Rumah besar di kawasan Hannam-dong itu selalu terasa dingin, meski penghangat ruangan disetel ke suhu maksimal. Kang Han-eol duduk sendirian di ujung meja mahoni yang panjang. Di depannya, sebuah kue ulang tahun kecil dengan satu lilin yang hampir habis terbakar.
Hari ini dia genap berusia 60 tahun.
Istrinya, Choi Ji-soo, pewaris dari Daehan Group, mengirim pesan singkat tiga hari lalu: "Aku butuh ketenangan di vila Jeju. Jangan menelepon."
Kedua anaknya, Si-woo dan Seo-yeon, bahkan tidak mengirim pesan. Han-eol tahu di mana mereka. Melalui unggahan media sosial, dia melihat mereka sedang merayakan pesta di sebuah restoran mewah. Di tengah foto itu, bukan Han-eol yang merangkul bahu mereka, melainkan Park Do-jun, sahabat lamanya sekaligus tangan kanan istrinya.
"Selamat ulang tahun, Paman Do-jun! Terima kasih sudah selalu ada untuk kami," tulis caption di foto itu.
Han-eol tersenyum getir. Air mata yang sudah kering bertahun-tahun lalu kini tak mampu lagi menetes. Dia ingat saat Si-woo masih SD, anak itu pernah membentaknya hanya karena Han-eol melarangnya bermain game hingga larut.
"Kenapa Ayah mengaturku?! Paman Do-jun saja membolehkan! Ayah hanya orang asing yang numpang di rumah Ibu!"
Kata-kata itu adalah belati yang tertancap permanen di jantungnya. Han-eol hanyalah "suami bisnis". Pion yang digunakan Ji-soo untuk mengamankan takhta perusahaan, lalu dibuang ke sudut gelap setelah fungsinya usai.
Malam itu, dalam kesunyian yang mencekam, dada Han-eol terasa sesak. Serangan jantung. Dia ambruk dari kursinya, tangannya menggapai udara kosong. Tidak ada yang datang. Tidak ada pelayan, tidak ada istri, tidak ada anak.
Dia mati sebagai hantu di rumahnya sendiri.
