Cherreads

Fuyu Hanabi

arianlakshmi
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
152
Views
Synopsis
Mereka tinggal di kota kecil, jadi wajar saja kalau apapun yang terjadi tak akan lepas dari pandangan menyelidik orang-orang sekitar. Naoki yakin, ia dan Kaname pun tak lepas dari pandangan menyelidik itu. Tapi seperti layaknya gosip tetangga, cepat datang, cepat pula perginya.
Table of contents
VIEW MORE

Chapter 1 - Fuyu Hanabi

- Naoki -

Pukul 5 pagi.

Bunyi pelan alarm yang berasal dari jam digital di atas meja samping tempat tidur melantun mengisi kamar tidur yang temaram. Bunyinya tidak kencang namun konsisten dan cukup untuk membuat sosok yang tergolek di tempat tidur menggerakkan tangannya dan mematikan bunyi tersebut. Sepasang mata memicing mengantuk, mengerjap pelan karena pandangannya masih agak kabur. Samar-samar, angka berwarna merah menyala yang terpampang di jam digital itu pun mulai terbaca dan sosok itu mendesah. Ia kembali merebahkan kepala dan beringsut untuk berbaring telentang. Matanya kembali tertutup sampai akhirnya membuka kembali lima menit kemudian.

Naoki mengerjap, membiasakan matanya pada suasana temaram kamar sebelum menoleh ke samping. Sosok di sebelahnya masih pulas tertidur. Kaname memang tak pernah terbangun oleh alarm dan Naoki selalu membiarkannya. Toh, jika memang harus bangun lebih dulu, Kaname akan melakukannya. Naoki selalu takjub dengan kemampuan Kaname itu. Sepertinya pria itu memiliki alarm sendiri di dalam kepalanya.

Sambil menggeliat pelan dan berusaha tak menimbulkan suara, Naoki bangkit dari tempat tidur dan berjalan terhuyung ke kamar mandi. Cahaya dari lampu kamar mandi yang dinyalakan mendadak membuatnya sedikit berjengit namun ia cepat menyesuaikan diri. Hanya butuh sepuluh menit untuk mencuci muka, gosok gigi, bercukur dan menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Naoki sedikit tergoda untuk mandi namun cuaca cukup dingin dan mereka harus menghemat bahan bakar di musim seperti ini.

Angin dingin berhembus ketika Naoki membuka pintu. Ia bergidik sekilas lalu cepat-cepat menutup pintu agar hawa dingin tak masuk ke dalam kamar. Dirapatkannya risleting jaketnya hingga ke dagu dan berjalan cepat-cepat menuju bangunan utama. Bangunan tempat mereka tinggal terletak terpisah dari bangunan rumah utama dan dihubungkan dengan koridor beratap wisteria kesukaan Kaname. Bangunan utama memiliki dua lantai; berisi ruang tamu, ruang makan, dapur, ruang duduk, dan 6 kamar tidur dan sepenuhnya difungsikan sebagai penginapan.

Naoki berbelok ke tempat penyimpanan kayu bakar di sebelah pintu belakang. Diambilnya beberapa bilah dan bergumam kalau ia harus mengingatkan Kaname untuk mencari kayu bakar lagi karena persediaan mereka sudah agak menipis. Ia masuk -pintu belakang tak pernah dikunci kalau-kalau ada kebutuhan darurat - dan menyalakan lampu dapur. Naoki menyalakan perapian bundar yang terletak di antara ruang tamu dan ruang makan. Ditusuk-tusuknya bara api agar berada di tengah lalu berlalu kembali ke dapur. Dilepasnya jaket untuk digantungkan di dekat lemari es dan bersiap memulai hari ini.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menyalakan mesin kopi. Saat seperti ini dia hanya akan membuat cukup untuk dirinya dan Kaname. Untuk tamu-tamu akan dibuatnya belakangan. Diambilnya sebuah notes dari laci meja dapur beserta bolpen lalu mulai memeriksa lemari es dan lemari persediaan. Dicatatnya apa saja yang perlu dibeli lagi dan membuang yang sudah terlalu lama disimpan. Beberapa yang sudah dekat tanggal kadaluarsa buru-buru dikeluarkan agar bisa segera diolah atau dimakan. 

Setelah membuang sampah, Naoki menyempatkan diri untuk menyesap kopinya sambil memutari ruang tamu dan ruang makan. Tangannya meraba permukaan taplak, tirai dan kain penutup piano. Semuanya masih bersih dan belum perlu diganti. Keningnya berkerut saat mendapati setitik noda di lengan sofa. Ibu jarinya menggosok noda itu dengan pelan dan ketika tidak hilang, Naoki mendesah. Disesapnya kopinya lagi sebelum mengambil sebotol pembersih khusus dan mulai menggosok noda itu hingga hilang. 

Tersenyum puas, Naoki pun kembali memeriksa ruang-ruang yang lain. Diaturnya majalah, koran dan novel kembali ke rak buku di bawah televisi. Remote control diatur rapi di dekat televisi. Board game dikembalikan ke dekat deretan majalah. Bantal-bantal besar dan kecil yang empuk diatur sedemikian rupa supaya terlihat mengundang untuk disandari; di atas sofa, di atas karpet di dekat perapian dan di dekat anak tangga. 

Hal berikutnya adalah mengambil keranjang cucian dari bawah tangga. Tamu yang menginap boleh menitipkan pakaian untuk dicuci dan diseterika; tanpa biaya selama jumlahnya tak lebih dari 3 potong tiap harinya. Dibawanya semua cucian yang ada ke ruang cuci di dekat kamar mandi bawah. Setelah itu ia mengeluarkan penyedot debu dan mulai membersihkan lantai bawah. 

Pukul enam pagi, saat Naoki sedang mulai menyiapkan sarapan, pintu belakang dibuka, memperlihatkan sosok tinggi Kaname yang sudah kelihatan sedikit segar meski masih ada sejumput rambut yang mencuat di bagian belakang kepalanya. Naoki tersenyum.

"Ohayo," sapanya beralih mengambil mug dan menuangkan kopi untuk Kaname.

Kaname mendekatinya, menerima kopi yang diulurkan Naoki. Pria itu mencondongkan kepalanya sedikit untuk mengecup pelipis Naoki sambil menggumamkan balasan sapaan paginya. Jemari Naoki sudah sibuk merapikan rambut Kaname dengan sayang.

"Dingin ya," komentarnya sambil lalu.

Kaname hanya mengangguk sambil menyesap kopinya. "Tukang korannya sudah datang?"

Naoki melirik jam dinding. "Seharusnya sudah ya. Tadi sepertinya dengar suara bel sepedanya,"

"Hmm," Kaname menggumam lagi kemudian berlalu keluar rumah masih dengan menggenggam gelas kopinya.

Naoki hanya tersenyum dan kembali pada kesibukannya. Hanya ada 3 orang tamu yang sedang menginap dan hari ini akan datang dua lagi sebelum makan siang jadi Naoki tak perlu membuat terlalu banyak untuk sarapan kali ini. Naoki memperhatikan catatannya dan memastikan kalau tak ada tamunya yang alergi akan bahan makanan tertentu. 

Memasak bukanlah sekedar hobi bagi Naoki. Dia sempat punya mimpi ingin menjadi koki terkenal namun karena suatu dan lain hal, mimpinya ini sempat terkubur. Ketika membicarakan rencana membuka penginapan ini dengan Kaname, Naoki mengajukan dirinya sebagai koki. Hasilnya, penginapan mereka tak hanya mengambil konsep bed & breakfast, tiap tamu yang menginap juga akan ditanya apakah mau bergabung untuk makan siang dan makan malam juga. Naoki juga selalu menyiapkan berbagai macam minuman segar dan pengananan kecil di dalam lemari es. Siapapun boleh mengambil dan menikmatinya kapanpun mereka mau.

Kaname kembali lima menit kemudian, mengepit beberapa jilid koran di bawah lengan, satu tangan membawa gelas kopi dan tangan yang lain menjinjing satu krat berisi 6 botol susu murni. Sementara Kaname mengatur koran dan menyimpan botol-botol susu itu di dalam kulkas, Naoki mulai memasak sarapan. Tangannya cekatan mencampur telur dengan krim, menabur sedikit garam dan merica, memanggang roti dan menyalakan mesin kopi lagi untuk para tamunya. 

Ia tertawa renyah saat Kaname menuding sebungkus bacon yang seolah lupa diolah Naoki. "Aku ingin sandwich," ucap pria itu dengan nada sedikit menuntut. 

"Hai, hai," Naoki mengangguk, ingat bahwa Kaname tak suka telur. "Ngomong-ngomong, kayu bakarnya sudah hampir habis, loh."

Kaname yang sudah duduk di meja pantry hanya bergumam seraya menyesap kopinya. Matanya sudah terpaku pada lembaran koran pagi yang terhampar di depannya. Naoki menghela napas. Toh, dia hanya memberi tahu. Tak ada gunanya mengharap Kaname akan mulai bekerja sebelum dia mendapat sarapan dan menghabiskan kopinya. 

Naoki menumpuk selembar roti, bacon yang sudah digoreng garing dan renyah, selembar keju, selembar daun selada, dua potong tomat, dan beberapa oles mayonaise kemudian menutupnya dengan selembar roti lagi. Dipanggangnya tumpukan itu beberapa saat kemudian dipotong menjadi dua bagian. Dengan senyum ramah, diangsurkannya sandwich itu pada Kaname.

"Itadakimasu," gumam Kaname seraya melipat korannya dan mulai makan dengan lahap. Tak lama, pria itu meletakkan piring dan cangkirnya ke dalam bak cuci dan ia mendekati Naoki. Direngkuhnya pinggang pria yang sedang sibuk membuat omelet itu dan mengecup pipinya dengan lembut, "Gochisousama," bisiknya.

Naoki berjengit setengah kaget, setengah geli. Ia berputar sejenak untuk membersihkan sudut bibir Kaname dari remah roti dan sisa mayonaise dengan ibu jarinya kemudian berjinjit untuk mengecup bibir pria itu. "Semoga harimu menyenangkan, Kaname-san," bisiknya.

Kaname balas mengecup dan menjentik pelan hidung Naoki, "Kau juga, Naoki-kun," balasnya sebelum berlalu keluar untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

Naoki melanjutkan pekerjaannya dan tersenyum ramah pada dua orang tamu yang baru saja menuruni tangga, "Ohayo, hari ini dingin ya,"

*****