Seperti suara benturan benda keras ketika Ki Barna mengayunkan golok ke tangan Andini, hingga golok itu patah menjadi dua....
Traak!
Andini melongo tidak percaya, tubuhnya masih gemetar karena ketakutan.
"Kamu berhasil, cu. Ilmu itu telah menyatu dengan tubuhmu. Aki harap kamu bisa menjaganya dengan tidak melanggar pantangannya," ucap Ki Barna.
"Apa pantangannya, Ki?" tanya Andini.
"Jangan melakukan perbuatan yang dimurkai Allah," jawab Ki Barna dengan tatapan sendu ke arah Andini. Mungkin waktu sudah tidak lama lagi baginya; dia terlihat sangat lelah. "Aki minta, setelah tiada nanti, makamkan Aki di dekat Nini Buyutmu," lanjutnya pada cucu buyut kesayangannya itu. Andini hanya bisa tertunduk dengan mata berkaca-kaca karena sedih.
Andini mengangkat wajahnya dan kok menatap Ki Barna dengan raut ko wajah penuh kesedihan. "Aki nggak boleh ngomong gitu. Umur orang tidak ada yang tahu," ujarnya.
Ki Barna terkekeh dan mengusap-usap kepala cucunya. "Aki sudah sangat tua, Andini. Hampir seratus tahun. Aki sudah sangat lelah. Semua jurus dan ilmu Aki sudah turunkan padamu, jadi aki sudah tenang. Lagi pula kamu sudah besar, tidak mungkin selalu bersama Aki terus. Kamu harus melanjutkan hidupmu," ucap Ki Barna sambil sedikit terbatuk-batuk.
"Ya, sudah. Aki istirahat saja di kamar, biar Andini buat teh hangat dulu," kata Andini sambil menuntun Ki Barna ke kamar tidurnya.
"Tolong, buat juga makanan kesukaan Aki. Aki ingin makan yang enak-enak sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa," pinta Ki Barna. Andini hanya mengangguk dengan wajah sedih lalu melanjutkan langkahnya ke dapur.
Sebelum memasak nasi liwet, Andini membuat teh hangat terlebih dahulu dan mengantarkannya ke kamar Ki Barna. Setelah itu, dia kembali ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Ki Barna: nasi liwet dengan sambal terasi, lalapan segar, dan ayam goreng.
Setelah semua siap, Andini menyajikannya di atas karpet ruang tengah lalu memanggil Ki Barna. "Ki, ayo makan. Mumpung nasinya masih hangat," ujarnya.
Ki Barna mengangguk dan mengikuti langkah Andini. "Wah, pasti enak sekali ya," ucapnya sambil terkekeh dan mengusap perut yang sudah keroncongan.
"Iya dong, Ki. Siapa yang masaknya kalau bukan aku? Pasti enak lah," jawab Andini dengan percaya diri.
Keduanya makan dengan lahap. Tak terasa, Ki Barna bahkan menambah nasi dua kali lipat. Andini hanya bisa geleng-geleng kepala—ternyata Ki Barna masih bisa makan banyak kalau menemukan makanan kesukaannya. Setelah selesai, Ki Barna bersendawa berkali-kali lalu memegang perutnya yang sudah membuncit.
"Rasanya pengen nambah lagi, tapi aki sudah tidak kuat," katanya. Andini hanya bisa menanggapi dengan senyuman lembut.
"Tidurlah, cu. Udah malam," ujar Ki Barna.
"Iya, Ki," jawab Andini. Dia kemudian membersihkan piring dan menyimpan sisa makanan yang belum habis sebelum masuk kamar tidurnya sendiri.
Menjelang subuh, Andini terbangun untuk menjalankan ibadah shalat Subuh. Setelah selesai shalat, dia merebus air untuk membuat teh hangat bagi dirinya dan Ki Barna.
"Ki, bangun," ucap Andini sambil sedikit menggoyangkan tubuh Ki Barna. Namun Ki Barna tidak merespon sama sekali. Akhirnya, Andini memutuskan untuk tidak memaksanya karena tidak tega melihatnya lelah.
"Andini...," panggil Ki Barna dengan suara lembut ketika Andini hendak keluar kamar. Andini menoleh dan melihat Ki Barna yang masih bergelung di bawah selimut, matanya sedikit terbuka.
"Iya, Ki. Mau dimasakkan apa? Nanti Andini bantu wudhu ya," ajak Andini.
Tapi Ki Barna hanya menggeleng. "Tidak, Andin. Aki cukup tayamum saja. Sepertinya aki sudah tidak kuat untuk berjalan jauh," ujarnya.
"Hmm, ya sudah. Andini masak dulu ya, Ki," katanya. Ki Barna mengangguk, dan Andini pun kembali ke dapur untuk memasak.
Tepat jam tujuh pagi, Andini selesai memasak. Dia memutuskan untuk membersihkan rumah dulu dan kemudian mandi sebelum memanggil Ki Barna untuk sarapan.
Setelah rumah terlihat rapi, Andini masuk kamar Ki Barna untuk mengajaknya sarapan bersama. Namun begitu memasuki kamar, dia melihat Ki Barna dalam keadaan sujud. Dan setelah diperhatikan beberapa saat, tidak ada sedikit pun gerakan dari tubuh Ki Barna.
Perasaan tidak enak menyelimuti Andini. Pikirannya penuh dengan prasangka buruk tentang apa yang mungkin terjadi pada Ki Barna. Perlahan-lahan dia mendekat, memegang pundak Ki Barna, lalu memanggil dan menggoyangkannya perlahan. Namun tidak ada respon sama sekali, hingga tubuh Ki Barna akhirnya roboh ke lantai.
Kecemasan Andini semakin bertambah. Dia segera memeriksa nadi dan dada Ki Barna, namun sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Air mata Andini pun menetes deras di pipinya. Dia menggendong tubuh renta Ki Barna yang telah ditinggalkan rohnya untuk kembali kepada Sang Pencipta.
"Jangan tinggalkan Andini, Ki... Andini masih butuh Aki," ucap Andini di antara isak tangisnya.
Perlahan Andini bangkit dan mencari kain untuk menutupi jasad Ki Barna sebelum keluar untuk memberitahu warga sekitar dan keluarga.
Setelah shalat Dzuhur, jenazah Ki Barna telah selesai dimakamkan. Para pelayat pun telah kembali ke rumah masing-masing, termasuk keluarga yang datang dari jauh. Kini yang tersisa hanya Andini, ibunya Bu Savia, adiknya, dan sahabatnya.
"Udah, Neng. Ikhlasin saja AKi Buyutmu. Biar dia tenang di sana," ucap Bu Savia sambil menepuk bahu anak gadisnya untuk menghiburnya agar tidak terus terbenam dalam kesedihan.
"Iya, Bu," jawab Andini dengan suara pelan. Dia perlahan berdiri dan sekali lagi memandangi makam Ki Barna sebelum beranjak pergi.
"Andini pamit, Ki... Semoga Aki bahagia di sana bersama Nini," ucapnya dengan lembut.
Mereka pun akhirnya pulang untuk mempersiapkan acara tahlilan sehari meninggalnya Ki Barna. Rencana tahlilan akan diadakan di rumah Bu Savia karena banyak kerabat yang tinggal di kampungnya.
"Udah, Andin. Jangan sedih terus ya. Aku tahu apa yang kamu rasakan, karena aku juga merasakan hal yang sama. Namun bagaimana pun, kita sudah banyak menghabiskan waktu bersama Aki," ucap seorang gadis yang tidak lain adalah Alisa—sahabat dekat Andini sekaligus teman berlatih bela diri di tempat Ki Barna. Meski tidak sehebat Andini, kemampuan bela diri Alisa tidak bisa dianggap remeh.
"Eh, nggak kok. Ya sudah, yuk kita ke pasar. Mumpung masih banyak waktu," ajak Andini.
"Nah, gitu dong semangatnya!" ucap Slisa sambil tersenyum. Keduanya kemudian naik motor matic dengan Alisa yang mengemudi.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di pasar. Tanpa membuang waktu, Andini segera membeli semua bahan yang dibutuhkan hingga akhirnya mereka membawa banyak belanjaan.
"Duh, kayaknya nggak muat deh, Andin. Kita harus cari tukang ojek untuk bantu bawa belanjaan kita," ujar Alisa.
"Iya deh. Tapi kita makan bakso dulu yuk. Lihat, disana ada kedainya," kata Andini sambil menunjuk ke arah kedai bakso yang masih buka.
"Udah lama nggak makan bakso, pasti enak banget, Lis," ucap Andini.
"Iya, aku juga sudah lama nggak makan. Pasti sangat enak deh!" jawab Alisa sambil terkekeh.
Keduanya segera memasuki kedai bakso dan memesan sesuai selera masing-masing. Banyak orang yang melihat Andini dengan mata tak berkedip, namun ndini cuek saja dan bahkan duduk dengan mengangkat salah satu kakinya ke kursi. Tindakannya sungguh jauh dari kata anggun.
Setelah beberapa saat menunggu, pesanan mereka pun datang. Tanpa berlama-lama, keduanya menikmati baksonya hingga habis. Setelah membayar, Andini dan Alisa keluar untuk mencari tukang ojek yang bisa membantu membawa belanjaan mereka.
Namun saat Andini hendak memanggil tukang ojek yang lewat, seorang nenek dengan tubuh yang gemetar menghalangi tangannya.
"Nenek siapa?" tanya Andini dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
