Cherreads

Chapter 229 - Kau Lulus

Napasnya terengah-engah. Namun matanya masih menyala. Ia menolak untuk menyerah.

"Ini belum selesai," desisnya serak. Suaranya tajam seperti baja.

Levan mengangkat sebelah alis dan tersenyum tipis. "Tidak. Semuanya berakhir di sini, Kaivan. Kau lulus."

Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada ledakan mana pun.

Kaivan membeku. "Lulus...?" bisiknya. Suaranya terbawa angin yang berembus kencang.

Sebelum sempat berpikir, Elara bergerak.

Kilatan logam kecil muncul dari sakunya. Sebuah suntikan.

"Maafkan aku, Kaivan," bisiknya.

Jarum itu menembus lehernya. Sensasi dingin menyebar melalui pembuluh darahnya, lalu berubah menjadi kehangatan palsu yang menenangkan.

Dunia mulai bergoyang. Warna-warna melebur menjadi kabut.

Sosok Levan berubah menjadi bayangan di balik tirai salju.

Lutut Kaivan melemah.

Ia jatuh perlahan ke dalam pelukan putih bumi, tenggelam dalam keheningan malam.

Kesadarannya kembali seperti riak yang muncul di permukaan air tenang. Cahaya redup menyelinap melalui celah tirai, membentuk garis tipis di dinding beton abu-abu. Aroma antiseptik bercampur logam mengusik ingatan yang terasa jauh.

Kaivan perlahan membuka mata. Langit-langit yang familiar menyambut pandangannya, dingin dan sunyi. Ia langsung mengenali tempat itu.

"...Bunker," gumamnya.

Seprai abu-abu menutupi tubuhnya. Denyutan samar terasa di lehernya, tepat di tempat jarum Elara menusuk kulitnya. Lengan kirinya dibalut perban. Dalam kesunyian, langkah kaki pelan bergema dari koridor di luar.

Pintu berderit terbuka.

Elara berdiri di ambang pintu, masih mengenakan seragamnya. Wajahnya pucat karena kelelahan. Di matanya terpantul rasa bersalah, kelegaan, dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

"Kau akhirnya bangun..." bisiknya pelan sambil menutup pintu di belakangnya.

Namun ia tidak sendirian.

Seorang pria muda bermata tajam dengan senyum mengejek duduk di sudut ruangan. Fabrizio. Pemegang Tome Omnicraft itu menatap Kaivan dengan ketertarikan yang terang-terangan.

"Bagaimana pelarianmu, Kaivan?" tanyanya santai, suaranya terdengar tajam.

Kaivan menatapnya kebingungan. Tubuhnya terasa berat. "Bagaimana kau tahu? Kenapa aku ada di sini?" Suaranya bergetar, terjebak di antara ketakutan dan ketidakpercayaan. Ia tidak mengerti bagaimana dirinya bisa kembali ke ruangan ini setelah melarikan diri. Seharusnya ia sudah ditangkap. Namun sekarang... semuanya terasa seperti diulang dari awal.

Fabrizio terkekeh pelan. "Video pelarianmu menjadi hiburan. Gunting, tali, tanpa korban jiwa. Semua orang dibuat kagum. Dalam semalam kau menjadi legenda."

Dada Kaivan terasa sesak. Jantungnya berdegup kencang. Kemarahan, ketakutan, dan kekecewaan bercampur menjadi satu. Langit-langit di atasnya terasa asing. Dinding abu-abu gelap yang dulu memberinya rasa aman kini terasa seperti sangkar. Bahkan ranjang yang lembut pun tidak membawa ketenangan, hanya rasa tak berdaya.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas.

Lalu pintu terbuka dengan keras.

Levan masuk.

Ia berdiri tegak dengan setelan hitam rapi, rambut tersisir ke belakang. Matanya yang tajam berkilat seperti bilah pisau di bawah cahaya redup.

"Tahu tidak," katanya tenang, "semua ini hanyalah sebuah ujian."

Kaivan menoleh ke arahnya. Matanya memerah, bukan hanya karena kelelahan, tetapi karena semua yang baru saja runtuh di dalam dirinya.

Levan melangkah mendekat, mantap seperti predator setelah perburuan. Ia berhenti di samping ranjang dan menatap ke bawah.

"Aku tidak pernah berniat membunuhmu. Aku hanya ingin melihat batas kemampuanmu. Dan kau lulus... hanya dengan gunting dan tali."

Kaivan terdiam.

Pecahan kenangan menghantam pikirannya. Berlari, menjatuhkan para penjaga, mencuri granat, mengikat pintu dengan kabel tua. Semuanya terasa begitu nyata.

Kini, semuanya tampak seperti sandiwara yang telah disusun dengan rapi.

Levan tersenyum tipis. "Bahkan aku sampai harus menembakkan RPG-7 hanya untuk menghentikan trukmu yang menggelinding itu. Cukup menghibur, harus kuakui."

Kaivan perlahan duduk. Tubuhnya masih lemah, tetapi secercah cahaya kembali menyala di matanya.

"Tapi... para penjaga yang mengarahkan senjata kepadaku," tanyanya. "Kenapa mereka tidak menembak?"

Levan berbalik dan sedikit menyingkap tirai. Cahaya koridor mengalir masuk, memantul di wajahnya yang tenang namun berbahaya.

"Senjatanya kosong. Sama seperti saat kau mencoba menembakku, tidak ada peluru di dalamnya. Setiap langkah yang kau ambil adalah bagian dari ujian. Dan kau, Kaivan, berhasil melewatinya dengan cara yang tidak kami duga."

Keheningan memenuhi ruangan. Dinding beton itu seakan memantulkan suara napas mereka.

Kaivan menundukkan kepala. Napasnya berat saat mencoba memahami makna di balik permainan kejam ini.

"Kenapa aku?" bisiknya. "Aku hanya ingin hidup dengan tenang..."

Levan berbalik cepat. Senyum miring terbentuk di wajahnya.

"Karena kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain," katanya. "Keinginan untuk hidup yang sekuat pengguna Omnicent... dan otak yang sudah aktif hingga lima puluh persen."

Ia melangkah mendekat. Nadanya tiba-tiba ringan, hampir seperti seorang ayah yang sedang menggoda anaknya.

"Baiklah," katanya santai. "Aku akan membawamu menemui sponsor kami. Tapi jangan mencoba kabur lagi, ya?"

Kaivan menatapnya.

Tatapan itu bukan lagi milik seorang korban.

Itu adalah tatapan seseorang yang telah menatap jurang kegelapan... lalu kembali darinya.

Ia perlahan berdiri. Bahunya menegang.

"Aku akan ikut," katanya pelan namun tegas. "Tapi aku tidak akan berhenti."

Levan tertawa kecil dan mengangguk dengan kepuasan yang tenang. Ia berbalik pergi, langkah kakinya bergema di lantai yang dingin. Pintu menutup perlahan di belakangnya, meninggalkan Kaivan sendirian dalam kesunyian yang menelan sisa-sisa kemarahan dan tekadnya.

Jauh di bawah Pegunungan Kaukasus yang tertutup salju, di sebuah ruang bawah tanah rahasia, waktu seolah berhenti bergerak.

More Chapters