya, membuat buku itu tampak seakan bernapas.
Felicia melirik sekilas, lalu memalingkan pandangan, namun kembali menatapnya. Keheningan menyelimuti mereka.
Kaivan perlahan menurunkan tubuhnya hingga duduk sejajar dengan yang lain. Untuk pertama kalinya, ia tidak berdiri terpisah sebagai pemimpin, melainkan sebagai seseorang yang berjalan bersama mereka.
"Aku bertanya padamu..." gumamnya, "Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa aku harus bertemu dengan orang-orang ini?"
Lalu sesuatu berubah.
Sebuah suara bergema di dalam pikiran mereka, lembut namun tegas. Bukan suara milik siapa pun di sana. Semua membeku. Hanya satu benda yang bisa melakukan ini, Tome Omnicent.
"Tujuannya adalah membantu Kaivan mewujudkan keinginannya: 'Aku hanya ingin membantu orang-orang di sekitarku sekarang.' Itu adalah permintaan pertamanya padaku."
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari yang mereka bayangkan. Raphael yang tadi marah kini hanya menatap kosong ke permukaan air. Radit mengusap tengkuknya, mencoba mencerna. Isabel menatap Kaivan, matanya dipenuhi keraguan dan sesuatu yang mendekati ketidakpercayaan.
Felicia, yang biasanya dingin, menatap Kaivan lebih lama dari yang lain. Di bawah cahaya lentera yang samar, mata kemerahannya berkilau. Ia tahu betapa tulusnya keinginan itu.
Kaivan membalas tatapan mereka dan mengangguk pelan. Tidak ada ambisi besar, hanya keinginan sederhana yang menyeret mereka semua ke dalam ini: keinginan untuk membantu.
Uap tipis melayang di atas kolam, air hangat memantulkan cahaya lembut lentera. Kaivan sedikit bangkit di tengah lingkaran mereka, tidak lagi ragu.
"Itu benar," katanya pelan namun tegas. "Aku memang pernah mengatakan itu. Dulu aku orang yang acuh. Kalau tidak percaya, tanya Radit. Kami satu sekolah."
Radit, bersandar santai di tepi batu, mengangguk. "Iya. Dulu dia pendiam. Susah didekati, sering dibully, jarang bicara. Canggung, sering dimanfaatkan, tidak punya teman."
Zinnia mengangkat alis. Raphael menoleh padanya. Kaivan menghela napas dan menyilangkan tangan. "Terima kasih, Radit. Sangat... rinci."
Radit mengangkat bahu, tak peduli. Namun sebelum suasana mencair, suara Tome kembali terdengar.
"Keinginan itu mungkin terdengar sederhana, tapi bagiku itu adalah benih seorang pahlawan. Karena itulah aku mendorong Kaivan untuk meningkatkan kapasitas otaknya. Namun tubuhnya tidak mampu menahannya. Ia jatuh koma. Maka peningkatan itu berhenti di dua puluh persen."
Zinnia duduk tegak, terkejut. "Benar! Waktu itu aku dan Radit sempat menjengukmu. Kamu ditemukan pingsan dengan buku itu di tanganmu."
Kaivan terdiam, matanya menerawang. Ia mengingat sensasi itu, tubuhnya yang berat, kesadarannya yang memudar, dan perasaan samar bahwa sesuatu di dalam dirinya sedang berubah.
"Ya," ujar Tome itu, suaranya tetap tenang. "Itu perbuatanku. Sejak saat itu, kemampuan kognitif Kaivan meningkat. Ia bisa mempercepat proses berpikirnya, memaksa tubuhnya menyesuaikan diri dengan kecepatan pikirannya."
Radit menatap ke atas, menghubungkan potongan-potongan yang selama ini terpisah. Lalu matanya membesar. "Oh! Pantas saja gerakan Kaivan beda waktu dia menghajar mantan Felicia."
Semua kepala langsung menoleh ke arah Felicia.
Ekspresinya yang santai langsung berubah. Rahangnya menegang, rasa kesal menyala di matanya. "Jangan ingatkan aku pada bajingan itu," katanya dingin, suaranya setajam es.
Isabel sedikit condong ke depan, penasaran. "Jadi Kaivan benar-benar menghajar mantanmu?" tanyanya, alis terangkat.
Felicia menghela napas panjang, lelah, lalu bersandar pada dinding batu. Dengan nada malas, ia menjawab, "Iya."
Melihat bayangan yang melintas di ekspresinya, tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.
