Cherreads

Kebangkitan Sang Penguasa Abadi

Jamiloo
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
238
Views
Synopsis
"Tiga puluh ribu tahun aku memimpin galaksi, hanya untuk terbangun di raga sampah yang bahkan tidak sanggup menahan napasnya sendiri." Ling Feng, sang Kaisar Abadi yang telah melihat bintang-bintang lahir dan mati, jatuh dalam pengkhianatan agung dan bereinkarnasi ke Bumi tahun 2026. Ia kini mendiami tubuh seorang pemuda berusia 21 tahun—seorang pecundang keluarga yang baru saja "dihabisi" dalam kecelakaan terencana. Di dunia yang dipenuhi polusi, di mana teknologi mulai menggantikan jalur spiritual, dan perusahaan farmasi raksasa bereksperimen dengan "Serum Evolusi" yang cacat, Ling Feng hadir sebagai anomali. Bagi mereka, ia hanyalah pemuda yatim piatu yang malang. Bagi Ling Feng, mereka hanyalah debu di bawah kakinya. Dengan memori kaisar yang mampu membedah hukum alam dan memanipulasi frekuensi atom, Ling Feng mulai memahat kembali jalannya menuju puncak. Bukan dengan sihir, tapi dengan Sains Kultivasi yang tak terbayangkan. * Pembersihan Saraf di tengah hiruk pikuk Metropolis. * Penghancuran korporasi dengan satu sentuhan frekuensi. * Membangun tahta di atas reruntuhan pengkhianat. Satu jam adalah waktu yang ia butuhkan untuk berdiri. Satu malam adalah waktu untuk menaklukkan kota. Dan satu masa kehidupan adalah waktu yang ia berikan bagi musuh-musuhnya untuk menyesal. Selamat datang di era di mana dewa tidak lagi bersembunyi di langit, tapi berjalan di antara gedung pencakar langit.
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1: Napas Naga di Balik Debu Fana

Kehampaan itu berakhir dengan rasa sesak yang menghina.

Bagi entitas yang pernah duduk di Tahta Sembilan Langit dan memerintah jutaan Kultivator abadi, kembali ke alam sadar terasa seperti dilemparkan ke dalam sumur yang penuh dengan lumpur beracun. Sensasi pertama yang menyerang kesadarannya bukanlah cahaya surgawi, melainkan beratnya beban duniawi yang seolah mencoba meremukkan setiap inci tulang dan dagingnya.

Mata itu terbuka perlahan, terasa seberat pintu gerbang istana yang berkarat. Cahaya matahari siang menembus gorden kusam, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara yang pengap. Bau pemutih lantai yang tajam dan aroma karat besi dari ranjang rumah sakit menusuk indra penciumannya. Bagi seorang Kaisar yang terbiasa menghirup Saripati Alam dari puncak gunung suci, udara di ruangan ini terasa seperti asap hitam yang membakar paru-paru.

Raga ini... benar-benar sampah.

Ia mencoba menggerakkan ujung jarinya, namun yang ia rasakan hanyalah kekakuan yang mematikan. Melalui sisa-sisa kesadaran yang tersambung ke sumsum tulang, ia mulai melakukan penelusuran batin—sebuah insting yang sudah mendarah daging selama tiga puluh ribu tahun perjalanannya melintasi zaman.

Pemuda ini bernama Ling Feng, baru berusia dua puluh satu tahun.

Di dunia asalnya, usia dua puluh satu tahun adalah masa di mana seorang Kultivator seharusnya memiliki kulit seputih porselen dan tulang sekeras baja. Namun di raga ini, dalam waktu sesingkat itu, kerusakan yang terjadi sudah sangat mengerikan. Ia merasakan Jalur Nadi yang tersumbat oleh kotoran fana, Dantian yang kering kerontang seperti tanah gersang, dan jejak racun dari sisa-sisa obat-obatan duniawi yang merusak fondasi hidupnya.

Ia terbaring diam saat bayangan matahari di lantai mulai bergeser perlahan. Ia tidak bergerak sedikit pun, membiarkan pikirannya yang seluas samudera menyusut, melipat setiap inci kepadatan jiwanya agar tidak menghancurkan struktur otak manusia fana ini. Ia harus berhati-hati; jika ia melepaskan satu persen saja Hawa Keberadaannya sekarang, raga muda ini akan hancur menjadi abu dalam sekejap.

"Tiga puluh ribu tahun aku membelah angkasa, kini aku terkurung dalam daging dua puluh satu tahun yang nyaris membusuk," batinnya dengan getir.

Dalam keheningan itu, fragmen memori pemilik tubuh asli mulai merembes masuk seperti asap hitam. Ia melihat kilasan masa kecil yang penuh penghinaan di kediaman Keluarga Ling. Ia merasakan rasa sakit saat sebuah mobil hitam menghantam kendaraannya dengan sengaja. Ia mendengar suara tawa licik di balik telepon sesaat sebelum kegelapan merenggut nyawanya.

"Ling Feng..." gumamnya. Suaranya pecah, kering seperti gesekan dua batu di gurun pasir.

Ia adalah Ling Feng. Tapi ia juga bukan Ling Feng. Ia adalah Sang Kaisar yang telah jatuh, dan raga pemuda malang ini adalah wadah pertamanya untuk kembali meniti tangga menuju langit.

Sore mulai menjelang, mengubah warna cakrawala menjadi jingga yang muram. Ketenangan ruangan itu hancur oleh suara langkah kaki yang angkuh di koridor, diikuti oleh aroma parfum yang menyengat—tipe aroma yang hanya dipakai oleh orang-orang yang merasa dirinya berada di atas segalanya.

Pintu kamar terbuka dengan derit yang kasar. Seorang pria muda berpakaian mewah masuk dengan langkah yang dibuat-buat, diikuti oleh seorang pria raksasa dengan otot-otot yang menonjol, memancarkan aura kasar yang disebut sebagai kekuatan Kelas Perunggu di dunia ini.

"Masih bernapas, ya? Kau benar-benar memiliki nyawa seekor kecoak, Ling Feng," pria itu, Ling Jian, berjalan menuju ujung ranjang dengan senyum yang dipenuhi rasa jijik. Ia melemparkan sebuah map hitam ke atas dada Ling Feng yang masih terbalut perban. "Tanda tangani. Berikan sisa saham milik ayahmu pada keluarga, dan aku akan membiarkanmu membusuk di panti jompo dengan tenang."

Ling Feng tidak melihat surat itu. Ia tetap menatap langit-langit, namun suaranya yang keluar kini membawa getaran yang membuat gelas di atas meja bergetar halus.

"Tiga puluh ribu tahun aku melihat bintang-bintang lahir dan mati," bisik Ling Feng. "Dan di hari pertama aku kembali, seekor semut mencoba mendikte jalanku?"

Ling Jian mengernyit, rasa takut mendadak menyusup ke dadanya sebelum berubah menjadi kemarahan yang meluap. "Apa kau bilang? Semut? Sepertinya tabrakan itu benar-benar menghancurkan otakmu! Ah-Geng, beri dia pelajaran. Patahkan jemarinya."

Pria raksasa bernama Ah-Geng itu maju dengan seringai buas. Di mata masyarakat Bumi, dia adalah petarung elit, seorang monster yang bisa menghancurkan kayu tebal dengan satu hantaman. Namun, di mata Ling Feng, gerakan pria ini tidak lebih dari tarian lamban seekor serangga.

Saat tangan kasar Ah-Geng hendak mencengkeram jari Ling Feng, Sang Kaisar hanya menggerakkan satu jarinya. Ia tidak memukul; ia hanya menyentuh titik pertemuan Nadi di pergelangan tangan Ah-Geng.

Tik.

Sentuhan itu begitu ringan, seolah-olah sehelai daun jatuh ke permukaan air. Namun, dalam sekejap, Ah-Geng memekik histeris. Tubuh raksasanya ambruk ke lantai, gemetar hebat seperti sedang dibakar dari dalam. Wajahnya membiru, dan ia tidak sanggup mengeluarkan suara lagi selain rintihan yang menyayat hati. Jalur energinya yang kasar telah diputus seketika oleh kehendak Sang Kaisar.

"Keluar," ucap Ling Feng. Hanya satu kata, namun membawa Hawa Membunuh yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk Ling Jian berdiri.

Ling Jian, yang wajahnya kini sepucat kertas, segera menarik pengawalnya yang masih lumpuh, melarikan diri tanpa berani menoleh lagi. Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Ling Feng kembali dalam kesunyian malam yang mulai turun.

Malam kini sepenuhnya menyelimuti kota. Lampu-lampu jalan mulai menyala, namun di dalam kamar yang gelap itu, sebuah proses yang sakral sedang dimulai.

Ling Feng memaksakan dirinya untuk duduk bersila. Setiap gerakan adalah siksaan bagi tulang rusuknya yang patah. Ia bisa mendengar suara tulang yang bergeser—krak, krak—namun ia tidak mengizinkan satu pun otot wajahnya bergetar. Baginya, rasa sakit fisik hanyalah debu yang tidak berarti dibandingkan dengan penghinaan yang ia terima.

Ia memejamkan mata, memulai pembersihan pertama. Ia tidak memerlukan mantra; ia hanya memerintahkan Qi di sekelilingnya untuk tunduk.

Udara di sekitar ranjang mulai berputar halus, membentuk pusaran kecil yang tak terlihat. Ling Feng menarik napas dengan ritme Sembilan Putaran Langit. Ia merasakan kotoran fana di dalam tubuhnya—sisa racun, lemak, dan ampas kehidupan manusia biasa—mulai dipaksa keluar melalui setiap pori-pori kulitnya.

Cairan hitam yang kental dan berbau amis logam mulai merembes keluar, membasahi kain seprai putihnya hingga noda itu melebar. Inilah Pemurnian Sumsum tingkat awal. Ia merasakan sumsum tulangnya yang tadinya tumpul kini mulai berdenyut, memproduksi darah yang lebih panas dan murni.

Rasa sakitnya berada di ambang batas kewarasan manusia. Rasanya seperti ada ribuan semut api yang merayap di sepanjang Jalur Nadi, memakan jaringan yang rusak dan menggantinya dengan jalur energi yang lebih kokoh. Ling Feng tetap tenang, jiwanya yang telah hidup puluhan ribu tahun bertindak sebagai jangkar yang menjaga agar raga dua puluh satu tahun ini tidak hancur berantakan karena tekanan energi yang meluap.

Menit berganti menjadi jam. Bayangan bulan di lantai kamar perlahan bergeser dari satu sisi ke sisi lain.

Ketika kegelapan malam mencapai puncaknya, getaran di ruangan itu mendadak berhenti.

Ling Feng berdiri dari ranjang. Tidak ada lagi rasa sakit dari tulang rusuknya. Ia melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah cakrawala. Di bawah cahaya rembulan, ia melihat sosok pemuda berusia dua puluh satu tahun yang sama, namun dengan tatapan yang bisa membuat gunung sekalipun runtuh. Kulitnya kini tampak lebih jernih, memancarkan aura dingin yang tak tertembus.

Ia telah berhasil menyalakan api pertamanya. Raga ini bukan lagi sekadar sangkar; ia telah menjadi fondasi dari sebuah legenda yang baru dimulai.

"Malam ini baru saja dimulai," gumamnya, suaranya kini memiliki resonansi yang berat.

Ia berjalan menuju jendela, menempatkan telapak tangannya pada kaca. Tanpa tekanan, kaca itu pecah menjadi debu halus di bawah kehendaknya. Ling Feng melompat keluar, mendarat di aspal jalanan dengan keheningan seorang naga yang turun ke bumi.

Langkah Sang Kaisar di dunia fana telah dimulai. Metropolis masih tertidur, tidak menyadari bahwa penguasa sejati baru saja bangkit untuk menuntut kembali takhta yang telah hilang.