Cherreads

Chapter 17 - CHAPTER 17 CLARA IN RICARD'S OFFICE

Mereka memasuki lift VIP pribadi, yang melesat mulus ke lantai penthouse eksekutif.

David sudah menunggu di luar pintu kaca, wajahnya pucat dan tegang. Dia menatap Clara dengan rasa tidak percaya, tetapi dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun protes kepada atasannya.

"Pindahkan workstation kedua langsung ke kantor saya," perintah Richard kepada David tanpa mengurangi langkahnya saat ia memasuki kantornya yang luas, sebesar lapangan basket.

"Tuan, langsung ke dalam kantor pribadi Anda?" David tergagap, sepenuhnya yakin bahwa dia salah mendengar perintah tersebut.

"Apakah kamu tiba-tiba tuli, David?"

"Tidak, Pak. Segera, Pak."

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, sebuah meja mahoni berukuran sedang yang ramping ditempatkan dengan agresif di sudut terjauh ruangan, menghadap langsung ke meja eksekutif besar milik Richard.

Tidak ada sekat pembatas privasi. Sama sekali tidak ada kaca buram. Richard memiliki pandangan yang sepenuhnya tak terhalang dan seperti predator yang dapat langsung mengunci setiap gerakan Clara setiap saat.

Clara duduk di kursi kulit barunya. Kantor yang luas itu terasa sangat dingin. Jendela-jendela besar dari lantai hingga langit-langit menawarkan pemandangan panorama kota yang menakjubkan, tetapi Clara merasa seolah-olah dia telah diseret ke dasar laut, sama sekali kekurangan oksigen.

Richard dengan santai berjalan mendekat dan dengan kasar menjatuhkan tiga kotak kardus besar dan berat tepat di atas meja Clara. Kepulan debu kuno yang tipis membubung ke udara.

"Ini adalah buku besar keuangan fisik, yang belum didigitalisasi, dari salah satu anak perusahaan kami yang berasal dari tepat lima tahun yang lalu. Apex Technologies," kata Richard dengan lancar, sambil menyandarkan pinggulnya dengan santai di tepi mejanya.

Sekadar menyebut nama Apex saja sudah membuat detak jantung Clara melonjak tajam.

"Satu-satunya tanggung jawabmu adalah memasukkan setiap digit, setiap nama, dan setiap transaksi dari kotak-kotak usang ini ke dalam mainframe digital secara manual," lanjut Richard, dengan seringai sinis yang sangat merendahkan teruk di bibirnya. "Ini pekerjaan kasar yang membosankan, melelahkan, dan menyedihkan. Tapi ini akan memastikan tangan kecilmu tetap terlalu sibuk untuk mencuri rahasia perusahaan saya."

Dia tiba-tiba beranjak dari mejanya dan berjalan kembali ke kursinya sendiri, membuka laptopnya dan sama sekali mengabaikan keberadaannya.

Clara menarik napas dalam-dalam, gemetaran. Dia merobek kotak kardus pertama. Bau tajam dan menyengat dari kertas tua dan tinta kering menyerang hidungnya dengan agresif. Richard sengaja membebankannya pada pekerjaan manual yang melelahkan dan membosankan yang dirancang khusus untuk benar-benar menghancurkan daya tahan mentalnya. Dia sepenuhnya bermaksud agar Clara pingsan karena kelelahan.

Kau melakukan kesalahan besar dan fatal, Richard, pikir Clara dengan penuh kebencian. Kau baru saja memberiku akses langsung dan tanpa pengawasan ke arsip fisik.

Clara mulai mengetik.

Hour after agonizing hour crawled by in a heavy, suffocating silence. The aggressive, rhythmic clacking of her keyboard was the only sound in the massive room. Richard's dark eyes occasionally flicked up from his screen, lethally ensuring she hadn't opened a secondary browser or touched her new phone.

By late afternoon, a dull, throbbing ache began to violently assault Clara's lower back. Her eyes burned fiercely from staring at thousands of microscopic strings of digits.

She reached into the second box, pulling out the absolute last stack of papers.

But as she violently yanked a faded blue folder from the bottom, a remarkably thick, completely unlabeled document slipped out and fell heavily onto her lap.

This was not a financial ledger.

It was a highly classified, internal corporate memo.

Clara's brow furrowed in confusion. She carefully straightened the thick stack of papers and read the bold, capitalized title printed across the top.

SUBJECT TERMINATION PROTOCOL: SECTOR FOUR LABORATORY.

All the blood in Clara's veins instantly turned to solid ice.

Sector Four was the exact laboratory where her father had worked. It was the exact laboratory that had violently exploded five years ago.

Clara's eyes frantically scanned the dense, terrifying paragraphs.

Right in the dead center of the page, the document explicitly, coldly stated that the catastrophic explosion had absolutely not been an accident. It was a violently executed "forced sanitation procedure" initiated specifically because the lead researcher had explicitly refused to voluntarily surrender a highly classified pharmaceutical patent formula.

Clara's hands began to shake violently. All the oxygen was forcefully violently ripped from her lungs.

Her father had been murdered.

This document was the absolute, undeniable proof of premeditated, corporate assassination.

With her heart hammering brutally against her ribs, she frantically flipped to the very last page of the document, desperately hunting for the exact names of the executives who had authorized the hit.

There were exactly two official, legally binding signatures at the bottom of the page.

The first belonged to Howard Sterling.

And the second was a bold, aggressive, incredibly familiar signature. It was the exact same signature that was currently drying on her ten-million-dollar marriage certificate.

Richard Sterling.

This document was her father's literal death warrant. And her own husband had personally, legally authorized the assassination. An overwhelming, violent wave of nausea aggressively slammed into Clara's stomach.

Suddenly, a massive, imposing shadow completely blocked the sunlight streaming from the window.

Richard was standing directly in front of her desk, towering over her like a dark monolith. She hadn't even heard him get up from his chair.

His predatory eagle eyes stared straight down at the highly classified document she was currently clutching with violently trembling hands.

"Apakah kau menemukan sesuatu yang sangat menarik, Asisten?" bisik Richard. Suaranya benar-benar hampa, dingin membekukan, dan sangat mematikan.

More Chapters