Cherreads

Chapter 12 - Chapter 12 — Kali Ini Aku Memilih

Sekolah lagi rame karena persiapan acara. Semua orang sibuk. Musik latihan kedengeran dari aula. Tapi di tengah keramaian itu, tiga orang lagi berdiri di titik yang sunyi banget.

Maya yang minta ketemu.

Di taman belakang. Tempat yang dulu jadi saksi Rafi nunggu terlalu lama.

Rafi dateng duluan. Tangannya dingin. Bukan karena ragu… tapi karena dia tau setelah hari ini, nggak ada lagi ruang buat setengah-setengah.

Maya datang beberapa menit kemudian. Wajahnya lebih kurus. Matanya sembab, tapi dia berusaha keliatan kuat.

"Aku cuma mau satu jawaban," katanya pelan.

Rafi nggak duduk. Dia tetap berdiri.

"Aku nggak mau gantung," lanjut Maya. "Kalau emang udah selesai, bilang selesai. Jangan setengah-setengah baik."

Kalimat itu nusuk. Karena dulu dia yang bikin Rafi setengah-setengah.

Rafi tarik napas pelan.

"Aku pernah nunggu kamu," katanya. "Dan waktu itu aku siap milih kamu kapan pun."

Maya nunduk.

"Tapi sekarang aku nggak bisa balik cuma karena kamu baru sadar."

Air mata Maya langsung jatuh. Tapi dia nggak motong.

Rafi lanjut, suaranya tenang tapi tegas, "Aku nggak mau kamu milih aku karena takut kehilangan. Dan aku juga nggak mau ninggalin orang yang milih aku dari awal."

Nama itu nggak perlu disebut.

Tapi Maya tau.

"Nadira?" suaranya pecah.

Rafi angguk kecil.

"Iya. Aku milih dia."

Nggak ada jeda.

Nggak ada ragu.

Kalimat itu jelas.

Dan justru karena jelas… rasanya makin kejam.

Maya nutup mulutnya sendiri, nahan suara yang hampir keluar. Dadanya naik turun nggak teratur.

"Berarti… selama ini aku telat ya?"

Rafi nggak jawab cepat.

"Iya."

Satu kata.

Jujur.

Maya ketawa kecil, tapi nggak ada bahagia di situ. "Lucu ya. Waktu kamu nunggu aku, aku nggak liat. Waktu aku nunggu kamu, kamu udah nggak ada."

Rafi pengen bilang maaf.

Tapi dia tau maaf nggak bakal ngubah apa-apa.

"Aku nggak benci kamu," katanya pelan. "Aku cuma nggak bisa jadi tempat yang sama lagi."

Maya angguk. Air matanya jatuh terus.

Dan untuk pertama kalinya, dia ngerasain persis apa yang dulu Rafi rasain.

Nunggu.

Berharap.

Tapi nggak dipilih.

Beberapa meter dari sana, Nadira berdiri. Bukan nguping. Dia cuma nunggu.

Dia nggak tau hasilnya apa.

Yang dia tau, kalau Rafi balik ke Maya, dia bakal mundur tanpa ribut.

Karena cinta yang dipaksa itu capek.

Rafi jalan ke arahnya.

Langkahnya nggak cepat. Tapi pasti.

Nadira liat matanya duluan.

Dan dia langsung tau.

"Kamu milih?" Nadira tanya pelan.

Rafi berhenti tepat di depannya.

"Iya."

"Dan?"

Rafi nggak banyak kata.

"Aku milih kamu."

Nadira nggak langsung senyum. Dia cuma liat Rafi lama, kayak mastiin itu bukan karena kasihan.

"Bukan karena dia nolak kamu lagi kan?" suaranya kecil.

Rafi geleng. "Bukan. Aku milih kamu karena kamu ada waktu aku hancur. Karena kamu nggak pernah bikin aku ngerasa harus jadi orang lain. Dan karena kalau aku balik sekarang… itu cuma bakal nyakitin semua orang."

Sunyi sebentar.

Lalu Nadira senyum. Tipis, tapi hangat.

"Aku nggak janji semuanya gampang," katanya.

"Aku juga nggak."

"Tapi kita jalanin yang bener."

Rafi angguk.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, dia ngerasa nggak lagi berdiri di dua arah.

Dia milih.

Dengan sadar.

Di sisi lain, Maya duduk sendirian di taman yang mulai sepi.

Tangannya gemetar, tapi perlahan dia berhenti nangis.

Sakitnya nyata banget.

Tapi di antara rasa sakit itu, ada satu hal yang juga nyata—

Dia nggak bisa nyalahin siapa-siapa.

Rafi cuma berhenti jadi orang yang selalu ada.

Dan sekarang… dia yang harus belajar ngelepas.

Cerita ini nggak punya pahlawan.

Cuma tiga orang yang sama-sama pernah salah waktu.

Rafi akhirnya dipilih.

Nadira akhirnya nggak cuma jadi jeda.

Dan Maya…

harus belajar hidup dengan kata yang paling sederhana tapi paling berat—

Terlambat.

More Chapters