Cahaya giok perlahan meredup.
Li Yun tergeletak di lantai gua, napasnya terengah, seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja dirobek lalu disatukan kembali. Setiap tulang bergetar, setiap aliran darah terasa panas.
Namun… ia hidup.
Di udara, bola cahaya giok telah menghilang. Sebagai gantinya, simbol kuno terukir di dinding gua mulai menyala satu per satu, membentuk lingkaran besar di sekeliling Li Yun.
Suara itu kembali terdengar—kini lebih dekat, lebih nyata.
"Dengarkan baik-baik, Pewaris."
"Apa yang akan kau tempuh bukanlah jalan kultivasi manusia."
Li Yun berusaha duduk, giginya bergemeletuk.
"Apa… maksudmu?"
Cahaya giok berkumpul, membentuk bayangan samar seorang pria berjubah panjang. Wajahnya tak jelas, seolah terbuat dari kabut dan cahaya.
"Manusia menyerap energi."
"Kau… akan bernapas bersamanya."
Begitu kata terakhir diucapkan—
BRUUM—!
Udara di dalam gua tersedot.
Bukan ke dalam lingkaran formasi—
melainkan ke tubuh Li Yun.
Ia tersentak, mulutnya terbuka lebar, seolah paru-parunya dipaksa menghirup dunia itu sendiri. Energi spiritual bukan mengalir lewat meridian seperti kultivator biasa, tapi menembus langsung ke organ, tulang, dan darahnya.
"A—aargh!!"
Rasa sakitnya brutal.
Kulitnya retak halus, darah menetes dari sudut bibirnya. Jika ada kultivator lain melihat ini, mereka akan menyebutnya bunuh diri.
"Jangan lawan."
"Tarik napas."
Li Yun gemetar.
Ia teringat hidupnya yang lemah. Ejekan. Tatapan kasihan. Batu penguji yang gelap.
Ia menarik napas.
Untuk pertama kalinya, dunia menjawab.
Gunung bergetar halus. Akar-akar bercahaya di dinding gua memanjang, menyentuh tubuhnya. Aliran hijau giok berputar di sekelilingnya seperti badai lembut.
Rasa sakit perlahan berubah menjadi… ketenangan.
Di dalam dirinya, sesuatu terbentuk.
Bukan inti spiritual.
Melainkan sebuah Ruang Napas—rongga hampa yang berdenyut, siap diisi oleh langit dan bumi.
Bayangan pria itu mengangguk pelan.
"Tingkat pertama."
"Napas Awal Langit."
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.
KRAK—!
Salah satu simbol di dinding gua retak.
Bayangan pria itu menegang.
"Seseorang telah menemukan tempat ini."
Li Yun membuka mata.
Dari celah gua bagian atas, cahaya putih menusuk masuk. Aura tajam menyayat udara—aura kultivator tingkat tinggi.
Suara dingin menggema dari atas.
"Jadi… ini sarang warisan yang kami cari."
Li Yun berdiri dengan kaki masih goyah. Tangannya mengepal, napasnya belum stabil.
Bayangan itu memudar.
"Ingat satu hal, Li Yun."
"Jalanmu tidak butuh teknik."
"Cukup… bernapas."
Cahaya terakhir menghilang.
Dan pada saat yang sama,
sosok berjubah putih mendarat di dalam gua.
Pedang di tangannya berkilau.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, Li Yun—anak tanpa akar—
berdiri berhadapan langsung dengan kultivator sejati.
Dan ia tidak pingsan.
