Dua tahun berlalu. Han-eol sekarang berada di sebuah desa kecil di pesisir Italia, bekerja paruh waktu di sebuah kebun anggur milik warga lokal hanya karena dia ingin belajar cara membuat wine.
Suatu sore, saat dia sedang mengangkut keranjang anggur dengan kaos dalam yang penuh keringat dan topi jerami yang miring, sebuah mobil mewah berhenti di dekat kebun.
Pintu mobil terbuka. Seorang wanita dengan kacamata hitam besar keluar. Itu adalah Ji-soo. Dia tampak jauh lebih tua, wajahnya kusam oleh stres.
Ji-soo mematung melihat pria di depannya. Pria yang dulu selalu memakai jas custom-made seharga ribuan dolar, kini sedang tertawa sambil mengelap keringat dengan handuk kumal di lehernya.
"Han-eol...?" suara Ji-soo bergetar.
Han-eol menoleh, menyipitkan mata karena sinar matahari. Dia terdiam sejenak, lalu senyumnya mengembang—bukan senyum benci, tapi senyum kepada orang asing.
"Oh, Ji-soo. Halo," sapa Han-eol santai. "Kau mau beli anggur? Sayang sekali, stok hari ini sudah habis dipesan untuk festival desa."
Ji-soo gemetar. "Han-eol, tolong... rumah hancur tanpa kau. Do-jun mengkhianati kita, anak-anak merindukanmu. Si-woo terus mengurung diri di kamar. Kembalilah..."
Han-eol meletakkan keranjang anggurnya. Dia mendekat, tapi tetap menjaga jarak.
"Ji-soo, kau tahu apa yang paling lucu?" Han-eol tertawa kecil. "Dulu, aku pikir duniaku adalah kau dan anak-anak. Tapi setelah aku pergi, aku baru sadar... duniaku ternyata adalah jalanan Italia ini, tawa teman-temanku di hostel, dan rasa lelah setelah bekerja di kebun."
"Aku tidak punya rumah di Korea, Ji-soo. Rumahku ada di dalam tas punggungku sekarang."
