Loteng Biro Pers Gema Sastra terasa lebih sunyi malam ini. Cahaya lampu meja yang kekuningan menciptakan bayangan panjang di dinding yang dipenuhi rak buku. Di tengah keheningan itu, ia menunggu. Mesin ketik "Brother" berwarna abu-abu metalik itu tampak seperti altar suci di mataku.
Maya sudah pulang satu jam yang lalu, tapi aroma cengkihnya masih tertinggal tipis di udara, seolah menjagaku agar tetap waras.
Aku menyentuh badan besi mesin ketik itu. Dingin. Namun, saat jemariku mendarat di atas tutsnya, ada sensasi hangat yang merambat, seperti aliran listrik statis yang lembut. Benda ini seolah memiliki nyawa. Ia tidak pernah menghakimiku saat aku ragu. Ia tidak pernah menertawakanku saat aku gagap.
Tik.
Satu huruf tercetak di kertas. Aku mulai menuliskan draf pertama untuk novel yang kujanjikan pada Maya.
"Di dunia yang hanya mengenal hitam dan putih, suara adalah satu-satunya warna. Namun, apa yang terjadi jika warna itu dicuri oleh ketakutan?"
Aku berhenti sejenak. Kalimat itu bukan hanya tentang karakter di bukuku. Itu tentang aku. Arlan yang asli. Arlan yang mungkin saat ini sedang terbaring kaku di sebuah ruangan putih yang jauh dari sini.
Tiba-tiba, mesin ketik itu bergetar. Bukan karena mejanya bergoyang, tapi seolah mesin itu sedang bernapas.
Tik-tik-tik-tik-tik!
Tuts-tutsnya bergerak sendiri dengan kecepatan luar biasa. Aku tersentak, menarik tanganku menjauh. Di atas kertas samir yang tadi baru terisi satu kalimat, kini muncul barisan kata yang tidak kuketik.
[BANGUN... ARLAN... JANGAN LUPA CARA BICARA...]
Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi dahi. Aku mencoba meraih tuas untuk menarik kertas itu, namun mesin itu kembali normal. Barisan kata aneh itu menghilang, berganti dengan kalimat asliku tadi, seolah-olah apa yang baru saja kulihat hanyalah halusinasi akibat kelelahan.
"Hanya ilusi," bisikku pada diri sendiri. "Kau hanya kurang tidur, Arlan."
Aku kembali duduk, mencoba menenangkan diri. Untuk membuktikannya, aku mengetikkan sebuah paragraf tentang pasar malam di tahun 1982. Aku mendeskripsikan kembang gula, lampu-lampu bohlam yang berkelap-kelip, dan suara musik dangdut dari corong pengeras suara yang sember.
Keajaiban itu terjadi lagi. Saat aku menuliskan tentang aroma kembang gula, hidungku benar-benar menangkap bau manis karamel yang terbakar di dalam loteng ini. Saat aku menulis tentang angin malam yang dingin, aku merasakan bulu kudukku meremang karena embusan angin yang masuk melalui celah jendela kayu.
Mesin ketik ini... ia bukan sekadar alat. Ia adalah alat pengonversi imajinasi menjadi realitas di dunia ini. Selama aku terus mengetik, dunia ini akan tetap hidup. Selama aku bercerita, Maya akan tetap ada.
"Arlan? Kau belum pulang?"
Aku menoleh cepat. Maya berdiri di ambang pintu loteng. Ia membawa sebuah bungkusan kertas berisi martabak manis yang masih hangat.
"Aku tertinggal kunciku," ucapnya sambil berjalan mendekat. Ia menatap tumpukan kertas di samping mesin ketikku. "Kau bekerja terlalu keras. Lihat, matamu sampai merah begitu."
"Aku hanya... ingin menyelesaikan bab ini, Maya," jawabku pelan. "Aku merasa jika aku berhenti, semuanya akan menghilang."
Maya meletakkan martabak itu di meja, lalu berdiri di belakangku. Ia memijat bahuku yang tegang dengan lembut. "Dunia ini tidak akan ke mana-mana, Penulis hebat. Kau sudah membangunnya dengan sangat baik melalui tinta ini. Istirahatlah. Masa depan yang kau tulis itu... ia butuh penciptanya tetap sehat."
Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Maya. Di dalam kepalaku, suara mesin medis yang tadi siang menghantuiku mulai memudar, kalah oleh suara detak jantung Maya yang tenang di dekat telingaku.
Aku tidak tahu mesin ketik ini magis atau tidak. Yang kutahu, setiap kali aku menekan tutsnya, rasa sakit di dunia nyata itu menjauh. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.
"Maya," panggilku tanpa membuka mata.
"Ya?"
"Terima kasih karena sudah percaya pada ceritaku."
"Terima kasih karena sudah memilih untuk menceritakannya padaku, Arlan."
Malam itu, di bawah lindungan loteng kayu, aku menyadari satu hal: Aku akan menulis sebanyak mungkin. Aku akan memenuhi ribuan kertas dengan tinta hitam ini. Karena setiap titik yang kusetel pada kertas, adalah satu detik tambahan bagiku untuk tetap berada di sampingnya.
