Cherreads

Chapter 1 - Panggilan dari seorang gadis

Awal Pertemuan

Kota Kanazawa, Jepang

Kota kecil itu diguyur hujan sore.

Arka berdiri di halte, memandangi genangan air di ujung sepatunya.

Namun, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis.

“Datanglah.”

Arka menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa yang memperhatikannya.

“Aku mulai gila, ya…”

Saat Arka memasuki taman dekat sekolah, ia bertemu dengan seorang gadis berambut panjang yang mengenakan seragam sekolah.

Arka pun berhenti beberapa langkah darinya.

“Pagi,” ucap Arka menyapa gadis tersebut.

Gadis itu menoleh. “Pagi juga, Arka,” sapanya balik.

Arka sedikit terkejut dan menegang. “Kamu tahu namaku? Kita kenal?”

Gadis itu menatap Arka dan tersenyum tipis. “Belum.”

“Terus, kok kamu tahu namaku?” ucap Arka dengan bingung.

Gadis itu tersenyum tipis. “Kamu sudah dengar suaraku, kan?”

Jantung Arka berdetak lebih cepat.

“Aku tidak tahu kamu, tapi… kamu murid pindahan, ya? Aku baru melihatmu di sini,” katanya sambil menatap gadis tersebut.

“Hmmm… mungkin saja?” ucap gadis itu kepada Arka.

Arka mengembuskan napas pendek. “Oke… ini aneh. Kamu siapa?”

Gadis itu membalas, “Sena.”

Hujan tinggal gerimis tipis. Namun, tak satu pun tetes menyentuh gadis itu.

Arka menyadarinya.

“Kamu… nggak basah,” ucap Arka sambil menatapnya.

Sena berdiri, mendekati kolam kecil.

“Aku bukan datang karena hujan,” katanya pelan. “Hujan datang karena kamu.”

Arka terdiam.

Sena menyentuh permukaan air.

Riakan kecil muncul.

Lalu cahaya kebiruan menyala dari dalam kolam.

“Itu apa!?” suara Arka mengecil, sedikit terkejut.

Sena menatap Arka sambil tersenyum. “Gerbang.”

Arka kebingungan. “Gerbang apa?!... Dan juga, ke mana!?"

Sena terdiam, menatap ke arah cahaya itu. “Ke tempat yang selama ini memanggilmu.”

Arka menelan ludah. “Kenapa aku?”

Sena kembali menatap Arka, menatapnya lama.

“Karena kamu tidak pernah benar-benar merasa dunia ini cukup.”

Bel sekolah berbunyi nyaring. Cahaya di kolam menghilang.

Arka berkedip. Ketika ia melihat lagi ke depan, Sena sudah berdiri beberapa langkah menjauh.

“Kita akan bertemu lagi,” katanya. “Kalau kamu berani.”

“Sena, tunggu-"

Beberapa siswa mulai berdatangan. Dalam hitungan detik, gadis itu menghilang di antara mereka.

Arka berdiri terpaku. Ia menunduk. Sebuah gelang biru kini melingkar di pergelangan tangannya. Ia yakin tadi tidak ada.

Di dalam kelas, semuanya terlihat normal.

Arka bengong sambil menatap bukunya yang bertuliskan “Gerbang.”

Arka menatap ke jendela dan sedikit bergumam, “Apakah itu semua hanyalah halusinasi karena hari ini aku banyak pikiran? Tapi gelang ini…” Arka menatap gelang biru itu

Saat Arka sedang fokus menatap gelang itu, temannya mengejutkannya. “Baa!”

Arka pun terkejut hingga pensil yang ia pegang hampir terjatuh. “Ah! Apa-apaan sih kamu ini?!... Suka sekali mengejutkanku!”

Teman Arka, Danian Warley, menatapnya sambil tersenyum.

"Hahaha! Lagian kamu ini mudah dikejutkan! Ngomong-ngomong, kamu hari ini tidak banyak berbicara. Ada apa?”

Arka menatap temannya sebelum menatap kembali gelang birunya.

“Hari ini… sulit dijelaskan. Dan kamu juga tidak mungkin akan percaya.”

Danian sedikit terkejut. Senyumnya perlahan memudar.

“Oh… tapi kalau ada sesuatu, tinggal beri tahu aku, ya!”

Setelah beberapa jam, bel pulang sekolah berbunyi, dan Arka pun segera pulang ke rumah.

Namun, saat Arka mengambil handphone-nya setelah sampai di rumah, ia mendapati sesuatu. Kontaknya bertambah satu, dan tertulis nama “Sena”.

Arka pun bingung melihatnya. Ia mencoba menelepon nomor tersebut, namun tidak dapat dihubungi.

“Apa-apaan sih… ada di kontakku, tapi tidak dapat dihubungi. Aneh sekali.”

Setelah itu, ponselnya berbunyi. Saat ia membukanya, terdapat notifikasi lima pesan masuk dari kontak “Sena”, dan Arka pun membukanya.

Saat Arka membuka nya, mata Arka membelalak, pesan telah dihapus oleh sang pengirim, lalu Arka pun mencoba untuk menelpon kembali kontak tersebut. Namun lagi lagi panggilan tersebut tidak terhubung.

Arka menatap layar ponselnya lama.

Hanya bertuliskan tidak dapat terhubung

“Ini bercanda, ya…?"

Ia mencoba sekali lagi

Gagal.

Nomor itu masih ada di kontaknya. Nama “Sena” terpampang jelas. Tapi setiap kali ditelepon, hasilnya sama.

Arka menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Gelang biru tersebut masih di tangannya.

“Kalau kamu memang nyata… jangan main begini,” katanya pelan ke udara

Malam itu hujan turun lagi

Arka terbangun karena suara rintiknya yang cukup deras. Dadanya terasa sesak tanpa alasan jelas. Ia duduk di tepi kasur, menatap jendela yang berembun.

Lalu, samar-samar,

“Arka.”

Ia membeku.

Suara itu lebih jelas daripada sebelumnya. Bukan seperti gema jauh. Bukan seperti bisikan samar, dekat. Sangat dekat.

“Apa maumu?” bisiknya.

Hening, hanya suara hujan, Namun gelang di tangannya kembali terasa hangat, sedikit berdenyut seperti detak jantung kecil.

Arka menelannya ludahnya. “Kalau ini mimpi… bangunkan aku sekarang.”

Lampu kamar tiba-tiba berkedip sekali.

Arka langsung berdiri.

“Oke. Ini tidak lucu.”

Ia membuka pintu kamar dan memastikan rumah dalam keadaan normal.

Kecuali satu hal.

Di layar ponselnya, muncul notifikasi baru.

1 Pesan dari kontaknya. Sena.

Tangan Arka sedikit gemetar saat membukanya, isi pesannya hanya satu kalimat.

"Besok. Datang lebih pagi"

Arka langsung menekan panggil, namun nomor itu kembali tidak dapat dihubungi.

“Kenapa selalu begini sih…” desahnya.

Namun kali ini, ia merasa ditantang.

Keesokan paginya, langit masih gelap kebiruan ketika Arka sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Jam menunjukkan pukul enam kurang sepuluh.

Ia menatap taman dekat kolam kecil, dan kosong tidak ada siapapun kecuali dirinya.

“Kalau kamu cuma mempermainkanku, aku bakal pulang,” Ucap Arka setengah kesal.

Angin pagi berhembus lembut.

Beberapa detik berlalu.

Lalu-

“Aku tidak pernah mempermainkanmu.”

Arka menoleh cepat, Sena berdiri di bawah pohon maple dekat taman, seragamnya tetap rapi.

“Kamu…” Arka berjalan mendekat

Arka pun menatap Sena dengan sedikit kesal, “Nomormu tidak bisa dihubungi, Pesanmu terhapus sendiri.”

“Aku tahu.” Ucap Sena.

Arka mengerutkan kening. “Kamu sengaja?”

Sena tersenyum tipis. “Tidak semua hal bisa dijelaskan lewat ponsel.”

Arka menghela napas panjang. “Kalau begitu jelaskan langsung. Apa sebenarnya yang kamu mau dariku?”

Sena menatap gelang di pergelangan tangannya.

“Itu sudah memilihmu.”

“Gelang ini?” Arka mengangkat tangannya.

“Ini bahkan muncul tanpa izin.”

“Itu bukan benda biasa, namun, itu adalah kunci." Ucap Sena pelan.

“Kunci untuk apa?” Arka menatap Sena dengan bingung.

Sena melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

“Untuk membuka gerbang sepenuhnya.”

Arka menatapnya dalam-dalam.

"Dan kalau aku tidak mau?”

Sena terdiam sejenak.

“Hujan akan tetap turun,” katanya lembut. “Dan suara itu akan terus memanggilmu.”

“Aku cuma anak SMA biasa, Aku bukan tokoh utama cerita fantasi"

Sena menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.

“Justru itu yang membuatmu terpilih"

Arka melihat ke Sena dengan kebingungan, ia pun terdiam beberapa saat, lalu, tiba tiba, cahaya biru dari kolam kecil di taman itu terlihat

Mata Arka pun sedikit membelalak, dan terkejut

"Loh... LOH?!.. Gerbang itu lagi?!, ku kira itu semua hanya halusinasi ku!!, tapi... Itu gerbang apa?"

Sena pun hanya tersenyum, tertawa tipis

"Itu adalah gerbang dimana aku berada."

Arka menatap nya lama, terdiam beberapa saat.

More Chapters