Cherreads

Reinkarnasi Sang Budak yang Mengguncang Dunia

Mochammad_Isnaini
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
51
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 000 - Asal Usul

Tahun 1857

Aku Afron de Stefano kelaraparan dan sulit mendapatkan makanan. Mereka para pemimpin patut aku salahkan, aku yang terbuang dari yang terbuang. Keluargaku membuangku karena aku tak punya apa-apa diusia 10 tahun ini.

"Ah... Aku lapar..." Keluhku dalam hati.

Perutku sudah bergemuruh sendari tadi. Sulit sekali untuk menemukan tempat makan, kemiskinan sangat merajalela tak terkendali. Wilayah Timur sangat miskin karena mereka elit politik yang sibuk memperkaya diri mereka sendiri, mereka melupakan bahwa banyak anak-anak yang tak bisa makan dengan baik dan banyak yang mati kelaparan.

Tiba-tiba suasana yang begitu hening berubah menjadi sebuah kesedihan. Aku menangis dalam diam, tak seorang mendengarnya tapi hanya diriku yang bisa merasakannya. Rasa lapar ini membuatku hilang kendali, pandanganku mulai kabur dan semua harapan hidup telah sirna. Tapi, harapan itu tiba. Sekelompok orang membawa banyak makanan instan. Berisi Mie, Beras dan Makanan Kaleng.

"Perhatian para warga sekalian! Disini calon Perdana Menteri kalian datang untuk menyelamatkan. Ingat namanya!! Valerius Asterion. Dia, ingin memberi kalian harapan kehidupan. Tentu saja dia tahu kalau kalian muak dengan apa yang terjadi sekarang ini. Tuan Valerius memiliki kisah yang sama seperti kalian. Terbuang dan tidak dipedulikan. Namun! Kini kalian yang terbuang dan tidak dipedulikan kini kembali dipedulikan oleh tuan Valerius. Aku ingin kalian membantunya dalam pemilihan Perdana Menteri nanti sebagai perwakilan dari kita yang terbuang dan diabaikan" Utusan itu berpidato dengan keras dan lantang.

Pidato yang terdengar sangat lantang itu nampak memberi harapan baru pada orang-orang yang tak pernah berfikir bahwa perhatian akan didapatkan. Tapi kini harapan itu akankah muncul bagi kami yang diabaikan.

" Aku Valerius...! Berjanji mengedepankan yang tertinggal supaya bisa mendapatkan hak hidup yang layak! Tak seperti ini, terbuang dan kelaparan. Aku tahu rasanya tak dipedulikan, aku tahu rasanya tak dihiraukan, aku tahu rasanya kelaparan, aku tahu rasanya hidup enggan, mati tak mau. Tapi, Aku Valerius berjanji didepan kalian. Memberikan kalian kehidupan yang layak dan bersama-sama memberantas tirani yang begitu kejam pada kalian sebelumnya. Aku bangkit sebagai penulis berita dan kini berdiri menjadi calon penguasa. Jika aku Valerius tak memenuhi janjiku, maka kalian bebas untuk mengkudetaku! Ingat itu baik-baik semuanya. Aku bersama kalian dan kalian bersamaku!!" Pidato yang menggelegar dan memberikan semangat baru akan kehidupan yang layu.

Ini pertama kalinya dalam sejarah aku merasa sebagai manusia. Aku ingin seperti dia, perkasa dan bijaksana. Aku ingin segera dewasa dan bekerja, aku ingin membangun karir seperti dirinya.

Setelah pidato itu usai, orang-orang Valerius membagikan makanan dan kamu disuruh antri dengan tertib. Tentunya sulit menyuruh orang yang kelaparan untuk tertib, karena perut mereka lebih penting dari apapun. Keributan terjadi saat pembagian, orang-orang Valerius mulai kewalahan tapi saat semua tak terkendali Valerius mulai berpidato kembali.

"Kalian disini ada 200 orang bukan? Kami sudah menyiapkan pas untuk kalian 200 orang disini dan makanan ini bisa bertahan hingga 1 Minggu kedepan. Aku mohon kalian tertib karena semuanya pasti akan terbagi dengan rata" Teriaknya

Pidato itu membuat semua orang menjadi tertib. Entah kenapa, tapi semua orang percaya padanya, aku tak tahu caranya tapi aku juga percaya dengan perkataannya barusan. Aku ikut antri dengan tenang, keributan yang tadi ada kini telah hilang seketika.

"Dia orang yang hebat bukan?" Tanya seseorang yang sedang antri

"Dia sangat hebat! Aku bisa merasakannya. Dia adalah cahaya bagi kita" Yakin seseorang

"Hidup Valerius!!" Teriak seseorang dalam antrian.

Semuanya mengikuti... Dan akupun sama

"Hidup Valerius!!" Teriak semua orang.

Semua makanan sudah terbagi rata. Ada banyak makanan dalam kantong ini.

7 Mie Instan

10 Makanan Kaleng

14 Minuman Botol

Semuanya cukup untuk beberapa hari kedepan.

"Semuanya sudah terbagi bukan? Kalian percayalah padaku. Maka hari ini akan terjadi lagi, dimana semua terbagi rata tanpa ada yang tak terbagi dan merasakan kembali kelaparan yang kalian benci. Aku ingin bertanya, apa yang kalian butuhkan?" Valerius berpidato kembali.

Aku berfikir ulang tentang apa yang kubutuhkan tapi ditengah ku berfikir banyak orang mengeluarkan isi hati mereka.

"Aku ingin lapangan pekerjaan!" Teriak seseorang

"Aku hanya ingin makanan!" Teriak seseorang

"Aku ingin uang!" Teriak seseorang lagi

"Aku ingin rumah!" Teriak seseorang lagi dan lagi.

Suasana yang bahagia dan hening setelah pidatonya berubah menjadi suasana yang berapi-api. Semuanya memberikan keluh kesah mereka pada Valerius dan Valerius terlihat mendengarkan keluhan itu dengan serius.

"Baiklah, aku tahu permasalahan kalian. Kemiskinan yang kini dialami karena para elit tidak becus memberikan lapangan pekerjaan yang cukup untuk kalian dan kelaparan yang kalian rasakan saat ini karena mereka tidak becus juga memperbaiki jalan untuk pengiriman makanan yang cepat dan terjangkau. Itu membuat makanan disini sangat mahal, sekali lagi... Aku Valerius berjanji akan memberikan kehidupan yang layak bagi kalian!"

Semua bersorak-sorai gembira dengan pidato tadi. Suasana yang suram sebelumnya berubah menjadi suasana yang ceria dan cerah. Kabut putus asa yang tadi meliputi berubah menjadi harapan baru dan cahaya terang akan kehidupan.

...

Semua telah usai. Semua yang telah dapat jatah makanan telah pergi, hanya aku tersisa sendiri yang tetap memandangi wajah Valerius yang sangat bersinar dan berapi-api itu. Ia sadar bahwa aku satu-satunya yang masih belum pergi.

"Hei nak... Kenapa kau belum bubar. Semuanya telah pergi dengan harapan baru. Apakah semuanya belum cukup?" Tanya Valerius padaku.

Aku kaget dan bingung harus menjawab apa. Tapi aku harus berani untuk bertanya dan berbicara pada sosok yang kini aku kagumi.

"Aku ingin bertanya padamu Tuan..." Ungkapku dengan sedikit gugup

"Apa itu?" Tanyanya dengan senyum diwajahnya

"Apakah aku bisa sepertimu? Menjadi Penulis Berita?" Tanyaku yang langsung kutanyakan tanpa pikir panjang.

"Apakah kau bisa menulis? Kalau bisa ikutlah denganku. Akan aku kenalkan kamu pada kenalanku nanti." Tanyanya dengan senyum yang terus ia pertahankan

" Bisa... se..belum.. a..ku dibuang oleh keluarga. Ke..luarga..ku mengajarkanku membaca dan menghitung sederhana." Jawabku dengan gugup

"Baiklah ikut denganku nanti kukenalkan pada kenalanku. Ia pemilik koran The People Quill. Nanti kau akan diajarkan olehnya" Jawabnya dengan senyum yang sama hangatnya

Aku heran dan bingung oleh ajakannya. Aku tahu ia adalah sosok yang sulit digapai, tapi entah kenapa persepsiku berubah.

"Baiklah..." Aku menurutinya

Aku tak tahu akan dibawa kemana olehnya. Mukanya terlihat meyakinkan dan aku tak tahu apakah kepercayaan yang kuberikan tak akan berbuah jadi pengkhianatan.

...

Tiba pada suatu tempat yang asing dan juga sempit. Aku mulai ragu dengan yang kupercaya barusan. Ternyata itu hanyalah sebuah modus yang diberikan. Harapan yang telah kuberikan nampaknya hanyalah sebuah kedok. Dia ternyata brengsek sama seperti yang lainnya.

"Tu..aaan.. ini dimana?" Aku bertanya takut

"Tolong untuk buat dia pingsan" Perintahnya

Orang yang Valerius bawa memukul leher belakangku. Setelah pukulan itu mataku seperti kabur, sebisa mungkin aku mempertahankan kesadaranku tapi semuanya sangat sulit. Mataku memaksa untuk tertutup dan nafasku mulai terengah-engah.

"Baiklah... Untuk menutupi makanan yang kita bagikan tadi, bagaimana kalau kita jual saja dia ke tukang budak" Ide seseorang bawahan Valerius

"Ide yang bagus! Tapi, siapa yang akan menampung orang buangan bau ini?" Tanya Valerius

"Tuan... Seingatku dia bisa membaca dan berhitung sederhana. Tentunya dia akan berguna bagi banyak pedagang budak ilegal diluar sana. Karena sedikit budak yang bisa membaca dan berhitung" Ingat seseorang bawahan Valerius

"Hahaha, kau benar juga... Dia pasti akan laku mahal" Sadar Valerius

Disaat semuanya terasa gelap, mereka membawaku ke sebuah pedagang budak ilegal disebuah tempat terpencil dan sulit dijamah atau diketahui oleh pihak keamanan. Tempat kumuh yang begitu sesak dan begitu gelap, mereka percaya bahwa aku akan terjual mahal dan menjadi sumber uang mereka.

"Hari ini kau bawa siapa lagi?" Tanya pedagang budak kepada Valerius

"Aku bawa anak buangan lagi... Tapi, dia bisa membaca dan menghitung" Jawab dan Ungkap Valerius

"Kau kemarin mengatakan hal yang sama. Tapi yang kau bawa selalu saja gagal" Sindir sang pedagang budak ilegal

"Aku yakin ini akan berhasil. Kemarin kau membeli dariku 100 Lumen. Sekarang aku kasih potongan untuk ini. Aku cuman butuh 70 Lumen" Ia menawarkanku dengan potongan harga

"Itu masih terlalu mahal! Yang kemaren saja aku rugi 40 Lumen. Aku tak ingin bertaruh lagi" Ungkap pedagang budak ilegal

"Baiklah...! Kau mau berapa!?" Tanya Valerius

"Bagaimana kalau 5000. Budak yang kemaren kau bawa hanya laku 5000. Mungkin yang ini bisa laku 6000. Jadi keuntunganku hanya 1000 Lumen" Jelas pedagang budak ilegal

" Baiklah... 5000 lumen saja. Itu sudah cukup untuk kampanye besok lagi" Setuju Valerius

(Catatan : 1 Lumen (Emas) sama dengan Rp. 100.000)

(Catatan : 1 Lumen Perak sama dengan Rp. 10.000 dan 1 Lumen perunggu sama dengan Rp. 1000. Untuk harga beras 1 KG sama dengan 1 Lumen Perak dan Gaji pekerja kasar hanya 100 Lumen Perak perbulan)

Setelah negosiasi itu berakhir. Wajah Valerius berubah menjadi sangat senang karena mendapatkan dana kampanye segar dengan hanya menjual anak kecil sebagai budak untuk didagangkan di pasar gelap.

Rombongan Valerius mulai meninggalkan tempat perdagangan budak ilegal ini dan meninggalkanku sendirian disini.

...

" Arghhh... Aku terhasut lagi!! Harusnya aku lebih waspada ke si bajingan itu... Sudah berapa kali dia menipuku!" Marah pedagang budak

Nampaknya Valerius sudah sangat sering menipu pedagang budak ini. Wajah kesal yang ada diwajahnya menunjukan kalau dia sudah sangat kesal dengan perilaku Valerius yang sering menipunya.

"Semoga ini tidak zonk!" Harap pedagang budak

...

Aku tersadar setelah pingsan yang aku rasakan seperti sudah dua hari tidak sadarkan diri. Kepalaku sangat berat dan mataku sangat gelap. Aku takut dengan ruangan gelap dan terasa sempit ini, aku ingin keluar dari sini dan aku ingin hidup sebagai orang terbuang yang tak dijual.

"Tolong...!!!" Teriakku dengan penuh ketakutan

Mungkin masih ada harapan, tapi aku sadar kalau harapan yang aku percaya baru saja datang, ternyata hanya datang untuk memberi harapan palsu yang semu. Aku takut untuk berharap dan percaya kembali pada seseorang yang tak kukenal.

"Adakah seseorang diluar?" Tanyaku dengan penuh harap

"Aku mohon... Tolong aku..." Harapku dengan penuh ketakutan

Ini mungkin akan menjadi akhir bagiku karena semuanya sudah tidak ada harapan kembali. Aku takut untuk berharap kembali, aku hanya ingin mati...

Tiba-tiba cahaya mulai menyinari. Ruangan yang asalnya gelap kini mulai bercahaya oranye karena obor yang baru saja masuk sebagai penerangan.

"Kau tahu!! Kau harus buatku untung kali ini!" Teriak sang pedagang budak

Aku ketakutan dipojok ruangan

"Mungkin, aku harus mengetest kemampuan membaca mu" Ia sambil membawa buku bacaan sederhana

Aku takut dan sangat ketakutan. Aku ingin segera keluar atau mungkin aku ingin segera dijual dan keluar dari ruangan gelap ini.

"Aku hanya punya buku ini" Jelas pedagang budak sambil membawa buku

Ia berjalan menghampiriku dengan membawa buku ditangan kanannya dan obor ditangan kirinya.

"Coba ini huruf apa?" Tanyanya sambil menunjuk hurup B

Aku ketakutan untuk menjawab. Tapi bila aku tak menjawab aku takut aku dijual tapi aku tidak bernyawa kembali.

"I...tu B" Jawabku ketakutan

Aku sulit menyembunyikan rasa takut ini. Jujur aku sudah pasrah saat ini akan kehidupanku sendiri.

"Wah!! Boleh juga nih!!" Ungkapnya dengan wajah yang bersinar

"Lalu ini ada!!?" Lanjutnya sambil menunjuk huruf G

Aku harus menjawab itu lagi...

" I..tu hu..ru..f G" Jawabku dengan gugup dan takut

Wajahnya berubah menjadi lebih bersinar dan sangat senang dengan apa yang aku katakan.

Dia melepaskan tali yang mengekangku sendari tadi. Lalu ia memberikan buku yang tadi ia pegang kepadaku.

"Buka halaman 12 dan baca semua isinya!" Perintahnya

Aku sambil ketakutan dan gemetaran, membuka buku itu perlahan dan aku harus menuruti kata-katanya agar aku selamat.

Aku membaca buku halaman 12

"Ibu memberi susu...

Ayah mencari uang...

Aku bermain dilapangan...

Aku pulang bermain lalu makan...

Ayah pulang dengan senang...

Ayah dan ibu bahagia...

Kita makan bersama..." Isi buku halaman 12

Isi dalam buku tentu berkontradiksi denganku. Aku tak mengenal sosok ibuku dan aku membenci ayahku. Aku tak pernah merasa kenyang setiap waktu dan aku tak pernah merasa aman setiap waktu. Aku sedih dan menangis setelah membaca ini. Tapi...

"Ahahaha... Akhirnya aku bisa menutup kerugian akibat si bajingan itu..." Teriak pedagang budak dengan senang

Aku keheranan dengan apa yang dia lakukan. Tapi semua itu percuma karena pada akhirnya aku hanyalah sebuah barang yang kan dijual beli dengan harga yang murah.

"Siapa namamu!?" Tanya di pedagang budak

Aku masih takut untuk menjawab. Tapi aku harus menjawab untuk keselamatanku juga.

"Afron de Stefano" Jawabku.

Wajahnya langsung berubah menjadi penasaran.

"De Stefano? Kau dibuang kan? Bagaimana kalau aku ganti namamu saja menjadi Vittorio Dante de Lobis karena aku dari Lobis juga." Jelasnya

Aku belum paham dengan maksudnya. Tapi aku hanya bisa menuruti itu semua.

"Intinya aku ingin kau sebagai Vittorio dan menjadi budak mahal dengan atas nama keturunanku" jelasnya kembali

Aku masih belum paham dengan apa yang ia maksud. Tapi aku harus terpaksa memahami.

Aku pun mengangguk setuju dengan ide itu.

"Baiklah saatnya aku mencari orang yang pantas untukmu. Ruangan ini akan aku kunci kembali dan ini adalah makanmu untuk hari ini" Jelasnya sambil memberi satu piring roti keras dan kentang rebus.

Dia mengunci pintu kembali dan meninggalkanku sendirian. Tapi satu hal, dia tak mengambil obor itu kembali keluar. Ruangan yang asalnya gelap ini berubah menjadi terang dengan bantuan obor yang mungkin saja sengaja ia lupakan.

...

Sang pedagang budak itu pergi ke sebuah rumah bangsawan terkemuka yang sedang mencari budak yang bisa membaca.

"Halo... Apakah aku bisa bertemu dengan Marquis Alonso? Aku punya budak menarik untuknya" Bisik sang pedagang budak pada sebuah alat komunikasi depan pintu

Pintu itu langsung dibuka oleh para ajudan Marquis Alonso yang berbaju Jirah perang lengkap. Sepertinya itu adalah pasukan penjaga yang hebat dan terkenal beringas.

Para ajudan itu mengajak sang pedagang budak ke ruangan Marquis langsung karena ada rumor mengatakan kalau Marquis Alonso tidak bisa memiliki anak karena dia terlalu setia dengan istrinya yang mandul dan tidak akan pernah bisa memiliki anak.

"Mudah-mudahan ini akan berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Aku sudah bisa mencium bau uang yang banyak" Pikir pedagang budak dalam hati

Sang pedagang budak sudah sampai depan pintu Marquis dan si ajudan mulai mengutuk pintu.

"Tuanku yang terhormat. Ada tamu untukmu, dia Asobron sang pedagang budak terkenal itu" Jelas sang ajudan kepada alat bantu komunikasi.

Setelah sang ajudan mengatakan hal tersebut tidak ada tanda-tanda bahwa pintu akan segera dibuka. Tapi, tiba-tiba sebuah suara keluar.

"Suruh dia masuk!" Ajak sang Marquis

Para ajudan itu langsung membukakan pintu yang besar itu.

"Langsung saja kau menghadap Tuanku... Jika kau macam-macam maka kepalamu yang berharga itu akan hilang dalam sekejap" Jelas sang ajudan dengan penuh ancaman.

Wajah sang pedagang budak mulai panik dan gugup. Karena ancaman sang ajudan tadi.

"Apa keperluanmu disini! Dari kemarin kau mengatakan aku punya budak menarik untukmu semua itu hanya kebohongan" Ungkap sang Marquis

Hal itu membuat sang pedagang budak sangat takut. Tapi ia yakin dengan hasil kali ini karena ia sudah mendengar didepan mata kalau anak tadi membaca buku yang ia berikan.

"Aku janji Tuan... Kalau yang satu ini tak akan jadi kegagalan yang sama. Aku sudah mendengarnya dengan telingaku sendiri dengan buku yang kemarin tuan beri. Lalu, dia membacanya" Jelasku

"Siapa namanya!?" Tanya Marquis

"Vittorio Dante de Lobis. Aku memberi dia nama belakangku karena aku kagum dengan kemampuan membacanya. Tapi nama asalnya adalah de Stefano" jelas sang pedagang budak.

Wajah Marquis Alonso langsung kaget dan senang dengan nama belakang itu.

"Sudah lama aku tak mendengar nama belakang dari musuh politikku sendiri. Jika dia de Stefano yang asli aku akan membeli dia dengan harga 1 juta Lumen" Jelas sang Marquis

Wajah sang pedagang budak kini terlihat sumringah mendengar kabar barusan. Jika itu benar maka ia akan untung banyak. Bahkan sangat banyak.

"Ajak aku bertemu dengannya. Aku ingin melihat wajahnya dan test keahliannya secara langsung. Aku ingin ia menjadi seseorang yang berharga kedepannya" jelas sang Marquis

"Baik Tuan... Aku akan ajak anda pergi kesana ketika anda siap" Jawab sang pedagang budak

"Sekarang saja..."

"Wahid... Dwi... Kemarilah..." Panggil sang Marquis

Setelah panggilan itu dua ajudan yang tadi mengantar sang pedagang budak berlari panik karena namanya tiba-tiba dipanggil oleh sang Marquis.

"Ada apa tuanku? Memanggil hamba disini?" Tanyanya dengan panik

"Tak usah formal begitu Wahid... Temani aku ke tempat pedagang budak itu berapa. Ada sebuah harapan disana" Ajak Marquis

" Baik Tuanku... Hamba akan melindungi tuan dengan seluruh jiwa dan raga" Terima sang Ajudan dengan penuh semangat

Marquis Alonso sedang bersiap-siap membawa baju yang sederhana agar tidak terlalu mencolok dan membawa penutup muka agar tidak dilihat oleh orang-orang yang dia pimpin. Para pengawalnya pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak menggunakan Jirah perang yang merepotkan, pedang yang besar mereka simpan lalu diganti oleh pedang yang kecil yang bisa disembunyikan dibelakang tubuh mereka.

...

Mereka berjalan menyusuri jalanan sambil ditemani oleh dua ajudan, sang Marquis terlihat gembira dengan kabar itu dan sang pedagang budak juga sama. Mukanya terlihat sangat cerah ketika mendengar tentang penawaran yang luar biasa mahal diberikan oleh Marquis Alonso hanya untuk budak seharga 5000 Lumen. Jika Marquis Alonso benar-benar membayar dengan harga yang sudah disepakati maka ia sebagai pedagang budak bisa untung sangat besar hingal ribuan kali lipat.

...

Mereka sampai ke tempat penyekapan, dimana Alfonso itu dikurung disana seperti tahanan perang. Walau ruangan itu terang penuh dengan cahaya obor. Tapi tetap saja ruangan ini sesak apalagi bila seorang Marquis ikut kedalam juga.

"Tuanku... Kau tunggu diatas saja. Biar aku yang membawanya kepadamu. Ruangan ini terlalu kotor untukmu" Tawar sang pedagang budak karena merasa tidak enak

Tapi Marquis Alonso menolak

"Tidak... Aku ingin melihatnya secara langsung. Aku ingin menguji bakatnya secara langsung" Ungkap Marquis Alonso

Tentu hal itu membuat sang pedagang budak terheran karena ruangan sepengap dan sekotor ini ia mampu untuk tetap ia pijaki.

Pintu yang mengurung Alfonso kini telah dibuka dan Alfonso terlihat sedang khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya nanti. Marquis Alonso melihat wajahnya dan memancarkan aura yang sangat senang.

"Ini benar-benar ciri keluarga de Stefano. Rambut yang lurus hitam, dan mata yang berwarna biru." Ucap Marquis Alonso dalam hati

Wajahnya Marquis terlihat sangat senang dengan penuh harap. Tapi, Alfonso merasakan hal yang berbeda dimana ia ketakutan setengah mati karena seorang bangsawan ada didepan matanya.

"Aku tahu dia seorang bangsawan hanya dari baunya. Apakah aku akan menjadi budak pelampiasan nafsunya?" Khawatir Alfonso dalam hati

"Aku takut... Tuhan tolong aku..." Alfonso mulai berdoa dalam hati.

...

"Hai anak muda. Siapa namamu? Aku disini akan membelimu dan membuatmu sejahtera. Aku Marquis Alonso tertarik dengan bakatmu. Seorang yang terbuang g dengan pengetahuan yang tak bisa diremehkan" Ungkap Marquis Alonso didepan Alfonso

Alfonso membeku dengan perkataan barusan. Ia tak ingin kembali berharap karena ketika ia berharap ia selalu terjerat dalam kesialan yang tak berujung. Matanya tetap memandangi Marquis Alonso dengan rasa penuh curiga.

"Nama asalku Al...fon..so de Stefano. Tapi kini berubah menjadi Vittorio Dante de Lobis" Jawab Stefano dengan gugup.

Marquis Alonso terlihat sangat senang dengan apa yang Alfonso katakan barusan.

"Aku Marquis Alonso de Moliso sebagai seorang bangsawan terkemuka dan sebagai menteri perdagangan kerajaan Himmel ingin mengangkatmu menjadi anakku. Aku tahu siapa ayahmu dan aku tahu siapa kakekmu" Ungkap Marquis Alonso dengan wajah yang bahagia

Alfonso mulai keheranan kembali dengan apa yang Marquis Alonso katakan sebelumnya. Itu sepertinya bukan sebuah penipuan yang biasanya para bangsawan katakan. Itu seperti sebuah realita tapi Alfonso masih tak percaya dengan apa yang Marquis Alonso katakan barusan.

"Apa!? Tuan ingin mengangkatnya sebagai anak? Apa tuan bercanda??" Tanya para ajudan dengan keheranan

Alfonso merasa yang sama yaitu heran jadi Alfonso memperhatikan apa yang akan Marquis Alonso katakan.

"Tapi, aku ingin mengujimu. Marc bawa buku yang tadi kau pakai untuk menguji anak ini" Suruh Marquis Alonso kepada pedagang budak.

Alfonso kaget dan para ajudan sangat keheranan.

"Baik Tuanku..." Setuju pedagang budak

Sang pedagang budak itu membawa buku yang tadi ku baca.

Marquis Alonso terlihat sangat tak sabar ingin segera menguji Alfonso, hal itu terlihat dari ekpresinya yang terlihat sangat penasaran dalam tanda bahagia.

Sang pedagang budak dagang membawa buku yang tadi kubaca

"Ini tuanku. Buku yang kugunakan untuk menguji dia" sang pedagang budak memberikan buku itu

Marquis Alonso menerima buku itu dengan senang hati dan memberikan buku itu padaku

"Tolong untuk kau baca buku ini anak muda. Buka halaman 12 dan 13" Perintah sang Marquis Alonso kepada Alfonso

Marquis Alonso memberikan buku itu pada Alfonso dan Alfonso mulai membacanya.

"Ibu memberi susu...

Ayah mencari uang...

Aku bermain dilapangan...

Aku pulang bermain lalu makan...

Ayah pulang dengan senang...

Ayah dan ibu bahagia...

Kita makan bersama..." Isi buku halaman 12

"Aku bertemu mereka...

Dalam sendu dan neraka...

Ternyata dunia tak indah...

Ternyata dunia tak seperti surga...

Apakah tuhan itu ada?

Apakah surga itu ada?

Aku disini hamba yang tak bahagia

Menuntut janji tuhan yang tak kunjung nyata" Isi buku halaman 13

Isi buku halaman 13 nampaknya hanya berisi sebuah puisi yang terdengar seperti sebuah keputusasaan.

...

Wajah Marquis Alonso sangat berbinar ketika Alfonso selesai membacakan buku yang tadi diberikan. Entah kenapa Alfonso bisa merasakan bahwa Marquis Alonso tidak akan berlaku buruk pada Alfonso untuk saat ini.

" Baiklah Marc... Seperti janjiku tadi, 1 Juta Lumen Emas untukmu karena berhasil menemukan orang yang bagus untukku. Lalu aku akan berikan kau bonus untuk membuka toko budak diwilayah kekuasanku" Tegas Marquis Alonso dengan tawaran yang menarik

"Baik Tuan... Aku merasa sangat terhormat untuk perjanjian bisnis ini" Kagum sang pedagang budak

Semuanya terlihat sangat aneh dan dadakan. Alfonso keheranan dan tak bisa berkata-kata apapun. Hal buruk yang baru saja menimpanya kini berubah menjadi keberuntungan dalam hanya waktu beberapa jam saja.

"Aku akan memanggilmu Vittorio de Moliso dan resmi mengangkatmu sebagai anak tiri dariku. Aku ingin kau menjadi seperti nenek moyangmu" Jelas dan pinta Marquis Alonso pada Alfonso

Alfonso merasa bahwa nama baru itu terlihat bagus untuk diingat dan dikatakan dimuka umum.

"Marc... Untuk surat pergantian nama dan marga kau saja yang urus. Untuk kedepannya ubah saja dari Vittorio Dante de Lobis menjadi Vittorio de Moliso. Agar suatu saat dia bisa berguna juga untukmu" Jelas Marquis Alonso kepada pedagang budak.

Pedagang budak sangat senang dengan perkataan barusan. Bukan hanya keuntungan uang yang berlipat ganda kini ia dapatkan tapi sebuah keuntungan jangka panjang apabila Alfonso bisa meraih kesuksesan dan ia bisa mengambil banyak keuntungan untuk itu.

"Baiklah sebagai awal dari kau menjadi anak tiriku. Aku ingin kau bersumpah setia padaku dan keturunanku" Pinta sang Marquis Alonso kepada Alfonso

Aku terheran bagaimana caranya. Nampaknya Marquis Alonso memahami bahwa aku kebingungan.

"Ucapkan saja ini. Aku Vittorio Dante de Lobis mengubah nama menjadi Vittorio de Moliso sebagai sumpah setia pada marga Moliso dan Marquis Alonso sebagai ayah angkatku" Jelas Marquis Alonso.

Alfonso mulai memahami apa yang harus ia katakan.

"Aku Vittorio Dante de Lobis mengganti nama menjadi Vittorio de Moliso sebagai tanda sumpah setia pada Marquis Alonso de Moliso sebagai ayah angkat dan bersumpah setia kepada seluruh keturunan Moliso dimasa lalu dan masa yang akan datang. Jika aku berkhianat aku siap menawarkan kepalaku untuk bayaran pengkhianatanki" Alfonso mengatakan apa yang tadi Marquis Alonso katakan dengan mengubah beberapa kata.

Mendengar sumpah yang baru saja diucapkan Marquis Alonso terlihat sangat senang dengan hal itu. Kata-kata tambahan yang Alfonso tambahkan rupanya memberikan efek tertentu pada Marquis Alonso.

"Baiklah... Lupakan namamu sebagai Alfonso dan sekarang kau resmi sebagai Vittorio de Moliso anak angkat dari menteri perdagangan Marquis Alonso de Moliso" Jelas Marquis Alonso kepada Vittorio

Vittoria menganggukkan kepalanya sebagai tanda bila ia mengerti.

...

Wajah Marquis Alonso sangat berapi-api dengan apa yang baru saja terjadi. Disisi lain Vittorio masih keheranan dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia hanya berharap semoga tidak terjadi kekacauan sebagaimana yang sering terjadi padanya setiap saat dan waktu.

Vittoria hanya berharap bila hidupnya berubah menjadi lebih baik...