Cherreads

Akulah Yang Membawamu Kedalam Lubang Neraka

Si_Manisss
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
211
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - Awal Mula Dari Kehancuran

Kedua mataku menatap gundukan tanah basah berwarna kecokelatan itu. Aroma beberapa bunga yang tersebar rata di atasnya begitu menguar hingga menusuk kedalam hidungku.

Aku tidak tahu.

Dari awal, kejadian ini begitu cepat bagiku. Baru beberapa jam yang lalu Papa melayangkan sebuah pukulan bahkan umpatan kasar terhadap Mama, tubuh tegap itu kini terbaring tak bernyawa di bawah tumpukan tanah. Terkubur rapat dan entah bisa keluar atau tidak. Namun itu semua tak sedikitpun membuatku menangis ataupun bersedih. Entah karena kepergian Papa sedikit membuatku lega karena pertengkaran mereka tidak mengganggu proses belajarku, yang pasti aku jauh lebih baik.

Tepat saat kedua mataku terangkat dan tak sengaja melihat dua pria tengah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri, kedua alisku menukik saking penasarannya kepada mereka. Sejak tibanya aku dan Mama disini, dua pria itu sudah ada disana—entah apa yang di buatnya. Tak ingin berlama-lama menatap, aku menurunkan pandangan lalu tanpa sengaja melihat Mamaku pura-pura mengusap air matanya.

Dia juga terlihat bahagia.

Aku menguap tanpa sadar. Rasa kantuk mulai menyerang saat menyadari semua orang mulai pergi dari area pemakaman. Aku bahkan tidak berniat memindahkan tubuhku untuk pergi karena Mama belum juga bangkit. Hingga beberapa menit berlalu, tanpa kusadari dua pria dengan setelan serba hitam itu sudah ada di depan mataku.

Aku mendongak, dan pandanganku jatuh pada sosok yang lebih tinggi dan lebih muda dari pria disebelah kirinya. Menyadari pergerakan dari Mama, aku mulai bergeser sedikit.

"Ikutlah bersamaku." Ujar pria yang sedikit lebih tua saat berbicara pada Mama. Kulihat Mamaku sempat melirik lalu mengangguk singkat. Tanpa pikir panjang menarik pergelangan tanganku sedikit kasar. Pria tua itu berbicara lagi dengan suara berat. "Akan ku bicarakan semuanya jika sudah sampai rumah."

"Mama … kita mau pergi kemana?" Aku sedikit mengekerut saat Mama malah balik memelototiku. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Perubahan Mama berubah sejak kematian Papa. Seolah perhatian lembut itu musnah dalam sekejap.

"Jangan berisik, dan ikuti saja perintah dari Mama."

"Tapi Ma-"

"Liliana…" Aku sedikit mengkeret kala jemari Mama mencengkeram lenganku kian erat. Tatapannya yang melembut tergantikan oleh sorot datar namun menusuk. Aku bertanya-tanya kenapa? Kenapa Mama berubah? "Akan ada banyak hal berubah dalam hidup, termasuk hubungan ini. Hubungan kita yang dulu campur aduk akan semakin menyesakkan kedepannya. Kau cukup patuh dan jangan protes apapun. Sebelum kau merasakan bagaimana sulitnya hidup di jalanan."

Aku tanpa sadar mengangguk dengan ekspresi takut. Kelopak mataku mengerjap beberapa kali saat menghalau air mataku yang nyaris jatuh ke tanah. Mama mulai memundurkan tubuhnya dan berjalan mengikuti dia pria itu. Aku pun berangsur pergi sebelum menoleh kembali pada gundukan tanah yang masih terlihat segar itu.

Didalam perjalanan, aku terdiam di mobil dengan pandangan fokus ke samping—tepatnya di luar jendela. Boneka di kedua tanganku ku peluk erat saat tak sengaja netraku bersitatap dengan iris abu milik pria itu.

Ya … pria yang lebih muda itu adalah putra dari seorang pria yang sempat berbicara pada Mamaku tadi di makam. Entah hal apa yang membuatku merasa aneh, namun jujur bahwa aku sebenarnya sudah pernah bertemu dengan pria itu. Saat Mama membawaku untuk pertama kalinya mengunjungi rumah besar milik mereka, dan pada saat itulah aku mengenalnya.

Namun aku tidak mengetahui namanya, dan tidak ingin mengenalnya sedikitpun. Menurutku, perubahan Mama di akibatkan oleh mereka berdua. Aku memilih mengalihkan pandangan dan tidak ingin melihat iris tajam itu. Karena hal itu sunggu membuatku ketakutan setengah mati!

Aku mendengus sebal.

Mama disebelahku hanya diam duduk sembari memfokuskan pandangannya ke depan. Mengabaikan ketakutan dan juga kekhawatiranku saat ini. Saat mobil sudah sampai, kedua mataku di suguhkan oleh bangunan yang nampak tak asing lagi bagiku. Rumah yang dulu sempat ku kunjungi untuk pertama kalinya, tak menyangka akan menjadi sarang selamanya bagiku. Ku lihat koper-koper sudah berada di luar saat aku turun dari mobil. Menatap mereka yang satu persatu mulai membawa barangku dan milik Mama ke dalam rumah. Kedua kakiku terasa berat kala mencoba masuk kedalam rumah itu. Hingga entah sengaja atau tidak, pria sialan itu malah berjalan dan menyenggol lenganku sedikit keras hingga membuat boneka di pelukanku terjatuh tanpa sadar.

Aku membelalakkan kedua mataku dan tak bisa berkata apa-apa. Apalagi saat pria itu sengaja melemparkan senyuman sinis ke arah bonekaku yang jatuh mengenaskan lalu beralih menatap kearahku. Aku marah! Dan juga sangat membencinya! Kenapa dia membawaku kesini jika dia saja membenciku? Aku memungut kembali boneka pemberian Mama dan membersihkan pasir yang ada di bulu-bulu bonekaku. Aku melangkahkan kaki dan masuk dengan perasaan jengkel.

****

Gadis itu mulai kesal padanya.

Zack tahu namun dirinya tidak akan berhenti untuk melakukannya. Sejak pertemuan pertama mereka tanpa sengaja setelah pulang dari kantor, Zack langsung terkesima oleh manik hazel terang milik gadis itu. Liliana … gadis yang berhasil mencuri waktu dan juga hatinya selama beberapa minggu ini. Tak disangka bahwa dirinya akan langsung di buat jatuh cinta oleh gadis kecil itu.

Dan lihatlah! Betapa bodohnya dia saat dirinya sengaja menyenggolnya hingga boneka itu terjatuh, kedua pupilnya melebar dan itu berhasil membuatnya terkesima lagi dan lagi. Zack tahu mungkin rencananya akan terbongkar suatu saat nanti. Namun, demi mencapai keinginannya, ia rela melakukan sesuatu hal yang mustahil. Bagaimana kedatangan Ibu dan anak itu ke rumah ini adalah murni dari rencananya. Sengaja mencuci otak sang Papa untuk menuruti semua keinginannya.

Zack tertawa dalam hati.

"Pastikan kau selalu menjaganya dan jangan sampai dia kabur dari rumah ini." Ujar Zack yang terdengar seperti perintah. Sang Papa, Aiden hanya bisa menghela nafas pasrah lalu melenggang pergi menuju kamar dan di ikuti oleh Martiana di belakangnya.

"Aiden, kau dengar itu? Bahkan putra satu-satumu saja sangat menggilai putriku. Kenapa kau sama sekali tidak melirikku?!" Martiana sengaja menghentakkan kaki saat Aiden selalu saja mengabaikannya. Padahal pria itu yang menyuruhnya untuk tinggal dirumah ini, dan sekarang lihatlah? bahkan pria itu masih saja mengabaikannya.

"Yang menginginkan kalian tinggal disini adalah dia, bukan diriku. Lagipula Zack bisa saja membiarkan putrimu tinggal disini dan kau yang akan terlempar diluaran sana."

Mendengar hal itu, Martiana jelas merasa tersinggung dan mendumel kesal. Namun wanita itu masih saja mengikutinya hingga masuk kedalam kamar. Sedangkan di lantai bawah, Zack masih duduk di sofa panjang dengan kepala menengadah ke atas. Ingatan saat dirinya bertemu kembali di pemakaman dengan Liliana, kembali muncul dan tanpa sadar mengundang decakan kagum. Gadis itu benar-benar berhasil merusak pikirannya.

Sang pengawak pribadi melangkah pelan saat Zack menyuruhnya untuk mendekat. Membisikkan sesuatu lalu pengawal pria itu mengangguk pelan, mengerti. Berjalan mundur lalu berbalik untuk pergi. Meninggalkan Zack yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Semuanya akan jauh lebih mudah kedepannya."