Cherreads

UNTitled,Andra_Djunaidi1772137407

Andra_Djunaidi
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
28
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - langit itu berwarna merah

Langit

itu berwarna merah

Gadis

itu masih masih berlari, terus berlari bagaikan anjing yang kemalaman pulang.

Dan memang, di kala itu malam telah datang. Hujan renyai yang turun semenjak

sore tadi, yang semula hanya rintikan-rintikan kecil. Kini semakin deras

seiring meningginya malam. Sesekali Kilatan petir dengan garang

menyambar-nyambar di tengati kegelapan angkasa.

Gadis

itu kedinginan. Namun dia tetap berlari. Nafasnya terengah-engah. Tak jarang ia

terjatuh dan tersungkur dalam kubangan lumpur. Namun ia tak punya pilihan, ia

terus bangkit dan kembali berlari menembus kegelapan malam. Hingga ketika la

kelelahan, sangat kelelahan dan tak lagi mampu untuk berlari, la mulai berjalan.

Langkahnya mulai limbung dan gontai. Kedua matanya berkunang-kunang. la merasa

ingin pingsan. Namun sebelum hal itu terjadi, dari belakang sepasang tangan

kekar membekap mulutnya.

***

Sore

itu, semuanya tampak terlihat baik-baik saja. Sorot mentari yang hendak pulang

ke peraduan tampak begitu indah bersemarak memantulkan semburat jingga

berpendar keemasan menyemai langit. Membuat siapa pun merasa damai dan tentram

memandangnya. Harusnya begitu. Namun sebelum senja benar-benar sirna, sebelum

malam benar-benar membentang, sekonyong-konyong kabut hitam membumbung tinggi

menutupi angkasa, seakan hendak menyaingi kemegahan sang senja.

Itu

adalah asap kebakaran.

Suasana

berubah seketika. Teriakan terdengar berpijar di mana-mana. Desingan peluru

yang dimuntahkan senapan penjajah meningkahi hari yang nahas itu.

Para

penduduk berhambur keluar untuk melarikan diri. Di antara mereka yang masih

lajang lari tunggang-langgang lebih kalap dari mereka yang telah berkeluarga.

Semuanya lari kecuali para pemuda yang cukup bernyali untuk maju melawan. Semua

yang bisa dijadikan senjata dikeluarkan. Mulai dari keris, golok, cangkul

hingga sebatas bambu runcing pun mereka gunakan.

Dalam

sekejap pedukuhan tampak kacau balau, darah berceceran di mana-mana.

Pertempuran yang jelas tidak seimbang. Para pribumi tak ubah layaknya se-gerombolan

domba yang hendak menyerahkan nyawa di tangan para penjagal.

Saat

kegaduhan terjadi, Rahmat yang baru saja pulang seusai memimpin jema'at di

dekat alun-alun langsung bergegas pulang menuju rumahnya. Dan alangkah

terkejutnya ia ketika mendapati banyak rumah terbakar, harta benda dijarah, dan

para perempuan muda dijadikan tawanan. Ia tak mengerti apa gerangan yang

membuat desanya dinerakakan seperti itu. Hingga ia melihat seorang di antara

mereka yang nampak sebagai pemimpin pasukan mengacungkan senapan laras panjang

ke langit.

"Dor!

dor! dor!"

Seketika

pertempuran berhenti. Pandangan semua orang tertuju pada lelaki itu.

"Hei

kalian para pribumi! Hentikan perlawanan kalian yang sia sia. Kami telah

mendapatkan informasi bahwa di desa ini terdapat gerakan pembelot atas

kekuasaan bangsa kami yang kini berdaulat!" ucapnya dengan nada tinggi dan

dingin, terkesan merendahkan.

"Jika

di antara kalian dapat menangkap hidup-hidup pemimpin pemberontakan yang

bersembunyi di sini, maka akan kubebaskan ia dari kenistaan dan akan kuberikan ia

jabatan yang tinggi di sisiku."

Setelah

berkata demikian, la lantas memberi isyarat pada pasukannya untuk melucuti para

pribumi dan menawan mereka termasuk para gadis dan anak-anak untuk dibawa ke

bangsal militer.

***

"Dimana

Kinara!?" tanya Rahmat pada Sarah, istrinya.

"la

kusuruh lari ke hutan untuk mengabarkan kondisi ini pada pasukan gerilya." Ujar

Sarah sembari menatap lamat-lamat mata suaminya.

Rahmat

terbelalak. 

Kenapa

harus dia!? bukankah banyak pemuda di desa yang bisa melakukannya?" seloroh

rahmat sembari menekan suaranya.

"Kinara

masih kecil, ia bisa menyelinap dan kabur dengan mudah. Dia juga lebih aman

bersama mereka... Aku tak ingin Kinara tertawan seperti kita dan dijadikan

gundik di kemudian hari." Ucap Sarah sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Rahmat

terkesiap.

"Tidak,

Kinara Lebih berharga dari itu." tukasnya lirih.

***

Suasana

mencekam menyelimuti ruang bangsal. Para pribumi termasuk Rahmat dan istrinya

menjadi pesakitan yang menunggu giliran tiba untuk masuk ke ruang interogasi.

Tak jarang terdengar suara sabetan rotan diikuti teriakan dan rintihan dari

dalam ruangan.

Mereka

berdua tak henti berdo'a agar Kinara, putri semata wayangnya tak tertangkap

oleh kompeni. Hingga ketika giliran mereka tiba, mendadak datang seorang kadet

membawa seorang gadis kecil.

Rahmat

dan istrinya terlonjak kaget, hal yang dikhawatirkan pada akhirnya terjadi

juga. Gadis itu basah kuyup. Pakaian yang ia kenakan penuh dengan lumpur. Kaki

dan tangannya diikat. Mulutnya juga dibekap. la diseret begitu saja oleh si

kadet.

Melihat

dua pesakitan di hadapannya terkejut, sang komandan tersenyum. Tidak, ia menyeringai.

Rahmat

dan istrinya langsung bersimpuh.

"Tolong

jangan sakiti putri kami Tuan. Dia masih kecil. Dia adalah putri tunggal kami.

Kumohon lepaskanlah dia. Tuan boleh melakukan apa pun padaku. Tapi tolong

biarkan istri dan anakku bebas." Pinta Rahmat memelas. la semakin mengeratkan

pelukanya pada kaki si komandan.

Lelaki

itu tertawa. lantas mengenyahkan tangan Rahmat dari kakinya dan menendang

Rahmat tepat diwajahnya.

"Dukk!!!"

 Pesakitan itu tersungkur.

"Singkirkan

tangan kotormu, keparat! Kau mengotori pakaianku." Hardiknya.

Gurat

wajah Sarah menegang. Ia yang semenjak tadi hanya diam mematung, kini langsung

beringsut sujud sembari menggelayuti kaki sang komandan untuk memelas menggantikan

suaminya.

Air

matanya berjatuhan.

Lelaki

angkuh itu kembali menyeringal. la menggamit dagu Sarah dan menatapnya

lekat-lekat. Pandangan matanya terlihat menyimpan sesuatu.

"Baiklah,

tapi ini belum cukup." Ujarnya lirih.

Rahmat

yang tersungkur seketika menengadah.

"Berbahagialah

karena aku masih sudi bermurah hati! aku akan menjamin keselamatan putri

kecilmu dengan satu syarat."

***

Waktu

terus melaju menembus dan menyibak tangan takdir. Tak peduli kau suka atau

tidak, waktu akan terus berputar. Terlepas dari itu, karna waktu adalah

gabungan massa dan frekuensi yang akan melebur menjadi suatu esensi yang

darinya terlahirlah harapan, penyesalan dan kenangan, lantas daripada itu...

"Blarrr!!!"

Kobaran

api terlihat membumbung tinggi meluluhlantakkan apa pun yang dilaluinya.

"Bangun!

Bangun!"

"Kita

diserang!"

"Cepat

padamkan apinya!"

Kepanikan

terjadi.

"Ketua,

gudang persenjataan bambu runcing kita terbakar!"

"Ini

buruk, rerumpunan pohon bambu di sekitar jurang juga telah terbakar!" ujar yang

lain.

Mendengar

itu semuanya terhenyak. Mereka tercenung memandang kobaran api yang tak kunjung

padam. Gurat keputusasaan jelas terpampang dari wajah mereka.

***

"Makanlah

Kinara..." ujar sarah sembari mengarahkan sesuap bubur pada mulut putrinya.

Gadis

itu menggeleng.

"Kamu

harus makan supaya cepat sembuh, Sayang" Bujuk sang ibu.

"Ibu

bohong! Katanya sebentar lagi ayah pulang?"

"Iya,

sebentar lagi ayah juga akan pulang, Kinara. Nah, sekarang kamu makan dulu, ya."

Ujar sang ibu sambil kembali mendekatkan sendok ke mulut putrinya.

"Tapi

kapan Bu? sudah satu bulan Ayah belum pulang."

***

14 Februari

1945

Pemberontakan

PETA berkobar. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Bumi Nusantara banjir darah.

Korban berjatuhan tak hanya dari kalangan tentara Jepang dan pribumi, melainkan

mereka yang masih ketahuan memiliki darah keturunan Belanda juga tak luput dari

tragedi berdarah itu. Para tentara Jepang yang berhasil melumpuhkan titik-titik

strategis terus merangsek maju seolah ingin menyapu bersih bumi Jawa dari

mahluk hidup.

Sementara

itu, di sisi lain, tampak seorang lelaki terlihat tengah dihajar habis-habisan

oleh pasukan gerilya karena ketahuan telah membakar persediaan rumpun bambu dan

gudang persenjataan. Termasuk puluhan bambu runcing yang ditanam dengan kondisi

berdiri di dalam parit untuk jebakan.

Sebenarnya

ia hendak lari setelah melakukan aksinya. Namun malang tak dapat dihindari.

Kaki sebelah kirinya tertembak dalam pengejaran. Ia hanya bisa pasrah menerima

tendangan dan pukulan bertubi-tubi dari mereka. hingga aku datang dan terkejut

mendapati pengkhianat itu adalah seseorang yang kukenal dengan baik. Seketika

aku melompat dan melerai mereka. Kucengkeram erat-erat kerah bajunya, la

tersenyum.

"Hei...

Apa maksud semua ini, Mat!?"

"Zak...

tolong jaga Kinara untukku." Suaranya bergetar. Air-matanya meleleh.

"Apa

maksudmu?"

Rahmat

meletakkan tangannya di bahuku. la meremasnya kuat.

"Aku

dijebak, keluargaku ditangkap. Mereka hendak menjadikan istri dan anakku

sebagai gundik." Rahmat menghentikan kata-katanya. Ia terbatuk-batuk, batuk

yang sangat dalam. Darahnya mengenai wajahku.

Hatiku

remuk redam. Iba sekaligus tak menyangka dengan kejadian yang menimpa dirinya.

Sorot

cahaya dari matanya memudar. Rahmat lalu menghirup nafas dalam-dalam. Aku

semakin mengeratkan rengkuhanku pada tubuhnya.

"Rozak...

Jaga baik-baik dirimu."

"Ze

willen jou....."

Belum

sempat Rahmat meneruskan kata-katanya, sebuah peluru tepat melayang mengenai

kepalanya.

"Dorrr!!!"

Aku

terbelalak dan menoleh ke belakang. Membaringkan tubuh Rahmat yang tak lagi

bernyawa ke tanah. Lantas berjalan menghampiri Sidin.

"Apa

yang kau lakukan!? Bukankah dia sudah tak berdaya?! Dia tak melakukan

perlawanan apa pun!" Ucapku setengah berteriak.

"Ketua

terlalu lembut padanya. Dia adalah pengkhianat. Sudah Jelas-jelas dia telah

berusaha membunuh kita dengan membakar seluruh persediaan senjata. Ini adalah

hukuman yang pantas untuknya, Ketua.

"BUKAN

KAU YANG MEMBERI KEPUTUSAN DI SINI, KEPARAT! DIA DIJEBAK! DIA HANYA INGIN

KELUARGANYA SELAMAT DARI TAWANAN KOMPENI!"

Belum

sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Tiba-tiba terdengar suara tembakan

bertalu-talu.

"Dor!

Dor! Dor!"

"Ketua!

Ketua! Tentara Jepang telah datang!"

Keadaan

berubah menjadi semakin pelik. Tentara Jepang tak memberikan belas kasih sama

sekali. Semua pasukan gerilya, yang tak semua memiliki senjata, satu- persatu

mulai roboh terkena tembakan mereka. Darah bercucuran. Kobaran api membumbung

menjilati langit malam.

***

Sarah

merasa sesuatu tengah terjadi. Firasatnya tak enak. la semakin mengeratkan

pelukannya pada Kinara sambil terus-menerus memandangi langit malam.

Kinara

menengadah.

Matanya

tak henti-hentinya menatap angkasa. Lalu dengan polosnya ia tersenyum. la

mengangkat jemari kecilnya yang lentik ke atas langit, lantas berujar...

"Ibu...

langit itu berwarna merah."

*Ze willen jou, (mereka menginginkanmu)

***

Onderdrukking

laat bloed en tranen achter.

(Penindasan

meninggalkan darah dan air mata.)

Waar

onrecht heerst, vloeien bloed en tranen.

(Di

mana ketidakadilan berkuasa, darah dan air mata mengalir.)

Uit

onderdrukking worden bloed en tranen geboren.

(Dari

penindasan lahir darah dan air mata.)

Bloed

op de grond, tranen in stilte.

(Darah

di tanah, air mata dalam diam.)

Geen

vrijheid zonder bloed en tranen.

(Tak

ada kebebasan tanpa darah dan air mata.)